Mengenal Simbol Pangan Sedekah Raja di Hari Raya, Rengginang

bebunga rengginang hasil bumi. (SariAgri/Rizki)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 14 Mei 2021 | 14:20 WIB

SariAgri -  Rengginang, pangan yang dibuat berbahan dasar beras ketan ini umumnya dinikmati sebagai camilan tradisional ringan di rumah. Terlebih pada saat momentum perayaan hari raya yang kerap dijadikan sebagai sajian lebaran jajanan menjamu tamu di rumah.

Meski terkadang sajian camilan yang satu ini mulai banyak ditinggalkan dan diganti dengan aneka camilan seperti kue nastar, wafer, dan biskuit, namun ternyata rengginang sejak ratusan tahun silam telah menjadi simbol pangan sedekah raja untuk rakyat di Kasultanan Kraton Yogyakarta.

Rengginang menjadi salah satu hasil bumi yang diberikan Raja kepada para abdi dalem dan masyarakat dalam setiap upacara Tradisi Grebeg yang digelar setiap perayaan hari raya Idulfitri, Iduladha dan Tahun Baru Islam.

Dalam setiap upacara tersebut, rengginang dibuat dengan jumlah yang sangat banyak dibentuk menyerupai bunga dan disematkan dengan berbagai macam hasil bumi lainnya seperti sayuran kacang panjang, sawi, tomat, cabai yang dipadukan dalam bentuk gunungan.

Dalam perayaannya, tradisi upacara grebeg kraton dimulai setelah sholat id yang diarak oleh para prajurit bregodo dari pagelaran kraton menuju pelataran masjid gedhe untuk didoakan dan selanjutnya diperebutkan masyarakat dari berbagai kalangan usia.

Namun sejak dua tahun terakhir tradisi grebeg sedekah raja yang selalu dinantikan warga ini terpaksa ditiadakan demi mencegah kerumunan guna menghindari terjadinya paparan Covid-19 yang hingga kini belum juga usai.

Di masa pandemi covid-19 ini upacara tradisi grebeg syawal terpaksa kembali digelar secara sederhana dan hanya membagikan ubo rampe hasil bumi berupa rengginang kepada para abdi dalem dan kerabat di lingkungan kraton saja.

Wakil Penghageng Tepas Parentah Hageng atau lembaga yang memiliki kewenangan dalam mengelolah dan melakukan perekrutan Abdi dalem Kraton, Kanjeng Pangerah Haryo Yudahaningrat menjelaskan, meski masih dalam masa pandemi, agenda budaya ini tetap dipertahankan dengan cara sederhana dalam upaya melestarikan warisan budaya yang sudah berlangsung ratusan tahun di lingkungan kraton Yogyakarta.

“Sudah menjadi tradisi Kraton Yogyakarta tiap hari besar islam selalu mengadakan upacara, yaitu grebeg maulud, grebek syawal dan grebeg besar. Namun karena masih pandemi, perayaan digelar hanya di lingkungan kraton dengan tetap menerapkan aturan kebijakan protokol kesehatan dari pemerintah pusat maupun daerah, sebagai upaya untuk menghindari adanya kerumuman” kata KPH yudahaningrat.

Baca Juga: Mengenal Simbol Pangan Sedekah Raja di Hari Raya, Rengginang
Cobain Yuk Soto Kikil Kerbau, Menu Tepat dengan Ketupat

Rengginang tradisi Gerebeg Kraton ini dibentuk menyerupai bunga dengan tangkai bambu dan dibuat sebanyak 3.000-an buah dan diberikan kepada seluruh perangkat abdi dalem di lingkungan Kraton Yogyakarta, termasuk dikirim ke Kantor Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Puro Pakualaman.

Umumnya rengginang yang diterima para abdi dalem ini tidak untuk dimasak, melainkan akan disimpan di dalam rumah atau diletakan di pekarangan sawah maupun kebun. Mereka percaya pemberian rengginang sedekah Raja Kraton tersebut akan membawa berkah dalam tatanan hidupnya.

Video Terkait