Legislator Sarankan Sebagian Lahan Food Estate untuk Tanam Tebu

Lahan di kawasan food estate Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng). (SariAgri/Arif Ferdianto)

Editor: Arif Sodhiq - Sabtu, 30 Januari 2021 | 23:00 WIB

SariAgri - Anggota Komisi VI DPR RI Marwan Jafar menilai program lumbung pangan atau food estate di Kalimantan Tengah (Kalteng) dapat dimanfaatkan sebagian dengan menanam tebu. Menurut dia, upaya tersebut bisa menjadi solusi mengurangi impor gula.

"Tanpa mengurangi tanam singkong di Kalimantan itu, bisa tidak di sana itu dibuat tanam tebu. Saya kira itu menjadi solusi," ujarnya.

Mantan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi itu menambahkan impor gula bisa ditekan jika BUMN dapat memfasilitasi pabrik gula.

"Petani kita juga survive (bertahan). Salah satu solusinya adalah misalnya Perhutani masih banyak lahan, ya kerja sama dengan Perhutani. Sehingga lahan atau tanah untuk tebu itu tidak berkurang, ini kan harus regulasi yang dibatasi," jelasnya.

Untuk itu, Marwan menyarankan pemerintah memiliki roadmap atau peta jalan lintas BUMN bidang pangan yang serius. Pasalnya, Presiden Jokowi juga telah mengingatkan untuk mengantisipasi masalah krisis pangan.

"Food and Agriculture Organization (FAO) juga sudah mengingatkan soal krisis pangan. Indonesia punya keberpihakan pada komitmen yang kuat pada kemandirian pangan. Termasuk juga untuk memperkuat di sektor UMKM di bidang pangan harus difasilitasi oleh BUMN," katanya.

Politisi PKB itu mendorong BUMN pangan untuk bisa terintegrasi dengan baik guna menekan impor dan memaksimalkan produksi dalam negeri. Pemerintah melalui Kementerian BUMN butuh penanganan pangan secara terintegrasi di semua BUMN agar bisa terkontrol dengan baik.

"Walaupun kita tahu RNI akan menjadi holding pangan, karena banyak BUMN yang menangani, maka harus terintegrasi dengan baik," kata Marwan dalam keterangan tertulis.

RNI akan menjadi induk holding BUMN Pangan dan akan membawahi beberapa BUMN seperti PT Berdikari (Persero), PT Perikanan Nusantara (Persero) (Perinus), Perum Perikanan Indonesia (Perindo), PT Pertani (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), PT Garam (Persero), PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), dan PT Bhanda Ghara Reksa (Persero).

Baca Juga: Legislator Sarankan Sebagian Lahan Food Estate untuk Tanam Tebu
Susun RPP dan RPerpres Turunan UU Cipta Kerja, Pemerintah Serap Aspirasi

Marwan menilai jika BUMN bidang pangan dapat terintegrasi dengan baik, secara otomatis akan mengurangi impor. Dia menekankan mpor menjadi pilihan terakhir ketika produk dalam negeri benar-benar tidak ada.

"Sekali lagi kita ini tidak anti impor. Sepanjang produk dalam negeri masih ada maka impor harus ditekan. Lebih baik kita menggunakan produk dan komoditi dalam negeri," pungkasnya.

Video Terkait