Harga Kedelai Dunia Naik Bagaimana Nasib Tempe Tahu? Ini Kata Kemendag

Berita Pangan - Ilustrasi kacang kedelai (Pixabay)

Penulis: Reza P, Editor: Redaksi Sariagri - Jumat, 1 Januari 2021 | 11:30 WIB

SariAgri - Kementerian Perdagangan melalui Sekretaris Jenderal menegaskan bahwa stok kedelai cukup untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe nasional.

“Kementerian Perdagangan menjamin tahu dan tempe tetap tersedia di masyarakat.” Kata Suhanto selaku Sekjen kemendag melalui keterangan resmi di Jakarta.

Sebelumnya, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyatakan akan melakukan penyesuaian harga tahu dan tempe menyusul naiknya harga kedelai impor.

Kementerian Perdagangan telah melakukan koordinasi dengan Gakoptindo dan memperoleh informasi bahwa harga kedelai impor di tingkat perajin mengalami penyesuain dari Rp9.000 per kilogram pada November 2020 menjadi Rp9.300 hingga 9.500 per kilogram pada Desember 2020 atau naik berkisar 3,3 – 5,56 persen.

“Dengan adanya penyesuain harga diharapkan masyarakat akan tetap dapat mengkonsumsi tahu dan tempe yang diproduksi oleh para perajin,” kata Suhanto.

Berdasarkan data Asosiasi Importir Kedelai (Akindo), lanjut dia, saat ini para importir selalu menyediakan stok kedelai di gudang importir sekitar 450 ribu ton.

“Apabila kebutuhan kedelai  untuk  para  anggota  Gakoptindo  sebesar  150.000—160.000 ton per bulan,  maka  stok tersebut seharusnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan 2 hingga 3 bulan mendatang,” ujarnya.

Harga Pangan - Baca Juga: Ukuran Produksi Tempe di Jakarta DikurangiPenyebab Harga Kedelai Tembus Rp.9000 per Kg

Dia menyebutkan bahwa harga kedelai dunia pada Desember 2020 tercatat sebesar 12,95 Dolar AS per bushels atau naik sebesar 9 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat 11,92 Dolar AS per bushels.

Sementara berdasarkan data FAO harga rata-rata kedelai pada Desember tercatat sebesar 461 Dolar AS per ton atau naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 435 Dolar AS per ton.

Suhanto menjelaskan faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia karena adanya lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok hingga dua kali lipat pada Desember 2020 berkisar 30 juta ton kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Lonjakan permintaan kedelai Tiongkok tersebut mengakibatkan berkurangnya container di beberapa pelabuhan di AS seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai salah satunya Indonesia.

“Maka dari itu perlu dilakukan antisipasi pasokan kedelai oleh para importir karena stok saat ini tidak dapat segera ditambah mengingat kondisi harga kedelai dunia dan kapasitas pengapalan yang terbatas,” katanya.

Penyesuaian harga kedelai, Suhanto melanjutkan, secara psikologis diperkirakan akan berdampak pada harga kedelai di tingkat importir pada Desember 2020 hingga bulan mendatang.

Menurut data bps saat ini harga rata-rata nasional kedelai pada Desember 2020 sebesar Rp11.298 per kilogram atau turun sebesar 0,37 persen dari bulan November 2020.

Baca Juga: Harga Kedelai Dunia Naik Bagaimana Nasib Tempe Tahu? Ini Kata Kemendag
Ini Dia 5 Jenis Kacang yang Sehat Jika Dikonsumsi

Dirinya berharap kepada importir yang masih memiliki stok kedelai dapat terus memasok secara kontinu kepada anggota Gakoptindo tanpa menaikan harga.

“Kami mengapresiasi para anggota Gakoptindo yang tetap berproduksi dan telah membantu masyarakat dengan terus memasok tahu dan tempe untuk kebutuhan gizi terjangkau di saat pandemi ini,” ungkapnya.

Berita Pangan - Gadis Cantik Yang Mengharukan dan Menginspirasi

Video Terkait