Biar Lebih Awet, Begini Cara Pengolahan Susu Segar Agar Tak Cepat Basi

Ilustrasi Susu. (Pixabay/ Couleur)

Editor: Dera - Kamis, 12 November 2020 | 08:00 WIB

SariAgri - Susu merupakan protein hewani yang mengandung berbagai komponen gizi, seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Berbagai komponen itu baik untuk menjaga kesehatan dan membantu proses pertumbuhan pada anak-anak.

Manik Eirry Sawitri, seorang Dosen di Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, menjelaskan bahwa kandungan laktosa dalam susu memiliki manfaat biologis sebagai sumber tenaga serta membantu penyerapan kalsium dan fosfor untuk membangun tulang tubuh dan gigi.

Asam lemak pada susu mengandung Conjungated Linoleic Acid (CLA) yang berguna untuk menghambat perkembangan sel kanker. Sementara kandungan asam amino bermanfaat untuk mempertahankan enzim, hormon, dan antibodi. Ada pula kandungan penghasil energi dan vitamin larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K) yang berada pada lemak susu.

Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah nilai gizi yang tinggi dalam susu dapat menyebabkan mikroorganisme berkembang sehingga dalam waktu singkat susu segar tidak layak konsumsi apabila tidak ditangani secara tepat. Cara membuat susu agar lebih awet adalah dengan mengolahnya menjadi susu pasteurisasi, sterilisasi, Ultra Heat Treatment (UHT), evaporasi, dan kental manis.

Melansir dari fapet.ub.ac.id, susu pasteurisasi merupakan susu segar yang dipanaskan dengan teknologi thermal atau panas dengan suhu di bawah 100 derajat celcius dan harus disimpan pada suhu 4—10 derajat celcius. Sementara itu, susu sterilisasi dan susu UHT dipanaskan diatas 121 derajat celcius dan dapat disimpan pada suhu ruang. Keduanya dapat diminum secara langsung.

Disamping itu, terdapat pula susu yang dapat dimanfaatkan untuk tambahan bahan kue atau masakan yakni susu evaporasi dan kental manis. Susu evaporasi ialah susu segar yang diuapkan sebagian airnya hingga sisa kadar air sekitar 60—70%. Sedangkan kental manis merupakan susu evaporasi yang kadar airnya diturunkan hingga sekitar 25% dan diberi gula sebagai pengawet.

Baca Juga: Biar Lebih Awet, Begini Cara Pengolahan Susu Segar Agar Tak Cepat Basi
Ini Tips Berharga untuk Memulai Budi daya Kambing Etawah

Pakar Hidrokoloid susu dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Abdul Manab mengatakan apabila seseorang berhenti mengonsumsi susu, maka enzyme lactase dalam tubuhnya akan mengalami penurunan. Menurutnya, kondisi itu dapat memicu timbulnya lactose intolerance yang menyebabkan diare setelah minum susu kembali.

Mengonsumsi susu setiap hari akan bermanfaat sebagai penyempurna makanan bergizi dan menjaga kesehatan tubuh. Namun, kita juga harus teliti dan bijak dalam menentukan produk olahan susu yang akan dikonsumsi. (Sariagri/Suparjo)

Video Terkait