'Garda Pangan', Food Bank Asal Surabaya yang Kelola Makanan Berlebih

Relawan 'Garda Pangan' membagikan makanan ke warga tidak mampu di Surabaya (SariAgri/Arief L)

Penulis: Arya Pandora, Editor: Rojes Saragih - Jumat, 26 Juni 2020 | 15:01 WIB

SariAgri -  Pernahkah terbayangkan kemana perginya setiap makanan berlebih dari tiap rumah individu, restoran, kafe, katering, bakery, hotel, lahan pertanian, event atau acara pernikahan yang masih layak untuk dikonsumsi?

Makanan surplus atau berlebih yang masih layak konsumsi itu bahkan seringkali dijumpai terbuang sia-sia, menumpuk di tempat sampah dan menjadi ancaman bagi kesehatan lingkungan.

Prihatin akan kondisi tersebut, sebuah perusahaan startup asal Surabaya bernama Garda pangan tergerak untuk menyelamatkan makanan berlebih dan ugly produce (sayuran dan buah-buahan segar yang tampak tidak sempurna) untuk diolah dan didonasikan kepada masyarakat pra-
sejahtera di Surabaya.

“Tidak hanya makanan surplus, namun buah dan sayuran yang secara penampilan kosmetik tidak menarik juga bisa didonasikan ke garda pangan. Contoh banyak petani di sawah yang membuang buah semangka, blewah atau papaya yang tekstur kulitnya tidak halus karena alasan tak laku dijual tapi masih layak konsumsi karena dalamnya bagus. Buah seperti inilah yang kami tamping dan didistribusikan ke masyarakat pra sejahtera yang membutuhkan, “ sebut Eva panjang lebar.

Garda Pangan  merupakan sebuah perusahaan startup dengan konsep bank makanan atau food bank yang menjadi pusat koordinasi makanan surplus yang dikumpulkan melalui  donasi . 

Startup ini pertama kali didirikan oleh Dedhy Trunoyudho bersama isterinya dan seorang rekan Eva Bachtiar ketika mengelola sebuah perusahaan katering milik keluarga Dedhy.

“Awal mula garda pangan terbentuk di tahun 2017 lalu. Bermula dari pengalaman melihat sisa makanan catering dari perusahaan keluarga mas Dedhy bersama istrinya Indah Audivtia. Lalu terpikir, kenapa makanan berlebih ini tidak kita sumbangkan ke masyarakat yang membutuhkan
saja. Dari situlah awal mula gerakan food bank ini kami mulai, “ ujar Eva kepada SariAgri.

Garda Pangan terbentuk karena concern Eva bersama Dedhy dan istrinya terhadap  food waste. Apalagi imbuh Eva, melihat data statistik, Indonesia sendiri merupakan negara pembuang sampah makanan terbesar ke-2 di dunia.

“Bisa dibayangkan, kita ini Indonesia menduduki peringkat 2 setelah arab Saudi kemudian peringkat 3 amerika serikat dalam membuah sampah makanan. Bahkan bisa diketahui tiap satu orang bisa membuang 300 kg makanan tiap tahunnya. sementara masih ada 19,4 juta rakyat
Indonesia yang masih kelaparan dan berjuang untuk makan setiap harinya.” Paparnya dengan intonasi meninggi.

Sebelum didonasikan kepada masyarakat pra-sejahtera, setiap makanan yang dikumpulkan oleh Garda Pangan dipastikan telah melewati serangkaian uji kelayakan makanan. Tim Garda Pangan juga menawarkan layanan jemput makanan di lokasi donatur sesuai dengan kebutuhannya.

Sejumlah relawan Garda Pangan mengumpulkan makanan berlebih dari donatur yang akan dibagikan bagi warga tak mampu (SariAgri/Arief L)

Dengan demikian, siapapun yang ingin mendonasikan makanan berlebih tidak perlu repot memikirkan proses pengirimannya.

Setiap dua hari sekali Garda Pangan melakukan kegiatan rutin yang disebut food rescue. Bentuk kegiatan ini berupa sosialisasi ke perusahaan-perusahaan makanan seperti bakery, kafe dan restoran.

Selain food rescue, dalam momen khusus, Garda Pangan juga membuat dapur umum dengan memanfaatkan makanan berlebih dari distributor buah atau donasi.

“Masyarakat umum juga mulai terbuka untuk mendonasikan makanan berlebihnya melalui food bank Garda Pangan, pada acara-acara dengan konsumsi besar seperti wedding, syukuran, meeting dan conference dari perusahaan-perusahaan.” ujarnya.

Ke depan, Eva berharap semua industri hospitality dan bisnis makanan di Surabaya bisa ikut bergabung menjadi mitra Garda Pangan agar semakin banyak makanan yang terselamatkan dan terdistribusikan dengan lebih merata.

Sedangkan untuk rencana ekspansi ke daerah di luar Surabaya, Garda Pangan masih membutuhkan waktu sekitar 3-5 tahun kedepan.

“Kami masih memaksimalkan potensi yang ada di  Surabaya , soalnya disini masih banyak industri makanan yang belum ter-cover oleh jasanya Garda Pangan. Kami akan menjadikan Surabaya sebagai pilot projek sebelum sampai ke daerah lain.”ungkapnya.

Baca Juga: 'Garda Pangan', Food Bank Asal Surabaya yang Kelola Makanan Berlebih
Macam-macam Varian Rujak, Salad Buah dan Sayur Ala Indonesia

Saat ini ia bersama tim relewan garda pangan masih terus berupaya untuk bisa melakukan advokasi kepada pemerintah kota Surabaya agar ikut peduli dengan isu food waste di Surabaya.

Mereka percaya bahwa keterlibatan pemerintah akan mendorong iklim yang lebih kondusif bagi para bisnis makanan untuk berdonasi kepada Garda Pangan. (Arief L/SariAgri Surabaya)