Kementan Ajak Masyarakat Jaga Ketahanan Pangan dengan Hidroponik

Mentan Syahrul ajak masyarakat Bone manfaatkan pekarangan. (Dok. Kementan)

Editor: Tanti Malasari - Rabu, 15 Juni 2022 | 13:00 WIB

Sariagri - Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak 2020 secara nyata berdampak pada ketersediaan pangan dunia. Krisis pangan yang dialami hampir seluruh negara di dunia ini menjadi ancaman besar bagi semua negara, tak terkecuali Indonesia.

Oleh karena itu guna memastikan agar ketersediaan pangan dapat terus terjaga dengan baik, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengajak masyarakat untuk tetap harus produktif meski pandemi. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan pekarangan.

"Dengan adanya pandemi ini, perlu kegiatan produktif yang berkontribusi bagi perekonomian nasional, diantaranya kegiatan pertanian yang maju dan modern," ujar Mentan.

“Dengan teknologi penyiraman otomatis melalui smartphone watering system control, ini membuktikan kemajuan teknologi telah mampu meningkatkan produktivitas, semuanya bisa diolah melalui aplikasi dan online sistem,” tambahnya.

Pemanfaatan teknologi ini tidak hanya untuk pertanian berskala besar, tetapi juga skala kecil.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nuryamsi, mengatakan pemanfaatan pekarangan juga berpeluang menambah penghasilan rumah tangga apabila dirancang dan direncanakan dengan baik.

Salah satu teknologi pertanian yang dapat diterapkan untuk memanfaatkan lahan pekarangan adalah teknologi hidroponik.

Hidroponik adalah suatu teknik membudidayakan tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Kelebihan tanaman yang dibudidayakan dengan metode hidroponik adalah hasil panen yang diperoleh lebih tinggi dengan kualitas hasil lebih baik.

Hasil produksi ini nantinya dapat digunakan untuk memenuhi konsumsi keluarga atau dijual. Jenis tanamannya pun bisa beragam, misalnya tanaman rempah atau tanaman apotek hidup.

Menurut Dedi, memanfaatkan pekarangan sebagai lumbung hidup kian penting ketika krisis iklim semakin mengancam.

“Pekarangan rumah sering disebut sebagai lumbung hidup karena sewaktu-waktu kebutuhan pangan pokok seperti beras, jagung, umbi-umbian dan sebagainya tersedia di pekarangan sehingga berpotensi dalam penyediaan bahan pangan keluarga, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi keluarga serta mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk pembelian pangan," ucapnya.

Hal ini dikarenakan kebutuhan akan pangan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, peningkatan daya beli dan dinamika iklim global.

“Sedangkan produktivitas lahan pertanian pada tanah-tanah yang relatif subur telah mengalami penurunan akibat tingginya intensitas penggunaan lahan dan pemberian pupuk anorganik yang tidak terkendali," ujarnya.

Dengan begitu, keadaan unsur hara dalam tanah dan pencemaran lingkungan sudah mulai terjadi di beberapa daerah sentra produksi pertanian. Permasalahan lain adalah tingkat konsumsi sebagian penduduk Indonesia masih di bawah anjuran pemenuhan gizi.

"Upaya tersebut, salah satunya dapat dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan yang dapat dikelola oleh rumah tangga," ucap Dedi.

Baca Juga: Kementan Ajak Masyarakat Jaga Ketahanan Pangan dengan Hidroponik
Pemprov Lampung Ikuti Sosialisasi Peraturan Presiden 35/2022

Pemanfaatan lahan pekarangan melalui teknik hidroponik ini menjadi bahasan dalam program Bertani On Cloud (BOC) Volume 183 dengan tema “Dari Pekarangan, P4S Hidroponik Generik Dukung Ketahanan Pangan”

Pemanfaatan pekarangan dengan metode hidroponik ini dapat menjadi salah satu solusi membangun urban farming dalam mencapai dan memantapkan ketahanan pangan rumah tangga di Indonesia.

Video Terkait