Shanghai Lockdown, Harga Makanan Melonjak Disertai Ancaman Kelaparan

Ilustrasi suasana lockdown. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Selasa, 19 April 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Lockdown di Shanghai, China, menimbulkan masalah baru yaitu menipisnya ketersediaan pangan. Tidak peduli orang kaya atau miskin, mereka semua kesulitan mendapatkan makanan.

Penduduk Shanghai berjuang untuk menemukan makanan selama lockdown yang sudah berjalan selama berminggu-minggu. Keterbatasan makanan menyebabkan protes dan sangat menguji strategi 'Zero COVID' oleh pemerintah China.

Mengutip laporan Bloomberg, sebanyak 25 juta penduduk Shanghai melakukan apa pun demi mendapatkan makanan, salah staunya dengan melakukan barter. Banyak juga yang membuat grup di aplikasi WeChat untuk saling memberi informasi dan jual-beli makanan.

Tetapi pembelian kelompok ada batasnya. "Cara ini benar-benar sulit untuk digunakan oleh orang tua karena sangat bergantung pada grup komunikasi melalui WeChat di mana informasi dari 200 orang diperoleh 20 pesan per detik," kata David Fishman, konsultan industri energi yang membeli roti untuk dirinya dan 60 orang tetangganya seharga 4.200 yuan atau Rp9.443.993 (kurs Rp2.248 per 1 yuan)

Frank Tsai, yang terus berada di apartemennya di Puxi, bagian barat Shanghai, menimbun makanan selama empat hari seperti yang diperintahkan oleh pihak berwenang. Tujuh hari kemudian, persediaannya semakin menipis.

"Saya telah memikirkan makanan dan asupan makanan saya lebih dari yang pernah saya miliki dalam hidup saya," kata Tsai, yang biasanya menyelenggarakan kuliah umum di waktu normal.

Beberapa penduduk terpaksa membayar lebih untuk makanan saat lockdown berlangsung. Seorang penduduk Shanghai bermarga Ma mengatakan dia membayar 400 yuan atau Rp899.427 hanya untuk sekotak mi instan dan soda.

"Saya hanya mencoba untuk menjaga persediaan," katanya. "Saya tidak yakin berapa lama ini akan berlanjut."

Shanghai saat ini menjadi kota yang sunyi dengan keheningan yang hanya dipatahkan oleh robot anjing dan drone yang menyiarkan perintah untuk melakukan test COVID-19 dan anjuran untuk tetap berada di dalam.

Pekerja dengan pakaian hazmat melakukan pengujian di dalam kompleks perumahan, di mana setiap beberapa hari penduduk mengantre untuk swab yang dipenuhi ketakutan akan hasil positif.

Baca Juga: Shanghai Lockdown, Harga Makanan Melonjak Disertai Ancaman Kelaparan
Harga Gandum Melonjak, Mesir Tetapkan Harga Jual Roti Tidak Bersubsidi

Beberapa masyarakat berusaha tetap melihat sisi terangnya walaupun harus terus menerus melakukan tes. Salah satu orang asing yang mengantre untuk tes COVID-19 minggu lalu mengenakan tuksedo lengkap dengan dasi kupu-kupu karena hanya waktu itu saja ia bisa menikmati dunia luar.

Banyak pemilik anjing yang tidak dapat mengajak jalan-jalan hewan peliharaan. Mereka terpaksa melatih anjing mereka menggunakan bak pasir untuk buang air atau menyelinap keluar saat tengah malam agar anabul kesayangan dapat buang air.

Video Terkait