Laporan Khusus: Harga Cabai Makin Pedas, Petani Untung Atau Buntung?

Makin Pedas Harga Cabai Melambung. (Grafis: Faisal/Sariagri)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 1 Juli 2022 | 13:00 WIB

Sariagri - Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan memantau secara langsung harga komoditas pangan di Pasar Klender SS pada 22 Juni 2022, sekitar pukul 08.00 WIB. Kunjungan itu sepekan setelah Zulhas panggilan akrab Zulkifli Hasan dilantik Presiden Joko Widodo untuk menggantikan Mendag sebelumnya, Muhammad Lutfi.

Di lorong pasar, Zulhas mendatangi lapak pedagang komoditas strategis seperti daging sapi, ayam, telur, tempe, cabai dan bawang yang harganya tengah melonjak. Tak sekadar menyapa pedagang, Zulhas juga berbelanja sayuran. 

"Cabai berapa sekarang, cabai yang ini?" tanya Zulhas ke pedagang sambil menunjuk tumpukan cabai merah keriting.
 
Pertanyaan itu dijawab pedagang dengan keluhan. Menurut dia, harga cabai melonjak hingga dua kali lipat.

"Harga cabai merah keriting melambung sampai Rp90 ribu per kilogram. Tapi Rp100 ribu lebih yang rawit merah, sampai Rp120 ribu," jawabnya. 
 
Zulhas menanggapi keluhan pedagang itu dengan kelakar.

"Oh naik, wajar lah sekali-sekali kan petani biar dapat bonus," katanya sembari mengeluarkan uang untuk membeli 1 kilogram cabai dari pedagang.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan memantau harga-harga kebutuhan pokok di Pasar Klender SS, Jakarta Timur, Rabu (22/6).(Sariagri/Dwi Rachmawati)
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan memantau harga-harga kebutuhan pokok di Pasar Klender SS, Jakarta Timur, Rabu (22/6).(Sariagri/Dwi Rachmawati)

Dua hari sebelumnya saat berkunjung ke kantor Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Ragunan, Jakarta Selatan, Zulhas juga berkomentar tentang kenaikan harga cabai.
 
“Bawang merah, cabai keriting, cabai rawit itu kan ada musim-musim, orang pasar juga saya tanya katanya ‘biasa pak kalau musim gini harganya naik biarlah petani agar bisa ada bonus tahunan’ kira-kira begitu,” katanya, Senin (20/6/2022).
 
Pernyataan Zulhas langsung mendapat reaksi keras dari para pedagang yang tergabung dalam Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi). Pernyataan Zulhas yang menganggap lonjakan harga cabai merupakan bonus tahunan bagi petani dinilai sebagai kesalahan berlogika.
 
“Kami sangat menyayangkan pernyataan Menteri Perdagangan Bapak Zulkifli Hasan. Entah itu diniatkan guyonan atau tidak, namun hal tersebut tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang menteri. Jangan hibur pedagang atau petani dengan logical fallacy atau kesalahan berlogika,” tandas Wasekjen Ikappi Bidang Pembinaan Pasar dan Pendidikan Pedagang Pasar, Ahmad Choirul Furqon melalui keterangan tertulisnya, Kamis (23/6/2022).

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, cabai segar dianggap sama pentingnya dengan beras atau minyak goreng. Posisi cabai sebagai bahan dasar sambal hingga pendamping saat makan gorengan. masih dibutuhkan.

Namun harga cabai sebagai jantung bumbu kuliner Indonesia selalu fluktuatif alias tidak pernah stabil sepanjang tahun dan hampir selalu menjadi salah satu penyumbang inflasi pangan. Bank Indonesia (BI) dalam keterangan resmi 24 Juni 2022 menyebutkan perkembangan inflasi hingga minggu keempat diperkirakan sebesar 0.5 persen (month to month/mtm). Cabai merah dan cabai rawit termasuk penyumbang utama inflasi Juni 2022 dengan angka inflasi sebesar 0,17 persen (mtm) dan 0,11 persen (mtm).
 
