Ini Langkah BI Sumsel Sikapi Meroketnya Harga Cabai di Pasaran

Cabai rawit merah. (Pxhere)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 29 Juni 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) R. Erwin Soeriadimadja mengingatkan kenaikan harga cabai yang dipengaruhi cuaca perlu disikapi secara cepat. Hal ini karena hari besar keagamaan Idul Adha tinggal dua pekan lagi.

Kantor Perwakilan BI Sumsel memperkuat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk merespons kenaikan harga cabai di daerah setempat dalam beberapa pekan terakhir.

“Saya yakin Pemda pasti lakukan action untuk menjaga kestabilan harga seperti melakukan kerja sama antardaerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Erwin di Palembang, Selasa.

Harga cabai di pasar tradisional Palembang sejak dua pekan terakhir bergerak naik hingga di kisaran Rp100.000-Rp130.000 per kilogram.

Kondisi ini menurut Erwin karena tingginya kebutuhan Sumsel terhadap bahan pokok tersebut yang tak didukung dengan produksi dari petani setempat.

Cuaca tak menentu di masa pancaroba membuat sentra perkebunan cabai di Sumsel mengalami gagal panen sehingga mengerek harga.

“Bukan hanya cabai, kita juga mengantisipasi bahan pangan lain seperti bawang yang selama ini disuplai dari Brebes menghadapi Idul Adha ini,” katanya.

Sejauh ini BI sebagai ketua TPID sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumsel untuk mengantisipasi kondisi tersebut demi menjaga kestabilan harga.

Secara keseluruhan terdata bahwa inflasi Sumsel masih terkendali di kisaran 4,0 persen, sementara target nasional 3,5 persen plus minus satu persen.

Tapi kondisi ini tak boleh membuat lengah karena secara global diketahui semua negara mengalami kenaikan inflasi pada tahun ini karena dipengaruhi perang Rusia-Ukraina yang berdampak pada harga pangan dan energi.

BI terus mengupayakan agar inflasi Sumsel tetap di kisaran 3,5 persen plus minus satu persen hingga akhir tahun untuk menjaga daya beli masyarakat.

Namun patut digarisbawahi karena saat ini inflasi dari volatile food (komoditas pangan) secara year to date di Sumsel telah berkontribusi sebesar 7,0 persen atau menjadi yang tertinggi dibanding inflasi inti 3,0 persen dan inflasi administrasi 3,0 persen.

"Apakah ini menjadi warning, kita lihat lagi ke depannya, terpenting adalah bagaimana kita menambah produksi dan memperlancar jalur distribusi bahan-bahan pangan," katanya.

Baca Juga: Ini Langkah BI Sumsel Sikapi Meroketnya Harga Cabai di Pasaran
Kian Pedas, Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Baru Metro Atom Tembus Rp100 Ribu per Kg



Sumsel surplus beras, tetapi untuk cabai dan bawang kebutuhan jauh lebih tinggi. Karena itu BI mengembangkan digital farming dengan tingkat keberhasilan 100 persen di kluster cabai Ogan Ilir, yang diharapkan dapat dilakukan daerah lain. Langkah ini dilakukan BI karena hingga kini sulit ditemukan daerah di Tanah Air yang benar-benar mandiri.

Karena itu BI mendukung program Sumsel Mandiri Pangan yang dicanangkan Pemprov Sumsel bahkan program itu akan diadopsi menjadi Sumatera Mandiri Pangan.

Video Terkait