Pengamat: Kebijakan Impor Daging Kerbau Beku Harus Dievaluasi

Ilustrasi Daging Sapi dan Kerbau. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 14 Januari 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Kebijakan impor daging kerbau beku dari India harus dievaluasi karena dinilai tidak terlalu signifikan dalam menurunkan harga daging sapi lokal. Penilaian itu disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi Ali Usman.

“Tata niaga harus dibenahi, jangan hanya melihat dari sisi konsumen tetapi dari sisi produsen peternak rakyat juga harus dilihat. Biaya pemeliharaan sapi masih tinggi, hingga soal rantai pasok fasilitas yang masih minim, sehingga harga daging sapi masih tinggi di konsumen akhir,” ujarnya.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya menjalankan berbagai program seperti Swasembada Daging Sapi Kerbau (PSDS) hingga teranyar Sikomandan (Sapi Kerbau Komoditas Andalan). Ali mengatakan meskipun upaya itu dilakukan untuk meningkatkan populasi, tetapi defisit daging sapi masih cukup tinggi sehingga Indonesia masih melakukan impor daging kerbau India dan daging sapi dari Brasil.

Upaya itu sudah lebih dari 10 tahun tetapi masih belum mampu menjawab tantangan neraca sapi potong yang kian defisit di tengah angka konsumsi relatif stagnan.

Ali mengusulkan, sistem informasi pangan dalam satu data terkait supply-demand daging sapi harus dibangun. Tidak hanya dari data produksi tetapi angka konsumsi di berbagai daerah sehingga pemerintah dapat mengetahui jumlah peternak dan ternaknya di tiap daerah.

Selain itu data biaya produksi dari pemeliharaan ternak, pasokan bahan baku pakan, penyediaan bibit hingga ke sistem rantai pasok. Sehingga data harga daging tersebut diterima konsumen terlihat secara transparan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Sesdit, PKH Kementan) Makmun mengatakan populasi sapi terbanyak di Jawa Timur 4,8 juta ekor, Jawa Tengah 1,8 juta ekor, NTB 1,2 juta ekor, Sulawesi Selatan 1,4 juta ekor dan NTT 1,1 ekor. Sedangkan partisipasi konsumsi masyarakat Indonesia relatif stagnan.

Perkembangan harga daging sapi terus meningkat di tahun 2021. Rata-rata harga daging sapi di tingkat produsen periode Januari 2017 - Januari 2022 cenderung mengalami peningkatan dari Rp41.861 - Rp49.570 per kg bobot hidup. Sementara rata-rata harga daging sapi di tingkat konsumen saat ini Rp118.900 per kg

Makmun menjelaskan perkembangan impor dari 2019 hingga 2021 jumlah penduduk meningkat dengan kebutuhan masih ada kekurangan. Dari tahun ke tahun neraca mengalami penurunan di mana impor setara daging di tahun 2022 yaitu sekitar 266.065 ton.

Sebenarnya produksi dalam negeri tumbuh pada 2019-2020 meningkat 0,10 persen kemudian 2020 ke 2021 tumbuh 4,56 persen dan 2021 ke 2022 tumbuh 3,13 persen.

Baca Juga: Pengamat: Kebijakan Impor Daging Kerbau Beku Harus Dievaluasi
Pemerintah Jamin Ketersediaan Produk Ternak

Selama ini, program Sikomandan untuk meningkatkan populasi dalam negeri tersebar di seluruh wilayah di Indonesia dengan menjaga sumber daya genetik. Namun untuk daerah yang dibuka dilakukan cross dengan jenis lain.

Dia berharap pada desa korporasi yang didesain pemerintah maupun stakeholder bisa didukung pembiayaan dan investasi yang berasal bukan hanya dari APBN dan APBD.

Video:

Video Terkait