Harga Meroket, KFC Australia Ganti Selada dengan Kubis ke Menu Burger

Ilustrasi burger. (pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 10 Juni 2022 | 18:50 WIB

Sariagri - Harga selada kini tengah meroket di Australia. Ini menyebabkan perusahaan raksasa makanan cepat saji, KFC dipaksa memasukkan kubis ke dalam burger dan wraps. Pihak restoran mengungkapkan bahwa mereka menggunakan campuran selada dan kubis setelah banjir menghancurkan lahan pertanian.

"Banjir yang baru-baru ini menyebabkan kami kekurangan selada. Jadi, kami menggunakan campuran selada dan kubis pada semua produk yang mengandung selada sampai pemberitahuan lebih lanjut. "Jika itu bukan keinginan Anda, cukup klik 'Sesuaikan' pada produk pilihan Anda dan hapus Selada dari Resep," ujar perusahaan kepada pembeli.

Peristiwa kekurangan bahan bukan pertama kalinya pada perusahaan ritel makanan cepat saji itu. Sebelumnya, pada Bulan Januari, KFC Australia harus memodifikasi menunya karena kurangnya bahan utamanya, yakni ayam.

Kala itu, kekurangan ayam disebabkan karena berkurangnya staf di pemasok ayam terbesar Australia, Ingham's, karena "penyebaran cepat varian Omicron di seluruh negara bagian Australia timur" pada akhir tahun lalu.

Perlu diketahui, produksi pangan Australia sendiri juga telah dipengaruhi oleh peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir besar di pantai timur awal tahun ini. Selain itu, Australia juga kini tengah dilanda masalah rantai apsokanan makanan yang disebabkan oleh perang di Ukraina dan Pandemi.

Baca Juga: Harga Meroket, KFC Australia Ganti Selada dengan Kubis ke Menu Burger
Pelanggan Kena Tipu Restoran Korea Karena Cantumkan Label Halal Palsu

Gangguan rantai pasokan disebabkan oleh banjir besar di pantai timur Australia, yang memusnahkan sebagian besar tanaman selada pada awal 2022, kata perusahaan makanan cepat saji itu.

Selain KFC, kasus serupa ternyata juga pernah terjadi pada restoran cepat saji terbesar di dunia yakni McDonald's yang menederita kekurangan kentang pada beberapa gerainya di Asia lantaran krisis rantai pasokan global.

Video Terkait