Pentingnya Menghindari Krisis Pangan Dunia Akibat Pandemi Corona

Ilustrasi ketahanan pangan (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 22 April 2020 | 06:29 WIB

SariAgri - Perdagangan dunia kini terancam akibat pandemi COVID-19 yang menyebar ke ratusan negara di dunia. Salah satu yang terpengaruh adalah Pangan dan pertanian. Dampaknya antara lain melambatnya produksi, terbatasnya akses transportasi dan logistik akibat ditutup atau dibatasinya saluran distribusi.

“Memastikan Ketahanan Pangan bagi Indonesia tentu tidak mudah. Indonesia masih berjuang melawan kelaparan pada tingkat “serius”, menurut Global Hunger Index 2019. Kekurangan pangan atau inflasi pangan akan membahayakan penduduk, terutama kaum miskin yang rentan yang bahkan pada hari-hari biasa dapat menghabiskan hingga 60 persen dari pendapatan mereka untuk makanan,” ujar Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta.

Negara-negara, termasuk Indonesia, memiliki dua pilihan terkait upaya memastikan ketahanan pangannya, yaitu menurunkan atau mempertahankan/meningkatkan hambatan perdagangan.

Negara-negara pengekspor harus terus mengekspor komoditas mereka. Sementara negara-negara pengimpor dapat membantu memfasilitasi itu dengan menurunkan hambatan perdagangan. Ini akan mendorong perdagangan pangan dan Pertanian global terus berlanjut meski dibayangi adanya tantangan logistik.

Namun perdagangan juga tidak boleh mengabaikan berbagai protokol terkait kesehatan dan keselamatan untuk memastikan keselamatan pekerja yang terlibat di dalamnya.

Felippa menambahkan, Indonesia membutuhkan kerjasama global meski diikuti risiko berhubungan dengan negara lain yang juga berjuang melawan pandemi COVID-19.

Dia mencontohkan Vietnam yang telah menangguhkan sementara kontrak Ekspor Beras baru karena khawatir dengan pasokan domestik mereka. Data BPS 2018 menunjukkan, Indonesia mengimpor 767.180 ton beras dari Vietnam atau setara dengan 34 persen dari total Impor beras.

Pemerintah India juga telah mengizinkan Pelabuhan utama mereka untuk menghentikan beberapa operasi karena pandemi COVID-19. Indonesia mengimpor Bawang dan Daging Sapi dari India, dan telah membuat kesepakatan mengimpor 130.000 ton Gula pada awal 2020 guna memenuhi permintaan. Penutupan ekspor berpotensi menyebabkan krisis pangan global karena kekurangan pasokan berkontribusi besar pada kenaikan harga pangan global.

“Di saat bersamaan, Indonesia ingin dan perlu mengimpor komoditas pangan lain, tetapi masih berjuang untuk mengimpor karena kebijakan proteksionis kita yang dipaksakan sendiri yang menambah keterlambatan yang mahal. Contohnya, impor gula, bawang putih, dan bawang bombai Indonesia telah tertunda karena kebijakan pembatasan impor dan telah menyebabkan harga melonjak,” tambahnya.

Penelitian CIPS menunjukkan proses impor beras yang cepat dapat membantu Bulog menghemat lebih dari Rp330 miliar antara tahun 2010-2017.

Baca Juga: Pentingnya Menghindari Krisis Pangan Dunia Akibat Pandemi Corona
Ancaman Krisis Pangan Global dan Dampaknya Bagi Indonesia

Dengan volatilitas Pasar pangan global dan dengan melemahnya nilai tukar rupiah menjadi sekitar Rp16.000 per dolar AS, keterlambatan pemrosesan impor dapat membebani pemerintah dengan biaya yang signifikan. Biaya ini dapat digunakan untuk peralatan medis dan peralatan pengujian COVID saat ini.

Felippa dalam siaran persnya menambahkan, langkah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang meminta Kementerian Perdagangan untuk sementara meringankan persyaratan Surat Persetujuan Impor (SPI) untuk sebelas komoditas pangan strategis sangat relevan dalam menyikapi kondisi saat ini.

Video Terkait