Studi: Minyak Kedelai Sebabkan Perubahan Genetik Di Otak

Minyak Kedelai (Intelligentliving)

Penulis: Reza P, Editor: Redaksi Sariagri - Senin, 4 Januari 2021 | 20:00 WIB

SariAgri - Minyak kedelai adalah minyak nabati yang banyak dikonsumsi masyarakat luas. Minyak nabati ini digunakan untuk menggoreng makanan cepat saji, memberi makan ternak, dan ditambahkan ke makanan kemasan. Namun, hasil penelitian pada tikus menunjukkan minyak kedelai berpengaruh buruk pada kondisi neurologisnya. Bisa jadi kondisi ini juga dialami oleh manusia. 

Tim peneliti University of California (UC) Riverside telah melakukan serangkaian studi tentang efek minyak kedelai pada tikus. Yang pertama pada tahun 2015, dan ditemukan bahwa minyak tersebut menginduksi diabetes, resistensi insulin, obesitas, dan penyakit hati berlemak. 

Penelitian berikutnya dilakukan pada 2017, dan terungkap bahwa jika minyak kedelai direkayasa menjadi asam linoleat rendah, bisa menyebabkan resistensi insulin dan obesitas berkurang.

Studi terbaru mungkin yang paling menakutkan dari semuanya, menunjukkan bahwa minyak kedelai dapat memengaruhi kondisi neurologis seperti penyakit Alzheimer, autisme, kecemasan, dan depresi karena ia mengubah hipotalamus, wilayah otak tempat proses kritis terjadi. Studi baru telah diterbitkan di Endokrinologi.

"Hipotalamus mengatur berat badan melalui metabolisme Anda, menjaga suhu tubuh, dan sangat penting untuk reproduksi serta pertumbuhan fisik serta respons kamu terhadap stres," kata penulis utama Margarita Curras-Collazo, seorang profesor ilmu saraf UCR, seperti dikutip intelligentliving.

"Tidak ada perbedaan efek pada otak antara minyak kedelai yang dimodifikasi (rendah asam linoleat) dan minyak kedelai yang tidak dimodifikasi," imbuhnya.

Berita Pangan - Baca Juga: Perkenalkan Sorgum, Tanaman Pangan yang Tahan Terhadap Musim Kemarau
Pakar: Benih dengan Postur Tinggi Cocok untuk Lahan Rawa

Minyak Kedelai Menyebabkan Perubahan Genetik Di Otak

Minyak Kedelai

Dalam percobaan di laboratorium, tikus dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing diberi pakan berbeda tinggi lemak: minyak kedelai, minyak kedelai termodifikasi, dan minyak kelapa.

Para peneliti membandingkan efeknya dan menemukan bahwa sekitar 100 gen berpengaruh pada tikus yang diberi diet minyak kedelai. Gen tidak berfungsi dengan benar. Misalnya, gen yang menghasilkan oksitosin, hormon "cinta", menjadi rusak karena tikus yang diberi makan minyak kedelai telah menurunkan kadar oksitosin di hipotalamus.

Penemuan ini menunjukkan bahwa minyak tersebut dapat memiliki konsekuensi untuk fungsi otak yang tepat selain untuk metabolisme energi.

"Jika ada satu pesan yang saya ingin orang-orang hilangkan adalah: kurangi konsumsi minyak kedelai," kata penulis pertama Poonamjot Deol, asisten ilmuwan proyek di laboratorium Sladek.

Para peneliti percaya konsumsi minyak kedelai bisa dikaitkan dengan penyakit seperti Parkinson atau autisme, meskipun belum ada bukti empirik (pada manusia) bahwa minyak kedelai menyebabkan penyakit tersebut pada saat ini. 

Para peneliti juga mencatat bahwa hasil ini hanya berlaku untuk minyak kedelai, tidak untuk minyak nabati atau produk kedelai lainnya.

"Jangan membuang tahu, susu kedelai, edamame, atau kecap Anda. Banyak produk kedelai hanya mengandung sedikit minyak dan sejumlah besar senyawa sehat seperti asam lemak esensial dan protein," kata Ahli toksikologi UCR Frances Sladek, seorang profesor biologi sel.

Para peneliti masih akan melanjutkan penelitiannya dengan fokus pada identifikasi senyawa yang bertanggung jawab atas efek samping di atas. Mereka menyebut senyawa itu bukan asam linoleat karena minyak kedelai yang dimodifikasi juga menyebabkan gangguan genetik di otak. Senyawa itu juga bukan bahan kimia mirip kolesterol yang disebut stigmasterol. 

Baca Juga: Studi: Minyak Kedelai Sebabkan Perubahan Genetik Di Otak
Sorgum yang Toleran Herbisida Sedang Dikembangkan di Amerika Serikat

Mereka harus menunjukkan dengan tepat sumber masalah bagi industri untuk memecahkan masalah tersebut. 

"(Kepastian hasil peneltiian) ini dapat membantu merancang minyak makanan yang lebih sehat di masa mendatang," kata Deol.

Selama ini orang-orang percaya bahwa lemak jenuh itu buruk dan lemak tak jenuh itu baik. Minyak kedelai adalah lemak tak jenuh ganda, tetapi ternyata berpengaruh buruk pada gen hipotalamus sehingga terbukti tidak baik. Sementara minyak kelapa adalah lemak jenuh tetapi menghasilkan perubahan kecil pada gen hipotalamus.

Berita Pangan - Kisah Haru Gadis Cantik Yang Menginspirasi

Video Terkait