Harga Minyak Kedelai Melonjak setelah Indonesia Larang Ekspor Minyak Sawit

Ilustrasi - Komoditas kedelai. (Dok, Kementan)

Editor: Yoyok - Kamis, 28 April 2022 | 09:30 WIB

Sariagri - Harga minyak kedelai atau soybean oil (soyoil) berjangka Amerika Serikat (AS) melonjak ke rekor tertinggi setelah Indonesia memperluas larangan ekspor bahan mentah untuk minyak goreng guna memerangi inflasi pangan.

Reuters melaporkan harga soyoil berjangka Chicago Board of Trade (CBOT) untuk kontrak pengiriman Juli ditutup melonjak 2,29 dolar AS menjadi 84,72 dolar AS per pon pada Rabu (27/4) atau Kamis (28/4) pagi WIB. Kontrak tersebut mencapai puncak tertinggi sepanjang masa di 85,77 pada awal sesi.

"Langkah (Indonesia) secara dramatis memperketat pasokan minyak nabati global yang membuat harga internasional melonjak ketika invasi Rusia ke Ukraina mengambil pasokan minyak bunga matahari Ukraina dari pasar," ucap Kepala Ekonom StoneX, Arlan Suderman.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah melarang ekspor semua produk turunan kelapa sawit ke luar negeri. Baik itu CPO, RPO, RDB Palm Olein, Pome dan Use Cooking Oil. Larangan ini akan berlaku mulai 28 April 2022. Sebelumnya, larangan itu hanya ditetapkan untuk minyak sawit yang dimurnikan, diputihkan, dan dihilangkan baunya.

Jagung berjangka juga reli, dengan kontrak yang paling aktif mencapai level tertinggi dalam hampir satu dekade karena prospek cuaca menunjukkan sedikit bantuan dari cuaca dingin dan basah.

Prakiraan terbaru itu mengancam akan mendorong penanaman jagung melewati masa ideal di banyak daerah di kawasan Midwest Amerika, yang dapat menyebabkan prospek panen turun pada tahun ketika pasokan biji-bijian global sudah ketat.

"Kita tidak bisa kehilangan hektare dan kita tidak bisa kehilangan hasil panen," kata John Zanker, analis Risk Management Commodities di Indiana.

Sementara itu, harga kedelai berjangka CBOT untuk kontrak pengiriman Juli ditutup naik 21 dolar AS menjadi 1.692,75 dolar AS per bushel.

Baca Juga: Harga Minyak Kedelai Melonjak setelah Indonesia Larang Ekspor Minyak Sawit
Panen AS Terkendala Cuaca, Harga Gandum dan Jagung Menguat

Jagung berjangka CBOT Juli menguat 10,75 dolar AS menjadi 812,25 dolar AS per bushel, setelah kontrak teraktif itu menyentuh level tertinggi sejak Agustus 2012.

Gandum berjangka sebagian besar lebih rendah, dengan patokan CBOT Juli turun 3,75 dolar AS menjadi 1.091,25 dolar AS per bushel.

Video Terkait