Cerita Muhammad Nur Rijaldi Ciptakan Strip Buah ala Nori Rumput Laut

Muhammad Nur Rijaldi menghadirkan produk strip buah Fruitivez. (Foto Istimewa)

Editor: M Kautsar - Rabu, 12 Januari 2022 | 15:50 WIB

Sariagri - Salah satu cara memenuhi kebutuhan nutrisi harian adalah rajin konsumsi buah. Selain enak untuk dikonsumsi, panganan satu ini kaya akan vitamin dan mineral yang penting untuk tubuh.

Hampir semua jenis buah tropis di Indonesia memiliki kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Sayangnya, di era yang serba cepat ini tidak sedikit masyarakat sering mencari produk dari buah yang praktis dan siap makan. 

Hal ini pun membuat seorang lulusan Teknologi Industri Pangan, Universitas Padjajaran, Muhammad Nur Rijaldi menghadirkan produk Fruitivez. Produk berupa strip buah dengan bentuk seperti nori rumput laut. 

Sejak 2018, Rijaldi telah melakukan riset dan mencoba mengeluarkan produk dengan nama Mango Day. Karena saat itu ia hanya menggunakan buah mangga. Namun, seiring perkembangan bisnisnya, Rijaldi mengubah nama produknya menjadi Fruitivez sejak 2020 dengan menghadirkan empat varian rasa. 

Nah, bagaimana sih perjalanan pria 26 tahun ini mengambangkan produknya hingga siap jual seperti saat ini? Simak petikan wawancaranya dengan Sariagri.id berikut ini.

Boleh jelaskan apa itu Fruitivez?

Fruitives itu cemilan sehat yang bentuknya fruit strip atau lembaran yang dibuat dari pure atau bubur bua yang dikeringkan menggunakan oven. Produk ini mirip dengan nori rumput laut, tetapi dibuatnya dari buah.

Dari mana ide membuat produk fruit strip ini?

Kalau idenya sendiri ada waktu 2016 saat saya ke Thailand dan menemukan produk turunan dari buah-buahan kering yang disebutnya dry fruit. Karena saya lihat di sana bagus-bagus jadi saya berpikir untuk membuat yang sejenis di Indonesia.

Rencana awal (buat produk ini) saya ingin menciptakan produk buah praktis jadi orang-orang enggak usah repot saat akan makan buah. Jadi konsumen yang ingin makan buah bisa langsung beli produk kami aja.

Kenapa membuat bentuknya fruit strip?

Jadi kalau di luar negeri itu ada namanya fruit leather, bentuknya mirip dengan produk kami tetapi lebih tebal dan teksturnya lebih kenyal mirip permen karena ada tambahan gulanya. Nah, kami ingin membaut yang lebih kering mirip keripik. 

Buah apa yang pertama Anda coba untuk membuat produk ini dan kenapa?

Awalnya kan kami buat dari buah mangga yang memang musiman. Nah, kalau produk kami kan bisa sampai satu tahun jadi enggak usah nunggu musim dulu baru bisa makan buah mangga.

Kemudian, kami ini kan lokasinya di Jatinangor yang dekat dengan Sumedang dan di sana ada beberapa daerah yang punya potensi buah mangga. Kebetulan juga waktu itu ada kakak kelas kami yang memang punya produk olahan dari buah mangga jadi kebetulan start-nya dari situ. 

Kemudian riset-riset cari produk yang punya umur simpan lebih lama dari jus mangga karena kan kalau jus mangga di suhu ruang cuma 3 hari kami ingin pengen bikin produk yang bisa ditaruh di suhu ruang dalam waktu lama. Alhasil ya harus dikeringkan akhirnya buat produk buah yang dikeringkan.

Apa tantangan awal membaut produk ini?

Pertama sih kami pakai oven biasa untuk buat kue cuma gagal. Perlahan-lahan kami belajar teknologinya, belajar alatnya apa aja, bahan bakunya seperti apa ya akhirnya menemukan ada namanya dehidrator sebuah alat mirip oven yang memang khusus untuk mengeringkan buah dan sayur kaya gitu.

Waktu awal pun produknya masih belum sebaik sekarang walaupun sekarang juga masih perlu penyempurnaan lagi. Tapi waktu awal-awal tuh kepikiran kalau nori dari rumput laut, kalau kita dari buah dan memang start-nya dari buah mangga karena memang dekat dari bahan bakunya.

