Krisis Pangan Dunia Menghadang, Siap-siap Harga Naik

Ilustrasi - Jagung pakan. (Pixnio)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Rabu, 4 Mei 2022 | 10:00 WIB

Sariagri - Krisis pangan mulai merambat ke sejumlah negara. Dimulai dari keterbatasan pasokan, anjloknya produksi karena cuaca ekstrem, mahalnya sejumlah komoditas pokok akibat konflik berkepanjangan Rusia-Ukraina, dan penguncian wilayah Covid-19 di China. Kini, banyak negara menahan stok pangan guna kepentingan dalam negeri daripada ekspor.

Bagi Indonesia yang bergantung dari pangan impor sangat berat beban yang dihadapi sekarang ini. Ingin berupaya tegar namun tak kuasa karena kocek devisa untuk impor terbatas, yakni hanya sebesar 139,1 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor.

Pelan tapi pasti, harga komoditas pokok seperti jagung dan kedelai mulai tinggi sekarang ini. Padahal, kedua komoditas itu sangat penting bagi kebutuhan pokok. Artinya, kenaikan harga jagung dan kedelai bakal merembet ke berbagai produk makanan maupun pakan hewan.

Saat ini harga jagung telah melambung 37 persen sepanjang tahun ini dan bertengger di level 81,4 dolar AS per gantang. Sedangkan harga kedelai di posisi 16,7 dolar AS per gantang, melonjak 25,8 persen. Harga kedua komoditas itu telah mencapai level tertinggi sejak 2012.

Seperti pengalaman sebelumnya, apabila harga jagung dan kedelai mencapai level tertinggi, efeknya akan luas. Sebab, keduanya dipakai sebagai bahan baku di sektor pangan, di antaranya untuk pakan ternak dan bahan baku minyak nabati.Kenaikan bahan-bahan utama itu juga bisa meluas ke biaya produksi makanan mulai dari daging babi hingga Pepsi

Naiknya harga pangan otomatis menggerus daya beli masyarakat. Inilah yang terjadi di Amerika Serikat (AS) sekarang ini, inflasinya naik 8,8 persen dari tahun sebelumnya pada Maret 2022.

Sebuah catatan menilai nilai impor jagung Indonesia pada Januari-Februari 2022 senilai 71,18 juta dolar AS atau setara Rp1,01 triliun, naik 596 persen year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Meski naik namun laju pertumbuhan volume impor jagung Indonesia tidak setinggi nilainya. Volume impor jagung pada Januari-Februari 2022 tercatat 208,6 ribu ton, naik 294 persen yoy dibanding periode yang sama tahun 2021. 

Maknanya, biaya impor jagung semakin mahal dan bisa menekan neraca dagang Indonesia dari sisi impor.

Hal serupa dengan  impor kedelai. Tingginya harga kedelai menahan penurunan nilai impor hanya 3 persen yoy, meskipun volume impor jatuh 14 persen yoy

Nilai impor kedelai Indonesia pada Januari-Februari 2022 senilai 194,44 juta dolar AS atau setara Rp2,78 triliun, turun 3 persen year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Sementara volume impor kedelai tercatat 338,9 ribu ton, turun 14 persen yoy.

Kenaikan harga jagung dan kedelai membebani para peternak ayam dan telur. Sebab jagung adalah komponen pakan ternak. Ketika harga jagung tinggi, harga pakan ternak pun turut melambung. Akibatnya, harga ayam potong dan telur bakal naik. 

Baca Juga: Krisis Pangan Dunia Menghadang, Siap-siap Harga Naik
Harga Minyak Kedelai Melonjak setelah Indonesia Larang Ekspor Minyak Sawit

Krisis di depan mata. Terbayangkan harga-harga pangan bakal naik. Saat harga kedelai naik beberapa waktu lalu kemudian perajin tempe dan tahu protes, suasananya sudah memanas saling menyalahkan. Suasana yang sama ketika minyak goreng langka. Padahal Indonesia produsen bahan baku minyak goreng terbesar dunia. 

Siap atau tidak siap krisis pangan harus kita hadapi. Untuk itu, saat ini momentum tepat untuk menjaga konsumsi dan meningkatkan produktivitas. Sebagai negara agraris seharusnya kita mampu mandiri pangan.

Video Terkait