Awas Krisis Pangan, FAO Ingatkan Pentingnya Kurangi Limbah Makanan

Ilustrasi sampah makanan (foter)

Editor: M Kautsar - Kamis, 21 Oktober 2021 | 13:10 WIB

Sariagri - Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menyerukan kepada seluruh negara agar meningkatkan upaya untuk mengurangi setengah limbah makanan pada akhir dekade ini.

Organisasi tersebut memperkirakan bahwa sekitar 14 persen dari total produksi pangan dunia hilang antara panen dan eceran. Diperkirakan nilai yang hilang dalam rantai pasokan itu mencapai 400 miliar dolar AS (sekitar Rp5.648 triliun) setiap tahunnya. 

Dalam sambutannya pada peringatan Hari Kesadaran Kehilangan dan Pemborosan Pangan Internasional Kedua beberapa waktu lalu, Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu menyebut sistem pertanian dan pangan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan akan membantu mengurangi kelaparan di dunia dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan. 

Kita perlu mempercepat kemajuan dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 12,3 pada tahun 2030 hingga setengah dari limbah makanan global serta mengurangi hilangnya makanan di sepanjang rantai produksi dan pasokan, kata Qu, seperti dikutip Xinhua News.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environment Program/UNEP) Inger Andersen menjelaskan hilangnya makanan dan limbah menyumbang sekitar sepersepuluh dari emisi gas rumah kaca global.

Mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan secara serius akan memperlambat perubahan iklim, melindungi alam, dan meningkatkan ketahanan pangan pada saat kita sangat membutuhkan hal-hal ini terjadi,” ujar Andersen. 

Baca Juga: Awas Krisis Pangan, FAO Ingatkan Pentingnya Kurangi Limbah Makanan
Ekspor Sampah Plastik Negara Maju Cemari Produksi Telur, Termasuk Indonesia

Sebelumnya, FAO telah memperingatkan adanya ancaman krisis pangan yang akan dihadapi negara-negara di dunia akibat adanya konflik, guncangan ekonomi, dan risiko bahaya iklim.

Dalam laporannya, PBB menyebut sekitar 155 juta orang mengalami kekurangan pangan tingkat krisis pada tahun 2020. Angka itu meningkat sebesar 20 juta dari tahun 2019.

Video terkait:

Video Terkait