Mitos atau Fakta Apakah Lebih Banyak Chef Pria Ketimbang Wanita? Ini Jawabannya

Ilustrasi Chef. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 22 Desember 2021 | 19:40 WIB

Sariagri - Juru masak profesional atau chef adalah orang yang ahli dalam membuat hidangan dan terlatih dalam semua aspek pengolahan makanan. Namun pernahkah terpikir jika kebanyakan chef yang dijumpai merupakan seorang pria ketimbang wanita?

Pakar IPB University dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Dede Robiatul Adawiyah menampik jika chef dominan dilakoni oleh pria. Dia menjelaskan, dalam riset yang Ia lakukan, ternyata nilai threshold sensori antara pria dan perempuan memiliki perbedaan.

“Perempuan ternyata lebih sensitif. Punya kemampuan mendeteksi rasa manis, pada konsentrasi yang lebih rendah, jika dibandingkan dengan pria,” ungkap Dede dikutip dari laman resmi IPB University.

Tetapi, Dede mengungkapkan jika wanita memiliki kelemahan yaitu adanya siklus menstruasi dan kehamilan yang dapat mempengaruhi sensitivitas seseorang. Sehingga dalam hal ini, pengujian sensori memiliki ketentuan gender.

“Tidak boleh hanya pria saja atau perempuan, itu harus seimbang,” ujarnya.

Karena itu, Dede menekankan bahwa hanya pria yang bisa menjadi chef adalah mitos belaka. Menurutnya,  kemampuan sensori tidak ditentukan oleh gender. Untuk memastikan apakah seseorang itu layak sebagai panelis dalam riset sensori (perasa), lanjut Dede, yang diperlukan adalah konsistensi sensori.

“Seseorang dianggap punya performance yang baik dalam evaluasi sensori, ditentukan oleh beberapa ketentuan yakni mampu mendeteksi atau membedakan dan memiliki konsistensi atau bisa memberikan nilai yang sama dari waktu ke waktu dengan produk yang sama,” imbuhnya.

Kendati demikian, Dede mengakui bahwa kemampuan sensori pria lebih konsisten dari wanita sebab tidak dipengaruhi dengan siklus metabolisme yang bervariasi.

“Untuk menghasilkan produk pangan yang sama dari hari ke hari itu perlu konsistensi. Itu yang mungkin bisa jadi kecenderungan kenapa banyak chef itu pria,” katanya.

Lebih lanjut, Dede mengatakan bahwa penggunaan manusia sebagai instrumen ukur yang menjadi lingkup ilmu sensori akan terus digunakan dan berkembang di masa depan. Namun, kata Dede, tantangannya adalah pengontrolan terhadap manusia atau panel sensori yang digunakan.

“Teknik kalibrasi dan validasi panel sensori perlu ditetapkan dan distandarkan untuk meyakinkan hasil pengukuran sensori yang dihasilkan valid, dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” jelasnya.

Baca Juga: Mitos atau Fakta Apakah Lebih Banyak Chef Pria Ketimbang Wanita? Ini Jawabannya
Sajikan Video Budaya & Kuliner Jatim, Mahasiswa UB Juara 1 se-Asia Tenggara

Ia menambahkan, adanya perbedaan kultur, kebiasaan makan di masing-masing negara menyebabkan perbedaan persepsi sensori. Memahami aspek perilaku konsumsi dan sosial di masing-masing negara menjadi kunci dalam bisnis global tersebut.

“Perkembangan ilmu dan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu sensori. Misalnya potensi aplikasi teknologi realitas virtual (VR) dan augmented (AR) dalam ilmu sensori. Bidang riset sensometrik dan biometrik juga akan menjadi fokus pengembangan ilmu sensori di masa datang dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan lain,” pungkasnya.

Video Terkait