Harum Arang Bakar Jenis Petai Saat Tradisi Nyate Idul Adha di Garut

Ilustrasi arang petani. (Foto: Sariagri/Jayadi)

Editor: M Kautsar - Selasa, 20 Juli 2021 | 15:00 WIB

SariAgri - Tradisi nyate daging qurban menggunakan bahan bakar arang kayu, masih menjadi favorit bagi masyarakat Garut, Jawa Barat hingga kini. Tak ayal kondisi itu, menjadi salah satu peluang usaha bagi warga, terutama saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Covid-19.

Nanang, 25 tahun, salah satu pedagang arang bakar di pasar Induk Ciawitali, Garut mengatakan, kebutuhan arang bakar saat iduladha memang terbilang tinggi. “Kenaikan bisa dua kali lipat dibanding hari biasa,” ujar Nanang, Selasa (20/7).

Menurutnya, kebutuhan arang bakar selama iduladha terbilang tinggi, seiring masih berlangsunynya tradisi nyate di lingkungan masyarakat Garut sejak lama.

“Kalau untuk memasak lebih memilih gas elpiji, kalau untuk nyate jelas masih pakai arang,” ujar dia menegaskan.

Untuk persiapan Idul Adha tahun ini, dia mengaku telah menjual sekitar 3.500 pieces arang bakar dalam kemasan kecil siap pakai. Angka tersebut terbilang tinggi jika dibanding penjualan hari biasa.

“Kalau pun ada (pemesanan) biasanya dipakai para penjual sate dan acara hajatan, selainnya untuk kebutuhan pesta tapi masih jarang,” kata dia.

Khusus jenis kayu yang digunakan, Nanang mengaku lebih sering menjual arang jenis kayu selong atau petai, dibanding yang lainnya.

Selain tingkat pembakaran yang terbilang optimal, arang kayu jenis petai juga mampu menghasilkan harum yang khas saat proses pembakaran berlangsung.

“Biasanya ngaruh juga terhadap daging sate yang dihasilkan,” kata dia.

Samentara soal sumber arang kayu yang biasa dia jual, mayoritas arang masih berasal dari wilayah perkebunan Margawati, Cilawu, wilayah Garut yang dekat dengan perbatasan Tasikmalaya.

“Biasanya kami menjual dalam kemasan kecil seharga Rp1.000 rupiah per pieces,” kata dia.

Bahkan untuk partai besar, harga jual arang bakar jenis kayu petai ini bisa lebih terjangkau bagi konsumen. “Kalau ngecer (ritel) harganya Rp 5 ribu berisi lima pecs, sementara kalau borongan hanya Rp3 ribu per kilogram,” kata dia.

Ahmad, salah satu pembeli arang bakar kayu mengaku terbantu dengan kehadiran arang bakar dalam kemasan yang dijual secara ritel tersebut. Menurutnya, penggunaan arang bakar kayu jenis petai memberikan rasa yang berbeda bagi daging sate yang dihasilkan.

“Jenis arang kayu memang banyak, tapi saya lebih cocok menggunakan jenis kayu petai ini,” ujar dia.

Meskipun pembelian arang kayu yang ia koleksi tidak terlalu banyak, namun setidaknya tradisi nyate masyarakat Sunda menggunakan arang kayu masih terjaga.

“Selain menghasilkan sate yang gurih, tradisi nyate juga bisa saling merekatkan silaturahmi antar keluarga dan warga,” kata dia.

 

Video Terkait