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP), secara nasional rata-rata harga cabai merah besar bulan Juni 2022 mengalami kenaikan 40 persen, cabai merah keriting naik 51 persen dan cabai rawit merah naik 69,3 persen dibanding Mei 2022.
 
Siti Toyibah (50) pedagang seblak di Bekasi, Jawa Barat mengatakan tingginya harga cabai memaksa dirinya menaikkan harga dagangannya Rp1.000 per porsi. Dia merasa heran dengan kenaikan harga cabai lebih dari 50 persen dalam waktu relatif singkat.
 
“Heran, tidak masuk di akal harga cabai rawit merah bisa mahal banget gini di atas Rp100 ribu per kilogram. Terpaksa saya naikin harga dagangan karena seblak nggak bisa lepas dari cabai,” keluhnya.
 
Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan harga cabai yang bergejolak bukan menjadi ranah kebijakannya. Namun dia memastikan produktivitas hortikultura termasuk cabai saat ini dalam keadaan cukup.
 
“Sifat bawang dan cabai itu fluktuasi. Nah saat ini Alhamdulillah kalau naik artinya petani suka. Hanya saja, masalah harga memang bukan menjadi ranah kebijakan kementan, akan tetapi semua kepentingan rakyat harus menjadi tanggung jawab bersama,” jelasnya.
 
Data Kementan menyebutkan total produksi cabai besar nasional pada Juni 2022 mencapai 78.040 ton, dengan kebutuhan bulanan diperkirakan 76.317 ton sehingga surplus 1.723 ton. Sementara produksi cabai rawit Juni 2022 sebesar 73.562 ton dengan kebutuhan 72.159 ton sehingga surplus 1.403 ton.
 
Harga cabai melonjak, petani terdesak gagal panen dan biaya produksi
 
Benarkah petani kecipratan bonus besar dengan melambungnya harga cabai? Saat ini petani cabai tidak hanya menghadapi kenaikan biaya produksi tetapi juga ancaman perubahan iklim. 

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag, Oke Nurwan mengatakan kenaikan harga cabai disinyalir karena curah hujan tinggi dan serangan penyakit di beberapa sentra produksi.
 
“Kenaikan harga cabai disinyalir karena curah hujan tinggi dan serangan penyakit antraknosa (patek) di sentra produksi Tuban, Blitar, Kediri, yang menyebabkan panen berkurang signifikan,” kata Oke.

Yugiantoro, petani cabai rawit merah asal Kabupaten Malang, Jawa Timur mengatakan musim kemarau telah bergeser. Hingga pertengahan tahun ini, lanjut dia, cuaca di wilayahnya masih cenderung basah.

Menurut dia, kemarau basah mendorong penyebaran spora antraknosa penyebab patek cabai semakin masif dibanding tahun sebelumnya. Serangan patek menyebabkan penurunan produksi cabai di lahannya.
 
“Tahun 2021 itu sepertinya tidak ada masalah yang serius seperti ini, saat ini hampir 40 persen bisa dinyatakan gagal panen,” kata Yugiantoro kepada Sariagri.id.
 
Dia menyebutkan pada 28 Juni 2022 harga cabai rawit merah di tingkat petani Rp71 ribu per kilogram. Harga itu dua kali lebih tinggi dibanding tahun lalu di periode sama yang hanya di kisaran Rp30.000 per kilogram.
 
“Tapi tahun lalu itu tanaman saya berhasil panen semua, tahun ini produksi menurun karena serangan penyakit tinggi. Jadi kalau dibilang sekarang petani sangat untung saya kira itu masih tanda tanya,” katanya.

Ilustrasi cabai rawit di Jawa Timur. (Sariagri/Arief L)
Ilustrasi cabai rawit di Jawa Timur. (Sariagri/Arief L)

Biaya produksi lebih tinggi dari tahun lalu, menurut Yugiantoro juga menurunkan profit petani cabai meski harga saat ini melonjak signifikan.
 
