Ramah Lingkungan, Makanan Berbasis Jamur Bisa Kurangi Emisi GRK

Ilustrasi makanan jamur. (pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 5 Mei 2022 | 20:30 WIB

Sariagri - Isu lingkungan seperti deforestasi dan emisi gas rumah kaca kini menjadi perhatian dunia industri makanan masa depan untuk menjadikan bumi tetap nyaman ditinggali.

Selain makanan berbasis tanaman dan daging laboratorium, para ahli menyebutkan, makanan berbasis jamur juga bisa menjadi solusi makanan paling ramah lingkungan di masa depan.

Jika masyarakat dunia mengganti hanya 20 persen konsumsi daging merahnya dengan protein mikroba setiap hari hingga tahun 2050, maka angka deforestasi dan produksi emisi CO2 serta metana akan berkurang hingga separuhnya, kata para peneliti.

Penelitian baru tersebut dilakukan di Institut Potsdam, Jerman dan diterbitkan di Nature. Protein mikroba ini bisa dihasilkan dari jamur dalam tangki fermentasi.

"Penggantian daging ruminansia dengan protein mikroba di masa depan dapat sangat mengurangi jejak gas rumah kaca dari sistem pangan," kata penulis studi Florian Humpenöder di Climate Impact Research (PIK) Jerman, seperti ditulis dailymail.co.uk.

Jadi masyarakat tak perlu khawatir hanya bisa atau hanya boleh makan sayuran saja.

"Kita bisa terus makan burger dan sejenisnya, hanya saja roti burger itu akan diproduksi dengan cara yang berbeda," kata Humpenöder.

"Sistem pangan adalah akar dari sepertiga emisi gas rumah kaca global, dengan produksi daging ruminansia menjadi sumber tunggal terbesar," kata Humpenöder.

Tapi 'protein mikroba' yakni biomassa kaya protein bergizi dengan tekstur seperti daging yang dihasilkan dari mikroba melalui proses fermentasi bisa menjadi bagian dari solusi.

"Kami menemukan bahwa jika kami mengganti 20 persen daging ruminansia per kapita pada tahun 2050, maka deforestasi tahunan dan emisi CO2 dari perubahan penggunaan lahan akan berkurang setengahnya dibandingkan dengan skenario konsumsi daging merah seperti saat ini," kata Humpenöder.

Dalam permodelan penelitian mereka, pengurangan konsumsi daging merah yang lebih besar juga otomatis akan menghasilkan pengurangan deforestasi dan emi gas rumah kaca dari CO2 dan metana yang lebih besar lagi.

Berkurangnya jumlah ternak (akibat berkurangnya konsumsi daging merah) tidak hanya mengurangi tekanan pada lahan, tetapi juga mengurangi emisi metana dari rumen ternak dan emisi nitro oksida dari pemupukan pakan atau pengelolaan kotoran.

Baca Juga: Ramah Lingkungan, Makanan Berbasis Jamur Bisa Kurangi Emisi GRK
Peringati Hari Ozon Sedunia, Menteri LHK Soroti Hal Ini



"Jadi mengganti daging merah dengan protein mikroba akan menjadi awal yang baik untuk mengurangi dampak merugikan dari produksi daging sapi saat ini," imbuhnya.

Para peneliti mengakui bahwa daging yang ditanam di laboratorium adalah teknologi tambahan yang mungkin memainkan peran penting dalam menggantikan protein hewani di masa depan, tetapi metode tersebut mahal dan membutuhkan energi yang tinggi. Sebaliknya, protein mikroba yang berasal dari fermentasi jauh lebih sederhana dan murah.

Video Terkait