Cadangan Gandum Dunia Semakin Menipis Dampak Perang Rusia-Ukraina

Tanaman pangan gandum. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 22 Mei 2022 | 14:30 WIB

Sariagri - Persediaan gandum di dunia mulai menipis. Saat ini cadangan gandum dunia hanya tersisa untuk 10 minggu ke depan.  Pernyataan itu diungkapkan pakar kerawanan pangan kepada PBB, dilansir insider, Minggu (22/5). 

Sementara itu, CEO Gro Intelegence, Sara Menker mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa perang Rusia-Ukraina bukan penyebab krisis ketahanan pangan tetapi "hanya menambahkan bahan bakar ke api yang sudah lama berkobar."

Ukraina dianggap sebagai "keranjang roti" dunia. Gabungan Rusia dan Ukraina menyumbang hampir sepertiga dari ekspor gandum dunia. Ini terjadi ketika Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menuduh Rusia menggunakan makanan sebagai senjata. 

Blinken yang juga berbicara kepada Dewan Keamanan PBB, mengatakan Rusia menyandera makanan tidak hanya untuk Ukraina tetapi juga jutaan orang di dunia.

"Pemerintah Rusia tampaknya berpikir menggunakan makanan sebagai senjata akan membantu mencapai apa yang belum dilakukan dalam invasi - untuk mematahkan semangat rakyat Ukraina," kata Blinken.

Menker mengatakan kekeringan di dunia berkontribusi terhadap penurunan sumber daya gandum. Pasokan pangan global, lanjut dia, juga dipengaruhi perubahan iklim dan kekurangan pupuk.

"Saat ini kita hanya memiliki persediaan konsumsi global selama 10 minggu di seluruh dunia. Kondisi saat ini lebih buruk dari tahun 2007 dan 2008," katanya.

Dia mengutip perkiraan dari lembaga resmi pemerintah, persediaan gandum 33% dari konsumsi tahunan. Namun dia menambahkan model yang dibuat Gro Intelligence menunjukkan angka itu mungkin mendekati 20%.

Baca Juga: Cadangan Gandum Dunia Semakin Menipis Dampak Perang Rusia-Ukraina
MigorRakyat Diluncurkan Agar Penjualan Minyak Goreng Curah Tepat Sasaran

"Penting untuk dicatat tingkat persediaan biji-bijian terendah yang pernah ada di dunia sekarang terjadi sementara akses ke pupuk sangat terbatas," katanya.

"Kekeringan di daerah penghasil gandum di seluruh dunia adalah yang paling ekstrem selama lebih dari 20 tahun. Masalah inventaris serupa juga berlaku untuk jagung dan biji-bijian lainnya," tandasnya. 

 

Video Terkait