Kekeringan Akibat Perubahan Iklim, Warga Madagaskar Terpaksa Makan Kaktus dan Belalang

Ilustrasi - Kekeringan akibat perubahan iklim. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 29 Agustus 2021 | 08:00 WIB

Sariagri - Kekeringan panjang yang melanda Madagaskar menjerumuskan jutaan warga pada bencana kelaparan. Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP) menegaskan kelaparan di negara pulau itu merupakan peringatan keras sekaligus bukti nyata ancaman perubahan iklim.

WFP melaporkan setidaknya 1,14 juta orang di Madagaskar selatan membutuhkan makanan darurat, setelah kekeringan parah melanda dan menghancurkan hasil panen selama empat tahun berturut-turut. Program Pangan Dunia menyatakan krisis itu akibat perubahan iklim.

Juru bicara WFP untuk wilayah Afrika selatan, Shelley Thakral mengatakan untuk bertahan hidup, penduduk yang putus asa mengonsumsi buah kaktus mentah, biji-bijian, daun dan belalang. Menurut dia, umumnya kelaparan dipicu konflik. Perubahan iklim, lanjut dia, menjadi tanggung jawab semua pihak dan  dapat dpatasi. 

"Ini adalah peringatan yang sangat penting bagi kita semua untuk benar-benar memahami bahwa jika Anda melihat kebakaran hutan di Eropa atau di Amerika Utara dan bumi memanas. Fakta bahwa hari ini di beberapa negara sangat panas, dapat berarti orang di tempat lain kehilangan tanah mereka, mereka kehilangan mata pencaharian," ujar Thakral kepada Sky News..

Madagaskar tidak beranjak dari peringkat sepuluh besar negara yang paling rentan terhadap iklim. Sebuah laporan ilmiah utama PBB bulan ini memperingatkan perubahan iklim dari aktivitas manusia telah meningkatkan panas ekstrem di negara itu dan kekeringan akan memburuk saat bumi semakin menghangat.

Di pusat krisis, Amboasary Atsimo, sekitar 14.000 orang sudah berada dalam kondisi bencana paling parah dari lima tingkat kerawanan pangan. Tingkat malnutrisi akut telah mencapai 27% yang jika tidak segera diambil tindakan, kelaparan akan semakin meluas.

Selain itu, dikhawatirkan kondisi yang sudah parah akan meningkat di musim paceklik dari September - Maret saat stok makanan menipis. Jika itu terjadi, jumlah orang yang terancam kelaparan diperkirakan mencapai 1,31 juta pada Desember 2021.

Baca Juga: Kekeringan Akibat Perubahan Iklim, Warga Madagaskar Terpaksa Makan Kaktus dan Belalang
Tingkatkan Pertanian, Negara Ini Dorong Pemanfaatan Teknologi Cerdas Iklim



"Saat ini Madagaskar diserang dari berbagai sisi," kata Wakil perwakilan UNICEF Madagaskar, Jean-Benoit Manhes kepada Sky News. 

Dia mengungkapkan kekeringan yang sebelumnya terjadi setiap tiga tahun sekali, kini menjadi setiap tahun. Hewan pengerat membawa epidemi wabah, pola siklon telah berubah, hujan menjadi banjir karena deforestasi dan pandemi COVID-19 telah menambah banyak masalah.

"Ini adalah badai yang sempurna saat ini di mana sebuah pulau yang sudah miskin dan rentan akan menjadi lebih miskin dan rentan," kata Manhes.

Video terkait:

Video Terkait