Peningkatan Impor Pangan Cina Berdampak Kerusakan Lingkungan Secara Global

Ilustrasi - Sektor pertanian.(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 20 Oktober 2021 | 15:40 WIB

Sariagri - Cina merupakan salah satu negara terpadat di bumi dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Untuk memenuhi kebutuhan makanan yang sangat tinggi, Cina tidak hanya mengandalkan produksi dalam negeri tetapi juga dari impor.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) menganalisa dampak negatif permintaan impor pangan Cina khususnya untuk produk ternak seperti daging dan susu terhadap lingkungan di negara itu dan di dunia.

“Untuk menilai dampak permintaan pangan di masa depan memerlukan analisis komprehensif dari sektor pertanian. Sementara melacak dampak lingkungan global memerlukan model yang mewakili perdagangan dengan wilayah lain secara individu,” ujar peneliti utama Hao Zhao.

Dalam studi yang telah diterbitkan di jurnal Nature Sustainability itu, para peneliti memproyeksikan, permintaan makanan di Cina terus meningkat, terutama untuk produk peternakan dan tanaman pakan dan biji-bijian.

Permintaan itu sejalan dengan penambahan luas padang rumput dan peningkatan emisi gas rumah kaca sektor pertanian di seluruh dunia, terutama mitra dagang Cina. Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan tantangan yang lebih signifikan bagi pembangunan pertanian domestik berkelanjutan.

Studi itu mengungkapkan pada tahun 2050 akan ada dua kali lebih banyak lahan pertanian yang hasilnya dikirim ke Cina. Untuk negara tertentu, rata-rata sekitar 30 persen tantangan lingkungan berhubungan dengan kegiatan ekspor ke Cina.

Detailnya, rata-rata 48 persen lahan pertanian di Selandia Baru menghasilkan 33 persen emisi gas rumah kaca, 16 persen gas rumah kaca dari penggunaan nitrogen di Kanada dan 11 persen emisi gas rumah kaca dari air irigasi di Amerika Serikat. Negara-negara itu menjadi eksportir utama ke Cina terutama produk peternakan dan pakan.

Peneliti memaparkan distribusi dampak lingkungan di Cina dan dunia akan sangat bergantung pada perkembangan dari keterbukaan perdagangan negara itu dan mitra dagangnya.

Untuk memenuhi permintaan pangan Cina, menurut para peneliti yang perlu diprioritaskan adalah penyediaan lebih banyak pangan yang diproduksi di dalam negeri secara berkelanjutan, terutama produk peternakan. Praktik pertanian dengan pengurangan input nitrogen dan lebih sedikit polutan dapat digunakan untuk melestarikan lingkungan.

Baca Juga: Peningkatan Impor Pangan Cina Berdampak Kerusakan Lingkungan Secara Global
Kementan Beberkan Rahasia Pertanaman Padi Empat Kali Setahun

Para peneliti juga mengatakan bahwa mengubah preferensi konsumen di Cina dapat membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

“Permintaan Cina yang meningkat akan produk pertanian merupakan salah satu tantangan terbesar dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tidak hanya di dalam negeri Cina tetapi juga mitra dagang Cina. Untuk mengurangi dampak lingkungan global, kebijakan yang mempromosikan perubahan preferensi konsumsi dan produksi berkelanjutan perlu dilakukan. Hal itu juga perlu dikejar Cina melalui perjanjian perdagangan,” kata Petr Havlik dikutip phys.org.

Video terkait:

 

 

 

 

Video Terkait