Benarkah Beras Organik Lebih Rendah Kalori?

Nasi Pulen (Unsplash)

Editor: M Kautsar - Senin, 24 Januari 2022 | 06:00 WIB

Sariagri - Gaya hidup sehat belakangan menjadi pilihan para masyarakat urban. Selain gemar berolahraga, masyarakat saat ini juga sudah mulai beralih untuk mengkonsumsi makanan sehat, seperti beras organik.

Menurut Spesialis Gizi dari Rumah Sakit Pelni Jakarta, Jovita Amelia tidak ada perbedaan kandungan gizi antara beras organik dan beras konvensional. Kedua jenis beras ini dianggap berbeda hanya karena cara penanamannya.

"Kalau kandungan gizi (di dalam beras organik dan konvensional) sama aja. Kalori dan lainnya sama, yang beda cuma cara menanamnya. Orang kan, takut kena pestisida, (beras organik) tidak ada rekayasa genetika semuanya alami (jadi banyak orang pilih jenis ini)," ujarnya kepada Sariagri, beberapa waktu lalu. 

Sementara itu, Jovita menjelaskan semua jenis beras, seperti beras merah, hitam dan putih juga memiliki kandungan gizi dan kalori yang sama. Hanya saja, kandungan serat yang terkandung dalam beras merah dan hitam lebih tinggi dari beras putih, sehingga sering digunakan oleh pelaku diet.

"Kalau beras merah itu seratnya per 100 gram sekitar 3,32 gram. Sedangkan kalau beras hitam itu fibernya 4,5 gram per 100 gram," jelasnya.

Selain itu, indeks glikemik yang terkandung dalam beras merah dan beras hitam juga lebih banyak dibandingkan beras putih. Tak heran, dua jenis beras ini sering disarankan untuk penderita diabetes.

"Kalau beras hitam itu (indeks glikemiknya) 42,3 gram itu termasuk rendah. Sedangkan kalau beras merah itu (indeks glikemiknya) sekitar 50 - 55 gram. Indeks glikemik beras merah lebih rendah karena seratnya lebih tinggi," jelasnya.

Baca Juga: Benarkah Beras Organik Lebih Rendah Kalori?
Asal Usul Beras Cianjur yang Banyak Digemari Masyarakat



Lebih lanjut Jovita menerangkan, beras hitam yang memiliki indeks glikemik lebih rendah disarankan untuk penderita diabetes. Selain itu, beras hitam juga dapat dikonsumsi pelaku diet serta untuk penderita kolesterol tinggi.

"Kalau kolesterol kan hubungannya dengan penyakit jantung ya. Orang penyakit jantung kolesterolnya tinggi, jadi disarankan untuk konsumsi makanan ini. Tapi bukan buat pengobatan cuma untuk preventif (pencegahan)," jelasnya.

Video terkini:

Video Terkait