Ketersediaan Komoditas Pangan Penting untuk Jaga Kestabilan Harga

Ilustrasi tanaman pertanian padi (Pxhere)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 27 April 2020 | 08:00 WIB

SariAgri - Pandemi COVID-19 memaksa negara-negara di dunia untuk menyesuaikan berbagai kebijakan yang dihasilkan, salah satunya kebijakan perdagangan. Di Indonesia, kebijakan perdagangan yang lebih terbuka menjadi hal yang penting dilakukan sebagai bentuk mitigasi dari dampak pandemi ini.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak negara meningkatkan pelarangan Ekspor untuk produk penting seperti pangan, medis dan masker. Di sisi lain, Impor untuk produk-produk tersebut juga dipersulit dengan adanya penangguhan persyaratan sertifikasi.

“Pandemi menyebabkan pemerintah perlu mempertimbangkan kembali kebijakan perdagangan yang selama ini dijalankan. Perdagangan yang lebih terbuka perlu ditingkatkan untuk memastikan ketersediaan kebutuhan-kebutuhan penting, seperti masker, peralatan medis dan juga komoditas pangan. Hal itu penting untuk menjaga kestabilan harga dan mendukung mitigasi dampak pandemi,” ujar Felippa.

Ketersediaan komoditas Pangan yang memadai sangat penting untuk menjaga kestabilan harga, terlebih saat Ramadan dan Idul Fitri di mana terjadi peningkatan permintaan. Saat ini, beberapa negara sudah mulai membatasi ekspor untuk menjaga ketersediaan pasokan di dalam negeri.

Dia mencontohlan Vietnam yang menangguhkan kontrak baru untuk ekspor beras. Data BPS 2018 menyebutkan, Indonesia mengimpor 767.180 ton Beras dari Vietnam atau setara dengan 34 persen dari total impor beras. Kebijakan penangguhan kontrak baru untuk ekspor tentu memengaruhi ketersediaan beras dan harganya di Indonesia.

Sementara itu, pemerintah India telah menghentikan beberapa operasi di Pelabuhan besar mereka. Indonesia mengimpor Bawang dan Daging Sapi dari India, dan telah membuat kesepakatan untuk mengimpor 130.000 ton Gula pada awal 2020.

Kini impor gula dan daging Kerbau dari India terhambat. Hal ini juga turut berkontribusi pada tingginya harga gula dan daging sapi (yang akan disubstitusikan dengan daging kerbau) di Indonesia.

Felippa dalam siaran persnya menambahkan, perdagangan adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak resesi global akibat pandemi COVID-19. Untuk jangka pendek, perdagangan akan membantu memastikan pasokan kebutuhan medis dan keamanan pangan.

Baca Juga: Ketersediaan Komoditas Pangan Penting untuk Jaga Kestabilan Harga
Pentingnya Menghindari Krisis Pangan Dunia Akibat Pandemi Corona

Kebijakan proteksionis hanya akan menunda munculnya goncangan pada perekonomian. Membatasi ekspor hanya akan merugikan upaya global untuk mengatasi COVID-19. Penutupan ekspor berpotensi menyebabkan krisis pangan global karena kekurangan pasokan berkontribusi besar pada kenaikan harga pangan global.

“Sementara itu untuk jangka panjang, kita perlu memanfaatkan rantai nilai global (global supply chains) untuk mendorong pemulihan Ekonomi yang lebih cepat. Secara global kita melihat pengangguran massal dan tingkat kemiskinan meningkat. Memastikan pertumbuhan ekonomi sangat penting, dan perdagangan akan mendorong hal tersebut,” tandasnya.

Video Terkait