Mengenal Makna Tradisi Kupatan bagi Masyarakat Jawa

Ilustrasi ketupat. (foter)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Jumat, 14 Mei 2021 | 16:00 WIB

SariAgri - Pada era modern saat ini masih banyak tradisi yang tetap dipertahankan secara turun temurun dari nenek moyang hingga anak cucu pada suatu masyarakat. Salah satu tradisi yang masih dilaksanakan yaitu tradisi kupatan bagi masyarakat Jawa.

Kupatan adalah tradisi keagamaan yang berhubungan dengan tradisi Islam. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk warisan budaya leluhur yang sampai sekarang masih dilestarikan.

Waktu perayaan kupatan biasanya dilakukan 7 hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Hal ini merupakan perwujudan rasa syukur setelah mengerjakan puasa  satu bulan penuh dan disempurnakan dengan puasa  sunah enam hari di bulan syawal.

Selain itu, tradisi kupatan juga merupakan kegiatan sosial yang melibatkan seluruh masyarakat dalam usaha untuk memperoleh keselamatan dan ketentraman. Dikutip dari jurnal skripsi Makna Tradisi Kupatan Bagi Masyarakat Desa Paciran, UIN Jakarta.

Kupat dalam bahasa Jawa juga konon merupakan kependekan dari kalimat 'ngaku lepat' yang berarti 'mengakui kesalahan'. Oleh karena itu, saling berbagi dan memberi kupat di hari raya lebaran idul fitri adalah simbol atas pengakuan kesalahan dan kekurangan diri masing-masing terhadap Allah SWT, keluarga dan terhadap sesama.

Menurut tokoh agama desa Paciran, Kabupaten Lamongan, KH Salim Azhar, di desa Paciran sendiri konon tradisi kupatan dimulai sejak zaman Sunan Sendang duwur. Seorang tokoh yang turut berperan dalam menyebarkan agama Islam di pulau jawa khususnya di daerah Paciran dan sekitarnya.

Baca Juga: Mengenal Makna Tradisi Kupatan bagi Masyarakat Jawa
Waspada! Bahaya Mengintai di Balik Nikmatnya Kue-kue Cantik Lebaran

Awal mula tradisi Kupatan di praktekan oleh Sunan Sendang duwur dalam rangka untuk menjamu tamu-tamu dan santri seusai menjalankan puasa syawal selama enam hari setelah lebaran.

Dahulu tradisi kupatan tidak dirayakan secara besar-besaran hanya dalam lingkup keluarga. Namun seiring pergeseran zaman, tradisi tersebut meluas ke masyarakat luat dan dikokohkan oleh masyarakat desa sebagai perayaan besar tahunan.

Video Terkait