Benarkah Beras Putih Lebih Sehat dari Beras Merah? Ini Penjelasannya

Ilustrasi beras. (Pixabay)

Penulis: Gloria, Editor: Arif Sodhiq - Senin, 23 Mei 2022 | 07:00 WIB

Sariagri - Beras putih seringkali dihindari ketika seseorang melakukan program diet. Biasanya, seseorang akan menggantinya dengan beras merah.

Melansir Woman's World, perdebatan soal beras masih sering terjadi. Nasi merah sering dianggap sebagai pilihan yang baik karena gandum utuh dan biji-bijian yang tidak diproses.

Biji-bijian utuh dianggap lebih sehat karena mengandung lebih banyak serat. Serat adalah nutrisi yang diketahui dapat menurunkan kolesterol, mengontrol gula darah, dan mengatur pencernaan.

Memang benar beras merah mengandung lebih banyak serat daripada putih karena tidak dimurnikan, tetapi jenis seratnya penting untuk diperhatikan.

Terdapat dua jenis serat yaitu larut dan tidak larut. Serat larut menyerap air untuk melunakkan tinja di saluran pencernaan, membuatnya lebih mudah untuk dikeluarkan. Perlahan-lahan membentuk massal dan memicu peristaltik, yang merupakan kontraksi usus yang membantu limbah bergerak melalui sistem.

Tidak hanya itu, serat larut juga berfermentasi di saluran pencernaan untuk membantu meningkatkan keseimbangan bakteri di usus.

Sementara itu, serat tidak larut tidak menyerap air atau berfermentasi. Karena tidak dipecah sama sekali, ia membentuk massa keras di usus. Bila dikonsumsi dalam jumlah banyak, justru dapat menyebabkan peradangan, ketidaknyamanan, kembung, gas, dan lainnya.

Dokter pengobatan naturopati Liz Carter menjelaskan serat tidak larut bisa sangat merugikan usus.

"Beras merah mengandung serat tidak larut yang keras dan menjengkelkan. Nasi putih tidak," tuturnya.

“Saya telah melihat beras merah sangat sulit ditangani untuk pasien saya dengan masalah usus. Lebih baik fokus pada makanan berserat larut yang memberi makan kesehatan usus Anda. Jika Anda berjuang dengan masalah pencernaan seperti sembelit dan ingin mengonsumsi lebih banyak serat, pertimbangkan untuk menambahkan lebih banyak makanan dengan serat larut ke dalam makanan Anda," katanya kemudian.

Beras merah juga mengandung asam fitat dan arsenik. Asam fitat dikenal sebagai antinutrisi karena menghambat kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi tertentu seperti zat besi, seng dan kalsium.

Makan dalam jumlah besar pada akhirnya dapat menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral. Beras merah juga lebih tinggi arsenik, yang merupakan logam berat beracun yang, bila dikonsumsi dari waktu ke waktu, dapat meningkatkan risiko penyakit seperti kanker, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.

Baca Juga: Benarkah Beras Putih Lebih Sehat dari Beras Merah? Ini Penjelasannya
Bulog Janji Bakal Stabilkan Harga Jagung dan Kedelai

Memproses biji-bijian sebenarnya menghilangkan serat penyebab peradangan (yang membuatnya lebih mudah dicerna) dan menurunkan jumlah asam fitat dan arsenik, membuat nasi putih menjadi pilihan yang lebih sehat.

Nasi putih memang memiliki indeks glikemik yang sedikit lebih tinggi daripada beras merah sehingga dapat meningkatkan kadar gula. Jika sudah mengidap diabetes tipe 2, pradiabetes atau gula darah tinggi sebaiknya atur porsi karbohidrat yang dikonsumsi.

Video Terkait