Mikroplastik Ancam Pangan Pokok, Terindikasi di Daging Ikan dan Telur Ayam

Ilustrasi mikroplastik. (Unsplash)

Editor: M Kautsar - Jumat, 17 Juni 2022 | 13:20 WIB

Sariagri - Plastik merupakan polimer yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua produk mengandung plastik mulai kendaraan, furniture sampai perlengkapan dapur. Bahkan 90 persen kemasan pangan juga menggunakan bahan plastik.
 
Kampanye daur ulang plastik terus digaungkan, namun, sebagian besar akan menjadi sampah dan berakhir di sungai, waduk sampai terakhir masuk ke laut, kemudian terurai menjadi mikroplastik yang ikut masuk dalam tubuh hewan air.
 
Jumlah sampel ikan di Indonesia yang mengandung mikroplastik bahkan lima kali lebih banyak dibandingkan di Amerika Serikat. Fiber dan fragmen adalah jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan di tubuh ikan.
 
Dosen Oseanografi dan Biologi Laut Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya di Muara Kamal, dalam satu kerang hijau dapat mengandung 7 hingga 469 partikel mikroplastik. Kerang laut akan menyaring air laut untuk mengambil bahan makanannya sehingga mikroplastik masuk dalam pencernaannya.
 
Penelitian itu menjadi bukti nyata sampah mikroplastik mengancam ekosistem dan kesehatan manusia.
 
Data dari Pusat Riset Geoteknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional, memperkirakan rasio jumlah plastik terhadap ikan di laut pada 2025 adalah 1 berbanding 3, artinya laut akan semakin jenuh dengan mikroplastik.

Penelitian yang dipublikasikan oleh Institut Alfred Wegener di Pusat Penelitian Kutub dan Kelautan Helmholtz (AWI), Jerman, pada April 2022, kandungan mikroplastik yang tinggi ditemukan di air, dasar laut, pantai-pantai terpencil, sungai dan bahkan di es dan salju di seluruh wilayah Arktik.

Penelitian itu mengungkap, setiap tahun ada 19 sampai 23 juta metrik ton sampah plastik berakhir di sistem perairan dunia.
Demikian juga di Indonesia, mikroplastik dapat ditemukan di perairan laut, sedimen sungai, estuari, sedimen di lingkungan terumbu karang, bahkan dalam perut ikan.

Sampah plastik yang terpendam bertahun-tahun di tanah juga terurai menjadi mikroplastik yang ikut terserap tanaman melalui serapan air tanah yang tercemar. Sejumlah sayuran yang ditanam di lahan bekas timbunan sampah ternyata juga mengandung mikroplastik.

Ayam kampung yang mencari makanan di sekitar areal sampah juga sudah terbukti di darah dan telurnya mengandung mikroplastik.
Bahkan polusi udara juga mengandung mikroplastik berukuran 10 – 25 nm yang dapat terakumulasi di saluran pernafasan dan paru-paru hewan dan manusia sehingga akan mengganggu sistem pernapasan.
Jadi ancaman mikroplastik sudah berada dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Jika saja ada alat ringkas yang mampu mendeteksi keberadaan mikroplastik di bahan pangan maka nilai makanan akan tergantung konsentrasi mikroplastik itu. Ini tantangan dunia riset untuk menciptakan alat tersebut untuk mendeteksi cemaran mikroplastik.
Peneliti Eka Chlara Budiarti dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) menjelaskan bahwa mikroplastik dapat memasuki tubuh manusia memiliki beberapa cara beberapa di antaranya, seperti pernapasan, pencernaan dan paparan terhadap benda plastik yang sudah mengalami pelapukan.

Pernapasan itu diakibatkan dari ada faktor dari udara, tidak hanya di dalam ruangan yang terdapat perabotan plastik yang terlapuk dan terikut dari udara, yang akhirnya menyebarkan serpihan atau serbuk dari pelapukan benda plastik, tapi juga bisa dari baju kita.

Partikel-partikel tersebut, yang terjadi akibat adanya pelapukan, bisa masuk ke dalam saluran pernapasan. Hal itu dikarenakan ukuran partikel plastik yang sangat kecil, bahkan terdapat juga yang berukuran nanometer.

Video Terkait