Ekspor Ukraina Tersendat, 44 Juta Penduduk Dunia Dibayangi Kelaparan

Ilustrasi jagung. (pixabay)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Reza P - Senin, 9 Mei 2022 | 17:00 WIB

Sariagri - Perang Rusia-Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Sementara dampak perang sudah mulai mengkhawatirkan yaitu ancaman krisis pangan global karena tersendatnya pasokan pangan dari Ukraina.

Kombinasi Ukraina-Rusia menyumbang sekitar 30 persen dari ekspor gandum global dan 20 persen dari ekspor jagung dalam tiga tahun terakhir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan penutupan rute laut akibat perang menyebabkan biji-bijian tertahan di Pelabuhan Ukraina.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengatakan hampir 25 juta ton biji-bijian saat ini tertahan di Ukraina.

Gangguan pasokan dan kenaikan harga dampak konflik Rusia-Ukraina telah mengancam situasi pangan di Timur Tengah, Afrika dan sebagian Asia, terutama negara yang sudah dalam krisis.

The World Food Programme (WFP) menyerukan pembukaan kembali pelabuhan di Odessa, Ukraina selatan sehingga hasil produksi pangan dari negara itu dapat diekspor ke berbagai penjuru dunia.

Saat ini gudang gandum Ukraina sudah terisi penuh. Ironisnya, pada saat bersamaan, 44 juta penduduk dunia berbaris menuju kelaparan. Pasokan pangan dari Ukraina sangat dibutuhkan untuk menghindari ancaman kelaparan.

Sebelum perang, sebagian besar produksi pangan Ukraina diekspor melalui tujuh pelabuhan di negara itu. Namun pemblokiran pelabuhan dampak perang, jutaan ton biji-bijian disimpan dalam silo di Odessa dan pelabuhan lainnya.

Baca Juga: Ekspor Ukraina Tersendat, 44 Juta Penduduk Dunia Dibayangi Kelaparan
Krisis Pangan Dunia Menghadang, Siap-siap Harga Naik

Konflik Rusia-Ukraina telah mendorong kenaikan harga gandum, jagung dan minyak sayur di pasar internasional. Pada Maret 2022 harga pangan naik 12,6 persen dari Februari 2022 atau sudah mencapai level tertinggi sejak tahun 1990.

Konflik yang sedang berlangsung di Ukraina telah menciptakan ancaman terhadap ketahanan pangan global di masa depan. Bentuk ancaman itu kenaikan harga dan penurunan kemampuan produksi.

Video Terkait