Ombudsman Soroti HET Beras, Mendag Lutfi : Ini Masalah Halus yang Susah-Susah Gampang

Ilustrasi - Butiran beras.(Piqsels)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 18 Oktober 2021 | 17:10 WIB

Sariagri - Ombudsman menyampaikan laporan akhir pemeriksaan (LAHP) dalam rangka perbaikan tata kelola cadangan beras pemerintah. Laporan ini salah satunya ditujukan kepada Kementerian Perdagangan (Kementerian Perdagangan).

Anggota Ombudsman, Yeka Hendra Fatika mengapresiasi Kemendag yang telah membantu menjaga inflasi selama pandemi dan menjaga stabilitas harga melalui program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH).

“Inflasi di Indonesia bisa terjaga dengan baik selama pandemi, di satu sisi stabilisasi harga pun bisa terjaga dengan baik. Tentunya ini berkat program KPSH dari Kementerian Perdagangan. Akan tetapi kami mencatat tahun ini nampaknya Indonesia tidak akan impor beras. Artinya sejak 2018 kita tidak ada impor beras, ini menjadi suatu prestasi sebuah bangsa,” ujar Yeka dalam Peringatan Hari Pangan Sedunia 2021 dan Penyampaian LAHP Ombudsman, Senin (18/10/2021).

Selain itu, Yeka menyampaikan catatan khusus Ombudsman kepada Kemendag terkait Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Menurut dia, berdasarkan rujukan investigasi yang dilakukan Ombudsman, terdapat masalah fundamental di dalam HET beras yaitu masalah keadilan.

“Karena HET ini bisa kami katakan sebagai kebijakan yang di bawah optimal. Negara ingin menjamin akses terhadap masyarakat akan tetapi yang jelas kami merasa perlu dievaluasi,” katanya.

Dikatakan Yeka, terdapat tiga aspek menurut Ombudsman yang perlu evaluasi Kemendag.

Pertama, terkait besaran HET. Menurut Yeka, HET yang ditetapkan pemerintah masih sama dengan tahun dari 2017 hingga 2021. Karena itu, Ombudsman merasa butuh adanya penyesuaian dengan mempertimbangkan inflasi dan biaya produksi yang terus meningkat.

Aspek kedua, terkait sanksi pelanggaran HET.

“Bagaimanapun regulasi harus bisa membangun marwah Kemendag. Terkait sanksi sekarang ini, kami melihat belum bisa ditegakkan, karena itu perlu ada kajian apakah sanksi HET harus layak diberlakukan,” jelasnya.

Ketiga, pelabelan beras. Ombudsman mempertanyakan, apakah pelabelan beras bisa dijamin hingga sampai ke titik akhir rantai pasok beras.

“Inilah saran kami kepada Kemendag, tentunya nanti 14 hari kerja diharapkan pak Mendag kita semua bisa berkoordinasi dalam rangka mengawal bersama-sama, sehingga 30 hari kemudian semua tindakan korektif dari ombudsman sudah diselesaikan dalam rangka itu,” kata Yeka.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan pihaknya akan memperhatikan dua poin yaitu pelabelan beras premium-medium dan masalah HET. Terkait HET, Lutfi menilai masalah itu susah-susah gampang. karena berkaitan dengan harga internasional.

“Saya nggak mau kasih harga beraslah karena agak sulit di sini. Biasanya HET beras kita itu sebenarnya jauh dibandingkan dengan harga internasional yang lebih rendah. Jadi kalau HET naik terus, maka yang dikorbankan adalah rakyat juga,” jelas Lutfi.

Lutfi mencontohkan harga gula, bagaimana harga di luar negeri bisa turun tetapi di Indonesia naik terus. Dia menilai HET menjadi masalah yang halus dan harus diperhatikan dinamikanya untuk mencapai keadilan.

“Jadi saya pernah ngobrol dengan petani tebu, bagaimana harga gula di luar negeri itu turun, tetapi harga di Indonesia naik terus. Jadi ada dua juta petani yang berurusan dengan gula harus mengorbankan 270 juta rakyat Indonesia. jadi ini masalah yang sebenarnya delicate (halus) yang mesti kita perhatikan dinamika-dinamikanya supaya terjadi keadilan,” kata Lutfi.

Baca Juga: Ombudsman Soroti HET Beras, Mendag Lutfi : Ini Masalah Halus yang Susah-Susah Gampang
Presiden Minta Ketersediaan Bahan Pokok Dihitung dan Harganya Terjangkau

Lutfi menegaskan pihaknya akan tetap melaksanakan koreksi dari Ombudsman dalam 14 hari kerja sesuai ketentuan Undang-undang.

“Mudah-mudahan dalam 14 hari sesuai dengan undang-undang kita akan melaksanakan koreksi-koreksi, dan akan melaporkan kembali hasil koreksian tersebut. Dan ini memang masalahnya delicate, tetapi musti kami laksanakan,” pungkasnya.

Video terkait:

 

Video Terkait