Cara Perajin dan Pedagang Tahu Tempe Menyiasati Tingginya Harga Kedelai

Perajin tempe Cirebon, Maduri, terpaksa mengurangi ukuran tempenya (Sariagri/Nurohman)

Penulis: Andry, Editor: Reza P - Jumat, 8 Januari 2021 | 18:00 WIB

SariAgri - Kelangkaan dan naiknya harga kedelai yang hampir merata di seluruh Indonesia sejak awal tahun ini, membuat perajin tahu tempe maupun penjual makanan berbahan baku kedelai harus bersiasat untuk bertahan hidup.

Sejumlah perajin tempe di Cirebon Jawa Barat misalnya, lebih memilih mengurangi ukuran tempe ketimbang berhenti produksi. Apalagi harga kedelai impor di Cirebon sempat menembus angka Rp9.500 per kilogram.

"Awalnya Rp 6.500 per kilogram. Kemudian naik bertahap. Sekarang harga kedelai impor sudah Rp9.500 per kilo gramnya," kata Maduri kepada Sariagri, Jumat (8/1).

Maduri yang sudah memproduksi tempe dari tahun 1970 tidak bisa menaikan harga dan lebih memilih mengurangi ukuran tempe dan dijual dengan harga sama, agar konsumen tidak pergi meninggalkannya.

Siasat ini juga dilakukan perajin tahu tempe di wilayah Karanganyar dan Kota Semarang. Ini dilakukan karena banyaknya orang yang menggantungkan ekonominya dari bekerja di sentra pembuatan tahu maupun tempe. Pilihan sulit yang harus dipilih perajin dibandingkan harus menaikan harga dagangannya.

Perajin tahu di Semarang, Warsino, mengaku enggan memperkecil ukuran tahu buatannya karena itu akan membuat kualitasnya menjadi jelek. Warsino memilih mengurangi produksi tahu untuk menekan biaya produksi. Dia mengaku dirinya saat ini hanya memproduksi 90 ribu sampai 100 ribu buah tahu setiap hari.

"Sebelumnya kami bisa produksi sampai 130 ribu buah setiap hari. Kapasitas produksinya kami kurangi 25-30 persen," tambahnya.

Perajin tahu Di Gowa Sulawesi Selatan, Suarni, juga bersiasat dengan mengurangi produksi tahunya. Suarni yang biasanya mampu memproduksi sebanyak 700 kilo namun saat ini ini hanya memproduksi 300 sampai 400 kilo kedelai per harinya.  Itupun Suarni masih harus menaikan harga jual tahunya ke pengecer, dari 70 ribu menjadi 75 ribu per embernya. Jika harga kedelai naik terus, Suarni berencana akan menutup sementara usahanya.

Penjual warung  <a target='_BLANK' href='//sariagri.id/article/topic/37467/Nasi'>nasi</a>  tempe di Wonomulyo Poliwali Mandar terpaksa mengurangi jumlah tempe di porsi makanannya (Sariagri/ Rifky Zun)
Penjual warung nasi tempe di Wonomulyo Poliwali Mandar terpaksa mengurangi jumlah tempe di porsi makanannya (Sariagri/ Rifky Zun)

Pengurangan produksi tahu tempe maupun ukuran produksinya, juga berdampak pada sektor usaha kecil lainnya seperti pedagang gorengan dan warung makan. Pedagang gorengan dan warung nasi tempe di Polewali Mandar, Sulawesi Barat juga terpaksa bersiasat supaya usahanya tetap jalan.

Salah satunya warung pojok yang menawarkan menu khas nasi tahu tempe di Kecamatan Wonomulyo yang selalu ramai dikunjungi pelanggannya terpaksa mengurangi jumlah potongan tempe setiap porsinya. Jika biasanya per porsi ada lima potong tempe, kini dikurangi sampai tiga potong saja. Itupun, ukurannya pun menjadi semakin kecil dan tipis.

Baca Juga: Cara Perajin dan Pedagang Tahu Tempe Menyiasati Tingginya Harga Kedelai
Legislator Minta Pemerintah Redam Keresahan Terkait Stok Tahu dan Tempe

"Kalau Biasanya satu porsi  itu pake tahu tempe 5 biji, sekarang dikurangi 3 biji saja. Ini kita lakukan, supaya tidak rugi dan usahanya tetap jalan," jelas Indah, pemilik warung makan

Meski banyak mendapat protes pelanggannya, warung sejuta umat yang ramai dikunjungi para pegawai dan warga terutama pada jam makan siang dan pagi hari ini, tetap berjalan terus dan melayani pelanggannya.

Video Terkait