Apa sih keunikan dari produk fruitivez ini?

Produk kami ini sangat cocok sebagai snack sehat. Karena dalam proses pembuatannya produk kami kan enggak pakai campuran bahan apapun termasuk air.

Kalau untuk bahan baku Fruitivez dari mana saja? 

Semua dari lokal untuk bahan baku. Ada beberapa kerja sama dengan petani dan ada beberapa beli dari pasar. Kalau ke petani kan harus dalam jumlah banyak, tetapi kalau beli sendiri hitungannya jadi cost jadi kami kadang beli sendiri ke Pasar Induk Caringin di daerah bandung. Selang seling sih. 

Kalau mangga, kami memang langsung dari koperasi di daerah Cirebon. Jadi di sana sudah ada pengepul dan koperasi tersebut memang mengumpulkan mangga dari petani. Kalau untuk pepaya dan nanas kami kadang ke Subang kalau ada permintaan banyak.

Produk strip buah Fruitivez. (Foto Istimewa)
Produk strip buah Fruitivez. (Foto Istimewa)

Apa saja sih tantangan mengembangkan usaha ini di Indonesia? 

Tantangannya di SDM karena dari 2018 ini kan saya ngerjain sendiri (untuk riset) karena ini memang tugas akhir untuk skripsi saya jadi waktu itu belum ada tim. Ingin menurunkan ide-ide ke teman-teman tuh masih belum bisa dan meyakinkan kalau ada produk potensial tapi pada belum yakin.

Tapi dalam prosesnya kami bikin tim dan sampai sekarang sudah berjalan timnya. Pas prosesnya sekarang ke arah penjualan. Jadi gimana caranya memang masyarakat Indonesia tahu kalau ini fruit strip bukan keripik atau permen.

Kadang kita juga sering disebut pengharum ruangan atau masker. Tapi kami enggak menyerah, jadi kami melakukan brand knowledge dengan konten-konten yang lebih menarik agar konsumen tahu kalau produk kita ini fruitstrips. Makanya kalau di Instagram kami lebih sering membuat konten-konten edukasi untuk memperkenalkan Fruitives ini.

Saat ini pemasaran sudah kemana saja?

Kalau pemasaran online di marketplace (Shopee, Tokopedia, Blibli). Kemarin juga sempat buka di Lazada. Reseller tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Malang, Bali, Lampung pokoknya hampir kota-kota besar.

Sama retail-retail di Jabodetabek sama Bali. Di total buah segar, M Bloc Market dan beberapa store yang memang ke arah organik. Karena kami memang lebih ke sana segmennya dan orang-orang lebih bisa menerima produk kita.

Apa rencana dari Fruitavez ke depannya?

Kalau kami ingin punya sertifikat BPOM karena yang kami punya saat ini baru PIRT dan Halal dan HAKI merek udah ada. Cuma kami masih terbentur sama tempat produksi kalau untuk sertifikat BPOM, karena kami masih ngontrak. Kami ingin menciptakan beberapa varian produk baru tapi masih buah-buah lokal. Kemarin ada tambahan buah salak dan stroberi dari Bandung.

Kemudian ada tawaran sawo dan melon. Kami ingin bisa riset produk-produk varian baru lagi. Bahkan kalau bisa menciptakan varian sayur jadi anak-anak enggak takut lagi lihat brokoli kalau sudah berbentuk lembaran.

Kami juga ingin menciptakan produk menggunakan suhu dingin atau food drying jadi buahnya lebih bagus lagi dan kami ingin punya pabrik sendiri jadi produk kita bisa diekspor. Karena kami pernah pameran di Belanda sama Belgia 70 persen respon dari orang-orangnya cukup positif gitu. Jadi kami bawa 1.500 produk dalam waktu 1 bulan sudah habis jadi potensi market-nya ada. Karena orang justru lebih menyukai buah-buah tropis jadi targetnya bisa ekspor.

Video Terkait



Baca Juga: Cerita Muhammad Nur Rijaldi Ciptakan Strip Buah ala Nori Rumput Laut
Layar TV Ini Dapat Dijilat dan Rasanya Seperti Makanan