Ketergantungan Impor Berdampak pada Produksi Kedelai Dalam Negeri

Pelaku usaha olahan kedelai. (Arief L/ SariAgri Jawa Timur)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Redaksi Sariagri - Minggu, 3 Januari 2021 | 13:00 WIB

SariAgri - Dosen Fakultas pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya, Ramdan Hidayat menilai ketergantungan masyarakat terhadap kedelai impor masih tinggi. Akibatnya ketika negara produsen kedelai terkendala transportasi dan logistik terutama di masa pandemi COVID-19 berimbas pada tingkat produksi di dalam negeri.

Dia mencontohkan produksi tempe yang 100 persen hahan bakunya menggunakan kedelai impor dari AS. Pelaku usaha menggunakan kedelai impor karena kedelai lokal ukurannya bervariasi dan tidak homogen sehingga lebih sulit saat diolah.

“Yang jadi masalah karena 100 persen industri tempe menggunakan kedelai impor. Di masa pandemi seperti ini tentu ada masalah kaitannya dengan transportasi dan logistik. Maka kita mestinya melakukan suatu penanaman yang sifatnya massal,” jelasnya.

Berita Pangan - Baca Juga: Kedelai Langka, Pengusaha Tahu Tempe di Jawa Timur Resah
Harga Kedelai Dunia Naik Bagaimana Nasib Tempe Tahu? Ini Kata Kemendag

Namun untuk melakukan penanaman massal, lanjut Ramdan, membutuhkan lahan yang luas. Sementara kepemilikan petani atas lahan di Indonesia rata-rata kurang dari 0,3 hektare yang jika dilihat dari skala profitabilitas kurang menguntungkan.

“Produksi kedelai di Indonesia sampai sekarang hanya mencapa 1-2 ton per hektare. Saat panen harganya anjlok, pada saat mau nanam benihnya mahal, saat butuh pupuk subsidinya belum tersedia. Hal-hal seperti ini dalam tata niaga kurang menguntungkan, harus ada titik ungkit untuk upaya reformasi agriculture,” katanya.

Baca Juga: Ketergantungan Impor Berdampak pada Produksi Kedelai Dalam Negeri
Distan Jatim Sebut Penyebab Kelangkaan Kedelai di Sejumlah Daerah

Ramdan mengatakan saat ini pemerintah tengah membangun program food estate atau lumbung pangan di beberapa wilayah di antaranya Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara. Menurut dia, food estate dapat memenuhi konsumsi dalam negeri bahkan menjadi solusi ekspor, terlebih di masa pandemi yang orientasinya peningkatan produktivitas dan kualitas.

“Kalau kedelai terkendala, solusinya food estate baik di pangan ataupun holtikultura,” katanya.

Dia menambahkan dalam sistem industri 4.0 seperti sekarang, semestinya digitalisasi bisa menjadi solusi.

“Penyemprotan menggunakan drone, sistem alarm kalau keasaman mencapai batas ambang berbahaya, hingga kalau terjadi kekeringan pemerintah harus bagaimana,” pungkasnya. (Arief L/ SariAgri Jawa Timur)

Harga Pangan - Kisah Haru Gadis Cantik yang Menginspirasi

Video Terkait