“Hasil bersihnya tahun lalu dan sekarang bisa dikatakan seimbang saja, karena sekarang pupuk dan pestisida itu mahal sekali. Tahun lalu masih ada bantuan subsidi pupuk, sekarang sudah tidak ada subsidi. Jadi meski sekarang dikatakan harga cabai tinggi, tapi petani belum bisa dikatakan untung,” tandasnya.
 
Dia berharap pemerintah bisa memberikan pendampingan kepada petani secara berkelanjutan terkait teknologi budidaya cabai yang baik dan benar di tengah perubahan iklim. Menurut dia, upaya itu lebih efektif bagi petani dalam mengantisipasi gagal panen akibat serangan hama penyakit.
 
Teguh, petani cabai merah besar asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat juga mengeluhkan kemarau basah. Menurut dia, serangan hama penyakit cabai sangat tinggi pada cuaca seperti itu.
 
“Seharusnya sekarang sudah musim kemarau, tapi di sini masih banyak hujan. Jadi serangan hama penyakit masih sangat tinggi,” ujar Teguh kepada Sariagri.id.
 
Serangan penyakit cabai memaksa petani lebih banyak melakukan penyemprotan pestisida. Teguh menyebutkan, sepanjang bulan Juni, harga cabai merah besar di tingkat petani rata-rata Rp45.000 per kilogram. Tapi, keuntungan tidak naik signifikan karena biaya produksi juga meningkat.
 
“Dibandingkan tahun lalu harga sekarang lumayan, tapi kalau dibilang untung juga tidak terlalu tinggi soalnya biaya produksi lebih mahal. Penyemprotan pestisida sekarang bisa 2-3 kali lebih banyak dari tahun lalu, itupun harga pestisida tahun ini udah mahal banget,” sebutnya.

Strategi pemerintah stabilkan harga cabai

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi menyebut dua komoditas hortikultura yang tengah mengalami defisit stok dan lonjakan harga. Dia komoditas itu adalah cabai rawit merah dan bawang merah.

Untuk cabai rawit merah, kata Arief, pihaknya bisa mensuplai 3-5 ton dari kebutuhan harian sekitar 30-32 ton. Sementara untuk pendistribusiannya dari sentra produksi menggunakan jalur udara.

"Karena shelf life dari cabai itu pendek kami kirimkan lewat udara, kami kerja sama juga dengan airlines, sehingga satu airlines itu bisa mengangkut sekitar 2-3 ton karena keterbatasan," ujarnya dalam konpers di Kompleks Kementerian Pertanian, Kamis (30/6/2022).

Dia meyakinkan, pada Juli 2022 pasokan dan harga cabai rawit merah maupun bawang merah akan kembali normal.

"Tapi percayalah bahwa hitungan kami dengan teman-teman kementan bulan Juli 2022 itu akan kembali normal," katanya.

Sementara itu Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan pemerintah bekerja sama dengan Perhutani untuk memacu produksi cabai agar stabilisasi harga tetap terjaga. Produsen cabai, lanjut dia, bisa memanfaatkan sekitar 200 hektare lahan yang telah disiapkan Perhutani. 

Upaya pemerintah lainnya, mendorong implementasi penerapan teknologi pasca panen dan metode penyimpanan cabai dalam rangka memperpanjang masa simpan (teknologi CAS-Controlled Atmosphere Storage dan Ozonisasi serta metode flash freeze).

Pemerintah mendorong penyerapan cabai oleh industri pengolah langsung ke petani melalui skema kontrak (contract farming). Selain itu juga mendorong konsumsi cabai olahan sehingga dapat memperpanjang daya simpan sehingga harga cabai segar lebih terkendali.

Sementara Kementan berupaya menjaga pasokan cabai dengan mobilisasi dari daerah surplus yang produksinya tidak terganggu seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sumatera Utara. Pemerintah juga mengimbau petani mengolah cabai menjadi produk turunan lainnya yang bernilai ekonomi.

