Gawat! Stok Gandum Pabrik Makanan Instan Sisa Bulan Depan

Tanaman gandum. (Piqsels)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 18 Mei 2022 | 20:30 WIB

Sariagri - Pengusaha makanan olahan mengatakan jika stok gandum hanya tersisa sekitar sebulan. Lantas kondisi ini begitu mengkhawatirkan, mengingat salah satu sumber gandum dunia, yakni India sedang melarang ekspor komoditas satu ini.

"Gandum saya cek ke anggota kira-kira sampai Juni cukup, cuma masalahnya kontrak yang sedang dijajaki dengan India dan sebagainya harus dicarikan setelah Juni," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman, seperti dinukil dari CNBC.

Kendati demikian, India tetap membuka peluang ekspor gandum kepada beberapa negara tertentu. Tercatat, India mengekspor 1 juta ton gandum pada bulan April, terutama pada negara tetangga seperti, Bangladesh, Nepal, dan Sri Langka.

"Saya dapat informasi pemerintah India melarang ekspor gandum tapi masih ada peluang G2G (dialog antarpemerintah). Mudah-mudahan G2G kita jalan dengan India, sehingga bisa kasih kesempatan untuk impor gandum dari India. Support G2G sangat penting, saya dengar ada beberapa negara yang mengkomunikasikan dan mendapat respon baik dari India. Ini harus diupayakan pemerintah agar kesediaan bahan baku Indonesia bisa dicukupi," katanya.

Adhi menjelaskan, perusahaan dari beberapa negara lain masih ada yang mengupayakan dengan cara Business to Business (B2B). Perusahaan Indonesia harus mulai mengalihkan kebutuhan yang selama ini dari India, dipindahkan ke negara produsen gandum lain seperti Kanada hingga Amerika Serikat.

Terlebih, kebutuhan gandum Indonesia sangat besar, mencapai 11,5 juta ton gandum per tahun. Jika tidak, produsen pun sudah mulai mengambil langkah lainnya, yakni substitusi bahan baku.

Baca Juga: Gawat! Stok Gandum Pabrik Makanan Instan Sisa Bulan Depan
Tepung Telur, Solusi Tepat Saat Harga Sedang Tak Bersahabat

"Dari perusahaan harus mencoba mengembangkan produk baru dari substitusi gandum. Memang ngga mudah, tapi mau nggak mau dilakukan, apa gandumnya berkurang 10-20%, itu cukup membantu. Ini harus dikembangkan, dengan catatan substitusi bahan baku lain tercukupi dari dalam negeri juga. Jangan sampai gandum ngga ada, kita impor yang lain," sebut Adhi.

"Indonesia luas potensinya, besar tapi harus disiapkan dari hulunya, jangan sampai kekurangan, apa itu sagu, tapioka tepung-tepungan lain yang harus kita siapkan dari dalam negeri," pungkasnya.

Video Terkait