Indonesia Tidak Perlu Impor, Stok Gula Masih Cukup Sampai Mei 2022

Ilustrasi gula pasir. (Foto: Unsplash)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Rabu, 2 Maret 2022 | 16:35 WIB

Sariagri - 1,1 juta gula impor diprediksi bakal masuk Indonesia secara bertahap setidaknya hingga Juli 2022. Menurut Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), sebenarnya Indonesia tidak memerlukan impor gula.

Sekjen APTRI M Nur Khabsyin mengatakan bahwa tanpa impor gula sebenarnya stok masih cukup sampai Mei 2022. Ia menjelaskan impor gula pada petani akan berdampak pada harga yang anjlok.

"Tanpa impor stok masih cukup sampai Mei di 2022, Dampak impor pada petani harga jatuh. Sudah bertahun-tahun seperti itu," ujar Khabsyin kepada Sariagri melalui pesan saingkat.

Khabsyin menjelaskan bahwa stok gula akhir Desember 2021 mencapai 1 juta ton. Artinya cukup untuk 4 bulang ke depan, dari Januari sampai April 2022.

Disamping itu, Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak pemerintah segera merevisi acuan Harga pokok Pembelian (HPP) maupun HET gula tani yang sudah enam tahun tidak naik. Sebab, harga patokan sudah tidak relevan lagi sehingga merugikan para petani.

"HPP gula tani sebesar Rp 9.100 per kg dan HET gula Rp 12.500 per kg. Itu sudah 6 tahun tidak naik dan ini sangat merugikan petani," kata Ketua Umum DPN APTRI, Soemitro Samadikoen.

Soemitro mengungkapkan, HPP gula tani saat ini sudah jauh di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP). Harganya kini sudah berkisar di angka Rp 11.000 per kilogram. Padahal, idealnya HPP harusnya berada di atas BPP agar petani tebu bisa merasakan keuntungan.

Baca Juga: Indonesia Tidak Perlu Impor, Stok Gula Masih Cukup Sampai Mei 2022
Candu Impor Makan Korban, Harga Gula Tak Terkendali Melambung Tinggi

"Kami merekomendasikan ke pemerintah untuk menetapkan HPP sebesar Rp 11.500 per kg. Angka tersebut kami anggap wajar agar petani bisa untung dan tidak memberatkan konsumen. Kami minta kenaikan HPP karena bulan Mei sudah memasuki musim giling. Untuk besaran harga acuan HET kami mengusulkan Rp 14.000 per kg atau HET merekomendasikan untuk dihapus saja," kata Soemitro.

APTRI juga menyoroti banyaknya gula rafinasi yang sering bocor di beberapa daerah. Hal ini menunjukkan ada kelebihan jumlah gula yang diimpor. Sekaligus menunjukkan adanya mekanisme dalam perdagangan gula rafinasi yang perlu dibenahi. "Harapan kami impor gula rafinasi dan juga gula konsumsi agar dibatasi," ujarnya.