Coletot, Kuliner Khas Jabar-Yogyakarta Kolaborasi

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. (Dok. Humas Jabar)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 1 Desember 2021 | 20:40 WIB

Sariagri - Kolaborasi Jawa Barat (Jabar)-Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta tidak hanya terjalin dalam sektor pariwisata dan kebudayaan, tetapi juga kuliner. Hal itu terwujud dalam perpaduan makanan khas Jabar, colenak, dan makanan khas Yogyakarta, gatot.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil menamakan makanan yang dibuat Chef Hardian Eko Nurseto tersebut Coletot. Coletot merupakan penggabungan colenak, khas Jabar dan gatot yang merupakan makanan khas Yogyakarta. Keunikan Coletot tak hanya dari segi rasa yang manis sedikit asam, tetapi juga tekstur yang kenyal.

Usai meresmikan Jabar Motekar: Pameran Ridwan Kamil dan Industri Kreatif Jabar di Jogja Museum Nasional, DI Yogyakarta, Rabu (1/12/2021), Kang Emil --sapaan Ridwan Kamil-- dan Ketua DPP PUTRI DI Yogyakarta, G.K.R Bendara mencicipi Coletot.

“Saya kasih nilai 9 untuk makanan ini. Ini hasil kolaborasi dua makanan khas daerah yang dieksekusi dengan baik. Rasa manisnya pas. Coletot ini lahir dari gabungan budaya Jabar dan Jawa. Rasa bintang lima, harga kaki lima,” kata Kang Emil.

G.K.R Bendara pun mengaku puas dengan hasil inovasi makanan bernama Coletot tersebut. Menurutnya, Coletot cocok dengan lidah orang Indonesia. “Saya kasih nilai 9,5 kalau ada porsi tambahan,” ucapnya sambil tertawa.

Kunjungan Kang Emil ke DI Yogyakarta sendiri untuk memenuhi undangan dari Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sementara itu, Chef Hardian Eko Nurseto menuturkan bahwa dirinya terinspirasi menggabungkan kebudayaan Jabar-Yogyakarta melalui kuliner. Selain itu, ia pun ingin mengenalkan kembali potensi olahan makanan fermentasi.

Baca Juga: Coletot, Kuliner Khas Jabar-Yogyakarta Kolaborasi
Raup Omzet Rp2 Juta, Wanita yang Berprofesi Guru Honorer Ini Rintis Usaha Kuliner Kue Mento

“Melalui singkong, nenek moyang kita itu mengembangkan teknologi fermentasi gitu untuk mengolah makanan. Nah, si teknologi fermentasi ini kita bisa lihat tergantung sama kebudayaannya. Di Jabar itu jadinya peyeum, sama-sama singkong difermentasi jadi peyeum. Di Yogya, jadinya gatot,” ucapnya.

"Saya coba blend dua kebudayaan itu. Cita rasa gatot ini kan kenyal ya, sementara peyeum itu dia manis tapi empuk. Saat disatukan, ada tekstur yang menarik gitu. Jadi selain tekstur ada empuk, ada kenyal, ada saya bikin semprong di atasnya itu juga untuk ngasih tekstur lain di hidangan ini," pungkasnya.

Video Terkait