Cadangan cabai nasional kunci stabilisasi harga

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Sobir menyebutkan fluktuasi harga cabai yang terjadi setiap tahun sebenarnya hanya pengaruh supply (penawaran) dan demand (permintaan). Penawaran  rendah, sementara permintaan tetap sehingga harga cabai kerap melonjak.
 
Curah hujan yang masih tinggi di sejumlah daerah menyebabkan banyak petani lebih memilih tetap menanam padi dibandingkan cabai. Hal itu menyebabkan penyusutan areal tanam cabai.
 
“Luas tanam cabai berkurang, potensi suplai juga berkurang,” kata Sobir kepada Sariagri.id.

Udara yang lembab, kata Sobir, meningkatkan peluang penyakit cabai seperti antraknosa, virus kuning hingga lalat buah sehingga produktivitas turun.
 
“Musim hujan juga banyak awan, sehingga sinar matahari yang diterima tanaman berkurang, fotosintesis rendah menyebabkan produksi tanaman cabai berkurang,” jelasnya.
 
Selain itu, rantai distribusi yang panjang saat cuaca lembab meningkatkan kerusakan cabai sehingga pasokan berkurang dan harga melonjak. Biaya kehilangan saat distribusi itu selama ini dibebankan kepada Konsumen.
 
“Jadi yang bermasalah ada di suplainya. Kalau permintaan flat, tapi supply-nya berkurang akibatnya harga naik. Sebenarnya masalahnya sesederhana itu, walaupun mengatasinya susah,” kata Sobir.
 
Sobir tidak mengelak, perubahan iklim adalah kenyataan yang harus dihadapi petani cabai. Dia menyebut beberapa cara adaptasi yang bisa dilakukan petani dalam menghadapi perubahan iklim. 

Baca Juga: Laporan Khusus: Harga Cabai Makin Pedas, Petani Untung Atau Buntung?
Kenaikan Harga Cabai di Kepri Diprediksi Hingga Tiga Pekan ke Depan

Adaptasi itu antara lain dengan memanfaatkan data prakiraan iklim bulanan, menggunakan benih varietas unggul yang tahan penyakit, menggunakan agens hayati (PGPR dan yeast) untuk menekan serangan penyakit, pengendalian hama terpadu hingga pembentukan asosiasi petani cabai di daerah-daerah untuk efisiensi rantai pasok.

Pedagang menjual cabai merah di Pasar Al Mahirah Banda Aceh. (Dok.Antara/Khalis Surry)
Pedagang menjual cabai merah di Pasar Al Mahirah Banda Aceh. (Dok.Antara/Khalis Surry)

Untuk stabilisasi harga cabai sepanjang tahun, menurut Sobir seharusnya pemerintah sudah mengetahui bulan-bulan di mana stok cabai menipis. Di saat itu, pemerintah perlu memiliki standing stock berupa pertanaman cabai siap dipanen untuk kebutuhan operasi pasar.
 
“Sebenarnya yang kita butuhkan pada cabai itu seperti yang dilakukan pada stabilisasi harga daging, beras, dan pangan lainnya yaitu melalui operasi pasar. Jadi pemerintah harusnya punya stok cabai, tapi bukan stok di gudang melainkan stok di lapang,” katanya.
 
Sobir menambahkan terkait penyediaan stok cabai di lapang, pemerintah bisa memanfaatkan lahan negara untuk ditanami cabai melalui skema kerja sama baik dengan pihak swasta maupun kemitraan petani. Stok cabai ditanam minimal lima bulan sebelum waktu penyusutan stok yang diprediksi tiba.
 
“Kalau pemerintah yang menanam itu akan mengikuti harga pokok produksi, bagaimanapun untuk menstabilkan harga itu harus ada buffer dengan mekanisme operasi pasar. Itu teori yang sangat klasik,” tandasnya.

Penulis/Reporter: Dwi Rachmawati
Editor: Arif Sodhiq
Tim Riset: Rashif Usman, Putri Ainur Islam
Desain Grafis: Faisal

Video Terkait