Tim ITS Ciptakan Teknologi Tepat Guna Genjot Produktivitas dan Nilai Jual Porang

Komunitas Petani Porang (KOMPPOR) Majapahit Pacet, Mojokerto, Jawa Timur memanen umbi porang.(Sariagri/Arief L)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 18 Januari 2022 | 14:50 WIB

Sariagri.id - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan hasil alamnya, salah satunya porang. Tanaman umbi ini punya prospek bagus sehingga semakin banyak petani yang membudidayakannya. Namun selama ini porang lebih banyak dijual dalam bentuk umbi sehingga potensi ekonominya masih rendah. 

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat pencuci, perajang dan pengering untuk meningkatkan nilai jual porang. Ketua Tim Abmas ITS, Atria Pradityana ST MT megatakan pihaknya menggagas teknologi agar porang memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Saat ini harga umbi porang di kisaran Rp10.000-Rp13.000 per kilogramnya. Karena itu, tim menggagas suatu teknologi yang ditujukan untuk mengolah porang sehingga dapat meningkatkan penghasilan para petani,” ujar Atria dalam rilis yang dibagikan kepada Sariagri,id, Selasa (18/1/22).

Menggandeng Komunitas Petani Porang (KOMPPOR) Majapahit Pacet, Mojokerto, Tim Abmas ITS menawarkan alat untuk mengolah umbi porang menjadi keripik dan tepung. Kedua produk ini memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding umbi porang mentah.

“Chips porang biasa dihargai sekitar Rp55.000-Rp75.000 per kilogram sedangkan harga tepung porang dapat mencapai Rp200.000-Rp300.000 per kilogramnya,” kata Atria.

Untuk mencapai tujuan pembuatan dua produk itu, lanjut dia, dibutuhkan mesin pengolahan berupa TTG.

“TTG yang diberikan kepada mitra ini dilengkapi dengan Standard Operating Procedure (SOP) penggunaan dan perawatan, paper, hingga hak paten,” katanya.

Untuk mendapatkan chips porang berkualitas diperlukan tahapan proses mulai dari pencucian porang, perajangan, dan pengeringan.

TTG rancangan tim Abmas ITS dibuat untuk menjawab kendala yang selama ini dihadapi berupa faktor efisien dan kontak langsung dengan umbi porang yang getahnya beracun.

Atria menjelaskan cara kerja dari alat ini sangat sederhana dengan memanfaatkan putaran motor untuk memutar poros yang terdapat penyikat dari baut karet yang dipasang sesuai desain dan perencanaan untuk mencuci umbi porang.

Baca Juga: Tim ITS Ciptakan Teknologi Tepat Guna Genjot Produktivitas dan Nilai Jual Porang
Pabrik Porang di Sumut Diharapkan Mampu Tingkatkan Ekspor

Setelah proses pencucian selesai, umbi porang diarahkan ke bagian mesin pencacah melalui pengarah dan dipotong sesuai dengan ketebalan yang diinginkan yaitu berkisar antara 3-4 milimeter.

“Setelah menggunakan TTG ini diharapkan proses produksi dapat lebih cepat, menghemat energi, dan produksi keripik bisa meningkat. Selain itu semoga alat ini bisa meningkatkan kesejahteraan para petani umbi porang,” pungkasnya.

Video:

Video Terkait