BRIN Kembangkan Riset Mi Bergizi Cegah Stunting

Ilustrasi mi. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Senin, 27 Juni 2022 | 20:30 WIB

Sariagri - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan riset pangan bergizi, salah satunya mi berbahan lokal yang harus diperkaya agar memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan untuk mencegah kekerdilan (stunting).

"Riset pangan berbahan lokal harus memiliki gizi tinggi, disukai masyarakat, serta harganya terjangkau," kata Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN Dini Ariani, Senin (27/6/2022).

Dini mengatakan salah satu faktor yang mendorong urgensi riset bahan mi alternatif dengan sumber bahan baku lokal adalah masih tingginya angka kekerdilan di Indonesia. Kekerdilan adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Angka stunting yang tinggi disebabkan oleh kurangnya zat besi yang diderita oleh para remaja putri sehingga pada saat mereka menikah muda dan mengandung akan berpotensi melahirkan bayi dengan kekerdilan. Oleh karenanya, eksplorasi riset bahan baku mi juga sudah dilakukan dengan menggunakan tepung mocaf (singkong yang dimodifikasi), terigu, tapioka, dan beras.

Dini menuturkan kandungan tepung berbahan lokal tersebut harus diperkaya untuk memiliki gizi tinggi sehingga menjadi salah satu pangan bergizi untuk mencegah kekerdilan.

Dia mengatakan tepung berbahan ubi kayu untuk membuat mi tersebut memiliki tingkat protein yang masih rendah, sehingga dibutuhkan tambahan bahan lain seperti tepung tempe dan daun kelor tinggi mineral yang dibutuhkan oleh penderita kekerdilan.

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, angka stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4 persen atau menurun sebesar 3,3 persen dibandingkan tahun 2019 (27,7 persen).

Namun, jika dibandingkan dengan negara di kawasan Asia Tenggara, prevalensi stunting di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Vietnam (23 persen), Malaysia (17 persen), Thailand (16 persen) dan Singapura (4 persen), hanya lebih baik dari Myanmar (35 persen).

Sebelumnya, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang sudah terintegrasi ke dalam BRIN menghasilkan pangan bergizi, yakni Purula, singkatan dari Peptida Unggul Rumput Laut, sebagai abon tabur pendamping makanan untuk mencegah kekerdilan. Makanan berbentuk flake tabur itu difortifikasi dengan zat-zat gizi untuk meningkatkan asupan zat besi. Dengan meningkatkan asupan zat besi, maka dapat mencegah anemia.

Ibu yang mengalami anemia dan indeks massa tubuh rendah dapat mengakibatkan hambatan pertumbuhan dan perkembangan bayi, termasuk kecerdasannya, atau berpotensi melahirkan bayi dengan kekerdilan.

Baca Juga: BRIN Kembangkan Riset Mi Bergizi Cegah Stunting
Canggih! Ilmuwan Bikin Daging dari Bahan Udara, Bakal Jadi Makanan di Masa Depan?



Purula mengandung peptida dari hidrolisat kedelai untuk meningkatkan penyerapan zat gizi dan rumput laut yang kaya akan mikronutrien, serat dan memiliki cita rasa yang khas. Selain kandungan alaminya, Purula difortifikasi dengan 10 vitamin dan dua mineral. Purula dapat membantu mencukupi kebutuhan mineral khususnya zat besi harian.

Purula disajikan tanpa perlu proses pengolahan dan dapat langsung dikonsumsi dengan ditabur ke nasi, mi, bubur, telur, roti dan makanan lain.

Video Terkait