Mentan Panen Raya di Sukoharjo, Ini Kunci Pertanaman Padi Empat Kali Setahun

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Bupati Sukoharjo, Etik Suryani melakukan panen padi hasil indeks pertanaman empat kali setahun di Sukoharjo. (Kementan)

Editor: Arif Sodhiq - Selasa, 12 Oktober 2021 | 16:50 WIB

Sariagri - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bersama Bupati Sukoharjo, Etik Suryani melakukan panen padi hasil indeks pertanaman empat kali setahun di Desa Tegalsari, Kecamatam Weru, Kabupaten Sukoharjo, Selasa (12/10/2021).

Sistem pertanaman padi empat kali setahun merupakan salah satu terobosan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan produksi dan ketahanan pangan nasional serta nilai tambah petani.

"Negara ini tidak boleh kalah dengan negara lain dan kehidupan ini harus lebih baik dari hari kemarin. Yang paling tersedia di depan mata kita untuk memperbaiki negara adalah sektor pertanian. Tanam padi dengan IP 400 artinya tanam 4 kali setahun, ini meningkatkan produksi dan pendapatan petani," ujarnya.

Dikatakan Mentan, kegiatan panen di Kabupaten Sukoharjo untuk memastikan lahan yang cukup baik seharusnya tidak dimanfaatkan hanya satu, dua dan tiga kali penanaman padi dalam setahun, namun harus bisa hingga empat kali setahun. Terbukti, saat ini Kabupaten Sukoharjo mampu membuktikan seluas 2.000 hektare menanam padi empat kali setahun. 

"Tadi kita sudah tanya ke petani, hasilnya dalam satu musim tanam itu di atas Rp30 juta. Kalau cuman tanam dua kali setahun, hanya dapat Rp60 juta dan membuang waktu juga dalam setahun. Jadi tanam padi empat kali setahun benar-benar menambah produksi dan penghasilan petani," jelasnya.

Syahrul menyebutkan untuk mewujudkan program penanaman padi empat kali setahun harus didukung ketersediaan air, varietas padi unggul, mekanisasi, korporasi petani dan kelembagaannya dari hulu ke hilir harus terintegrasi sehingga aspek pemasarannya terjamin. Sesuai instruksi Presiden Jokowi, lahan pertanian yang terkonsetrasi di atas 8.000 hektare harus ditingkatkan kelas rice milling unit (RMU) atau penggilingan padinya.

"Saya sudah minta tadi sama Bupati, agar ada RMU yang harus kita naikkan kelasnya agar menjadi persiapan kita lakukan ekspor. Tentu saja ini model tidak hanya untuk Sukoharjo tapi kita terapkan di seluruh Indonesia," terangnya.

"Tanam padi empat kali setahun ini adalah model untuk mengoptimalkan lahan. Jika saja lima bulan lahan itu dibiarkan tidak tertanami itu artinya ada 1,5 musim tanam yang tidak terpakai berproduksi. Nah, ini harus kita kerja dengan mekanisasi dan pelatihan atau keterampilan kepada petani," katanya.

Bupati Sukoharjo, Etik Suryani mengatakan meski daerahnya sebagai kabupaten nomor dua terkecil di Provinsi Jawa Tengah, namun setiap tahun selalu surplus padi tidak kurang dari 102 ton. Realisasi produksi padi tahun 2020 sebesar 310.778 ton dengan produktivitas rata-rata 6,8 ton per hektare. 

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, di tahun 2021 ini Kabupaten Sukoharjo mendapat alokasi program optimalisasi peningkatan indeks pertanaman seluas 2.000 hektar. Adanya program tanam padi 4 kali setahun ini sangat disambut baik petani, bahkan petani sanggup memperluas luas lahannya hingga 5.000 hektar," ujar Etik.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menambahkan program intensifikasi penanaman empat kali setahun merupakan solusi dari berkurangnya areal lahan karena alih fungsi lahan serta pertambahan penduduk. Menurut dia, ada tujuh kunci program penanaman empat kali setahun.

Pertama, semai di luar bisa dengan sistem culik, dapog atau tray dan menggunakan benih umur pendek 70 sampai 90 hari yang disemai di luar. 

Kedua, melakukan mekanisasi pertanian supaya hemat waktu dan tenaga.

Ketiga, pemakaian pupuk kimia dikurangi secara bertahap hanya urea 25 kilogram (kg) per musim per hektar dan menggunkan unsur hara dari kompos, limbah tanaman dan limbah ternak. 

Keempat, pola tanam 4 kali setahun terdiri dari padi-palawija-padi-palawija, padi-padi-palawija-padi, padi-padi-padi-padi atau pola tanam lainnya sesuai kondisi setempat.

Kelima, hemat penggunaan air dari sumur/embung/pompa air di lahan kering atau tadah hujan dan air diputar untuk berbagai aktivitas pertanian terlebih dahulu.

Keenam, menerapkan Integrated farming menuju zero waste, antisipasi dan mitigasi organisme pengganggu tanaman.

Ketujuh, melakukan hilirisasi dan skala kawasan korporasi sebagai off taker untuk akses KUR.

“Penerapan pertanaman empat kali setahun berarti mengatur fluktuasi panen karena tanam padi musiman. Karena setahun enam kali tanam, berarti proses produksi tidak pernah berhenti,” katanya.

Video terkait:

 

Video Terkait



Baca Juga: Mentan Panen Raya di Sukoharjo, Ini Kunci Pertanaman Padi Empat Kali Setahun
Kementan Alokasikan Dana Rp5 Miliar Atasi Rawan Pangan di Tolikara