Harga Pangan Bergolak, Jumlah Orang Miskin Myanmar Melonjak

Aktivitas pedagang di sebuah pasar di Myanmar. Harga kebutuhan melonjak setelah terjadi krisis politik di Myanmar.

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 19 Maret 2021 | 12:50 WIB

SariAgri - Krisis politik di Myanmar telah membuat warga miskin kian terpinggirkan. Selain bakal kelaparan, jumlah orang miskin juga bakal meningkat. Setidaknya, kemampuan mereka berkurang untuk memberi makan keluarga.

“Tanda-tanda awal ini meresahkan, terutama bagi masyarakat paling rentan yang pendapatannya hanya untuk membeli makanan sehari-hari,” kata Stephen Anderson, Direktur World Food Program (WFP) untuk Myanmar.

Program Pangan Dunia (WFP) yang berafiliasi dengan PBB mengatakan harga pangan naik. Harga minyak sawit bahkan naik sebesar 20 persen di beberapa tempat di sekitar kota utama, Yangon, sejak awal Februari atau sejak kudeta terjadi ada 1 Februari. Selain itu, harga beras juga mengalami kenaikan sebesar 4 persen di daerah Yangon dan Mandalay sejak akhir Februari.

"Harga beras bahkan membubung hingga 35 persen di beberapa Negara Bagian Kachin di utara, sementara harga minyak goreng dan kacang-kacangan juga naik tajam di beberapa Negara Bagian Rakhine di barat," lapor WFP.

Harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak sebesar 15 persen secara nasional sejak kudeta 1 Februari, kata WFP. Hal ini meningkatkan kekhawatiran harga pangan akan masih bisa naik lagi.

"Kenaikan harga pangan dan bahan bakar ini diperparah oleh hampir lumpuhnya sektor perbankan, lambatnya pengiriman uang, dan pembatasan secara luas pada ketersediaan uang tunai," kata WFP.

Dalam sebuah laporan Vatican News, Anderson mencatat bahwa sebelum krisi politik saat ini , pandemi telah mengakibatkan penutupan banyak pabrik di negara itu, yang mempengaruhi banyak orang termiskin kehilangan pekerjaan karena pembatasan skala besar.

“Jika situasi berlarut-larut, sisi ekonomi dari krisis ini akan mengalami masalah sangat serius,” kata Anderson.

Sebelum pandemi, enam dari sepuluh rumah tangga di Myanmar tidak mampu membeli makanan bergizi. Kemiskinan semakin meningkat akibat Covid-19, dan pada paruh kedua tahun lalu, empat dari lima rumah tangga di negara itu melaporkan bahwa mereka telah kehilangan hampir 50 persen dari pendapatannya.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB juga telah menyatakan keprihatinan bahwa krisis politik saat ini menghambat operasi badan-badan kemanusiaan di Myanmar.

Baca Juga: Harga Pangan Bergolak, Jumlah Orang Miskin Myanmar Melonjak
Kementan Bantu Pemasaran Budidaya Tanaman Serai Wangi

Penghentian bisnis dan layanan, termasuk bank, memengaruhi sistem pembayaran dan penarikan tunai.

Di sejumlah daerah, harga komoditas penting seperti pangan, bahan bangunan, dan bahan bakar dilaporkan mengalami kenaikan.

Sekitar satu juta orang yang dilanda konflik dan bencana alam membutuhkan dukungan dan perlindungan, termasuk lebih dari 350.000 pengungsi.

Video Terkait