Dari Kemenyan Sampai Bangle, di Bali Rempah Ini Dijadikan Olahan Masakan

Ilustrasi Kemenyan Masak (Istimewa)

Penulis: Triana, Editor: M Kautsar - Minggu, 12 Juni 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Bali terkenal akan budaya dan kuliner khasnya. Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kuliner khas Bali seperti ayam betutu, sambal matah, lawar, dan sate lilit.

Jika berbicara mengenai kuliner Indonesia, pasti tidak jauh dari rempah-rempah unik. Begitu juga kuliner yang ada di Bali, yang kerap menggunakan bahan-bahan tak lazim digunakan sebagai bumbu.

Bumbu yang berbahan dasar rempah khas Bali adalah base wangen. Dalam base wangen ini ada lima jenis rempah unik khas Bali, diantaranya jangu, kemenyan, cabai puyang, mesui, dan bangle.

Rempah tersebut juga tumbuh di luar Pulau Bali, tetapi tidak digunakan sebagai bumbu masakan. Biasanya, digunakan untuk ritual, bagian dari perlengkapan sembahyang, wewangian, atau jamu.

Nah, sebelum lebih jauh lagi, berikut ini ulasan singkat tentang rempah khas Bali.

1. Kemenyan

Kemenyan sangat identik dengan hal-hal yang berbau mistis. Namun, kemenyan yang ini berbeda dengan jenis kemenyan yang biasa digunakan untuk sembahyang atau pembuatan dupa.

Kemenyan masak memiliki bentuk seperti karang kasar berwarna hitam keabuan dengan bagian luar yang halus berwarna putih kekuningan. Rempah ini mengandung saponin, olibanol, materi resin, terpenes, flavonoida dan polifenol.

Kemenyan dipercaya mampu meredakan masalah kulit dan pencernaan, gusi bengkak dan luka herpes di mulut. Jika di India, kemenyan jenis ini dipakai juga untuk membantu pengobatan arthritis.

2. Jangu (jeringau atau dlingo)

Jeringau adalah tumbuhan terna yang rimpangnya dijadikan bahan obat-obatan. Bentuknya mirip rumput, tetapi tinggi dan rimpang yang beraroma kuat dan unik.

Bagian yang digunakan untuk memasak adalah bagian rimpang atau akarnya. Tanaman bernama ilmiah acorus calamus ini bisa menambah cita rasa kuliner Bali.

Rasanya pun tajam, pedas dan sedikit pahit di lidah walau tidak panas. Bila ingin disimpan, letakkan di tempat yang kering agar bisa bertahan lama.

Selain untuk bahan masak, tanaman ini termasuk salah satu tumbuhan ramuan anti malaria dan kanker serta termasuk peringkat ke–17 sebagai tumbuhan yang paling banyak digunakan pada semua ramuan di seluruh etnis yang diteliti.

3. Cabai puyang (tabia bun atau cabai Jawa)

Cabai puyang atau juga dikenal dengan nama cabai jawa ini merupakan jenis rempah dari untai yang dikeringkan. Tidak hanya untuk memasak, cabai puyang juga digunakan untuk pengobatan tradisional.

Soal rasanya, cabai puyang memiliki rasa khas yaitu rasa pedas dan getir, namun sedikit manis dengan aroma yang tajam. Rasa pedasnya berasal dari senyawa piperin.

Manfaat utama tumbuhan bernama ilmiah piper retrofractum vahl ini buahnya digunakan sebagai bahan campuran ramuan jamu. Di Madura, cabai Jawa digunakan sebagai ramuan penghangat badan yang dapat dicampur dengan kopi, teh, dan susu.

Manfaat lainnya yaitu sebagai obat sakit perut, masuk angin, beri-beri, rematik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas. Cabai Jawa juga dapat digunakan sebagai obat luar, diantaranya untuk pengobatan penyakit beri-beri dan rematik.

4. Mesui

Baca Juga: Dari Kemenyan Sampai Bangle, di Bali Rempah Ini Dijadikan Olahan Masakan
Segudang Khasiat Luar Biasa bagi Kesehatan dengan Mengonsumsi Kayu Manis



Mesoyi atau masoi adalah sejenis pohon yang masih sekerabat dengan kayu manis. Di Papua, dikenal sebagai aikor atau aikori. Mesui mempunyai aroma wangi yang berasal dari kandungan minyak atsiri yang dikenal sebagai Massoia lactone.

Masyarakat Jawa menggunakan rempah ini untuk campuran ratus wangi. Aroma mesui cukup unik dan menyerupai bau jamu-jamuan.

5. Bangle

Bangle merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang rimpangnya dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan bahan pengobatan. Bangle sangat mirip dengan lengkuas dan jahe sehingga berbagai penelitian mengkategorikannya ke dalam keluarga yang sama.

Dalam bahasa Bali disebut Banggele ini punya bunga yang berbentuk seperti bonggol jagung berwarna hijau kemerahan dengan daun hijau panjang dan lancip.

Kerap digunakan untuk memberikan rasa khusus pada sate lilit. Baunya khas aromatik dan terasa agak pahit serta pedas. Selain untuk memperkuat rasa dalam masakan Bali, bangle juga dipercaya bisa membantu menambah nafsu makan.

Tanaman ini bermanfaat sebagai tanaman obat yang dipercaya berkhasiat sebagai peluruh lemak, pelangsing, meningkatkan stamina, dan menjaga kesehatan tubuh. Ekstrak rimpang bangle diyakini memiliki aktivitas farmakologi sebagai antibakteri, laksatif, dan inhibitor lipase pankreas.

Video Terkait