Ancaman Bencana Krisis Pangan di Depan Mata Akibat Perang di Ukraina

Warga ukraina menyelematkan diri dari Invasi Rusia (Antara via Reuters)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Jumat, 22 April 2022 | 12:10 WIB

Sariagri - Presiden Bank Dunia, David Malpass, mengingatkan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi krisis pangan yang timbul dari konflik Rusia-Ukraina. 

Hal itu disampaikan David Malpass dalam sebuah wawancara dengan BBC seperti dikutip sejumlah media, Jumat (21/4).

Malpass memperingatkan bahwa rekor kenaikan harga pangan akan mendorong ratusan juta orang ke dalam kemiskinan dan gizi yang lebih rendah, jika krisis Rusia-Ukraina terus berkepanjangan.

"Ini bencana manusia, artinya nutrisi turun. Tapi kemudian itu juga menjadi tantangan politik bagi pemerintah yang tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak menyebabkannya dan mereka melihat harganya naik," ujar Malpass di sela-sela pertemuan IMF-Bank Dunia di Washington DC.

Bank Dunia menghitung mungkin ada kenaikan besar hingga 37 persen dalam harga pangan, yang naik bagi masyarakat miskin yang akan makan lebih sedikit dan memiliki lebih sedikit uang untuk hal lain seperti sekolah.

Menurutny, krisis lonjakan harga tersebut  juga merupakan imbas dari penyebaran COVID-19. "Lonjakan harga itu mempengaruhi makanan dari semua jenis minyak, biji-bijian, dan kemudian masuk ke tanaman lain, tanaman jagung, karena harga mereka naik ketika gandum naik," paparnya.

Baca Juga: Ancaman Bencana Krisis Pangan di Depan Mata Akibat Perang di Ukraina
Gawat! Tertinggi Sejak 2011, Kenaikan Harga Pangan Ancam Warga Miskin di Dunia

Malpass mengungkapkn ada cukup makanan di dunia untuk memberi makan semua orang dan stok global besar menurut standar, tetapi harus ada proses berbagi atau penjualan yang membuat makanan bisa diakses untuk mereka yang membutuhkan.

Malpass mengimbau agar negara-negara di dunia mensubsidi produksi atau membatasi harga yang tinggi.

Selain itu, ia juga memperingatkan krisis yang timbul dari ketidakmampuan negara-negara berkembang untuk membayar utang pandemi yang besar, di tengah kenaikan harga pangan dan energi.

Video Terkait