Babak Baru Pemulihan Krisis Pangan Global Akibat Konflik Rusia-Ukraina

Tanaman gandum. (Piqsels)

Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 22 Mei 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), António Guterres menekankan kompleksitas situasi yang dihadapi dunia saat ini terkait kondisi pangan, energi dan keuangan.

“Progres telah dilakukan untuk mengatasi krisis Pangan, dengan prioritas mengembalikan ekspor bahan pangan dari Ukraina dan Rusia dalam waktu dekat. Berbagai kemungkinan juga telah dikaji untuk solusi atas krisis Keuangan. PBB juga memerlukan masukan dan dukungan dari negara-negara dunia untuk mengatasi krisis Energi,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Sekjen PBB dalam pesan pembukaan Pertemuan Pertama Champions Group of the GCRG on Food, Energy, and Finance secara virtual. Pertemuan ini juga dihadiri Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, selaku Sherpa GCRG (Global Crisis Response Group) mewakili Presiden Joko Widodo.

Pertemuan itu membahas rekomendasi solusi untuk mengatasi tantangan besar yang saling terkait dalam mewujudkan ketahanan pangan, energi, dan keuangan global, akibat konflik Rusia-Ukraina.

Kanselir Jerman, Olaf Scholz menyampaikan tiga pandangan utama dalam pertemuan itu.

Pertama, Jerman telah mengambil peran sebagai salah satu Donor terbesar di dunia dengan mengalokasikan 430 juta Euro untuk mengatasi kebutuhan mendesak dari krisis Pangan. Jerman juga akan menginvestasikan miliaran Euro dalam kegiatan terkait ketahanan Pangan, kerja sama pembangunan, dan bantuan kemanusiaan.

Kedua, pada area food security, bersama dengan World Bank, Jerman telah mengusulkan Global Alliance for Food Security untuk meningkatkan ketahanan pangan global. Usulan itu telah disepakati anggota G7 lainnya pada G7 Agriculture Minister Meeting.

Ketiga, Jerman menyayangkan disinformasi terkait efek dari sanksi ekonomi. Rusia mengklaim penggunaan sanksi merupakan penyebab kenaikan harga dan kekurangan pangan. Sementara faktanya, saat ini 25 juta ton gandum Ukraina tidak dapat diekspor karena blokade Rusia terhadap pelabuhan Laut Hitam.

Kanselir Jerman juga menyerukan penghentian perang.

“Sanksi yang ada selama ini adalah sebagai reaksi atas pelanggaran terang-terangan Rusia terhadap Piagam PBB. Sanksi tidak menargetkan komoditas Pangan, termasuk ekspor Gandum Rusia. Tidak ada sanksi terhadap upaya Kemanusiaan. Perang harus segera dihentikan,” tegas Olaf Scholz.

Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina menegaskan dukungan negaranya untuk penghentian perang dan sanksi yang berdampak pada berbagai aspek di banyak negara di dunia.

Baca Juga: Babak Baru Pemulihan Krisis Pangan Global Akibat Konflik Rusia-Ukraina
Angka Kelaparan Dunia Capai Rekor Tertinggi di 2021

Untuk merespon kondisi saat ini, Hasina menyerukan agar solidaritas global dan lembaga pembiayaan internasional diperkuat. Dukungan yang tepat sasaran perlu diberikan kepada negara yang rentan termasuk akses pasar, rantai pasok, logistik global dan akses pembiayaan.  Diperlukan pula dukungan teknologi dan penelitian untuk sektor pertanian.

Sekjen PBB menutup pertemuan dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh Champions GCRG.  

"Kita berharap akan ada sebanyak mungkin pengaruh positif dari forum ini, G7, G20 dan semua aktor kunci lainnya,” pungkasnya. 

 

Video Terkait