Nasib Ketahanan Pangan RI di Tengah Ancaman Resesi 2023

Ilustrasi lahan pertanian. (pixabay)

Editor: Dera - Selasa, 27 Desember 2022 | 16:30 WIB

Sariagri - Ketahanan pangan merupakan kekuatan suatu bangsa dan negara, lantaran berperan penting dalam kehidupan manusia. Namun ancaman resesi di tahun 2023 seakan menjadi tantangan berat yang harus dihadapi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. 

Sebagai negara agraris, Indonesia memang memiliki keunggulan tersendiri lantaran mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Bahkan, sektor pertanian Indonesia menjadi salah satu penopang ketahanan pangan hingga perekonomian nasional. 

Akan tetapi, masalah pangan yang dihadapi Indonesia cukup kompleks, mulai dari hulu ke hilir. Lalu, mampukah Indonesia menjaga ketahanan pangan di tahun 2023? 

Melansir faperta.unpad.ac.id, petani kerap dihadapkan pada tingginya biaya pupuk serta terbatasnya akses terhadap modal. Kemudian ketika melakukan usaha tani, mereka dihadapkan pada infrastruktur yang kurang memadai, teknologi pertanian yang sederhana dan pengetahuan yang terbatas.

Sementara ditahap panen dan pemasaran, petani juga dihadapkan pada masalah kepastian pasar yang tidak menentu. Akibatnya hasil produk pangan yang dihasilkan Indonesia masih jauh dari memuaskan untuk dapat mengatasi ketersediaan dan kecukupan pangan bagi masyarakat secara umum.  Artinya, perlu dilakukan berbagai upaya penanganan segera agar Indonesia tidak mengalami krisis pangan di tahun 2023. 

Luas Panen dan Produksi Padi Indonesia

Jika melihat data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), data luas panen dan produksi padi di Indonesia pada tahun 2021 mengalami penurunan. Di mana luas panen pada tahun 2020 mencapai 10,66 juta hektare, dan tahun 2021 hanya mencapai 10,41 juta hektare. Sementara untuk produksi padi tahun 2020 sebesar 54,65 juta ton GKG (Gabah kering Giling), sedangkan tahun 2021 hanya 54,42 juta ton GKG.

Namun pada tahun 2022, data yang dirilis sementara oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2022 menunjukan bahwa luas panen padi naik 0,19% menjadi 10,61 juta hektare. Sementara untuk produksi padi juga mengalami kenaikan sebesar 2,31% menjadi 55,67 juta ton GKG.

Meski mengalami kenaikan, Indonesia tak boleh lengah dalam menggenjot produksi padi. Pasalnya, meski sempat berhasil swasembada beras, nyatanya Indonesia akhir tahun ini justru melakukan impor beras, lantaran kurangnya Cadangan Beras Pemerintah (CBP). 

Tantangan dan Strategi Ketahanan Pangan

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Dedi Ruswandi mengatakan agroekosistem atau eksositem pertanian menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia. Untuk itu, pengembangan kawasan ini perlu diperkuat dan diperbanyak, mengingat Indonesia diberkahi keragaman varietas tanaman yang luar biasa dan mampu menghasilkan beragam bahan pangan.

Melansir unpad.ac.id, pengembangan agroekosistem di Indonesia ternyata menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari masifnya konversi lahan agroekosistem menjadi daerah permukiman, hotel, dan industri, kurangnya regenerasi petani, hingga penggunaan teknologi modern yang belum diaplikasikan dengan baik.

Menurut Dedi, ada empat strategi yang bisa dilakukan untuk mendukung agroekosistem demi menjaga ketahanan pangan. Sasaran tersebut, yaitu mengembangkan keragaman agroekosistem, tanaman, sistem pertanian, dan perlindungan HAKI keragaman. Selanjutnya, memperkuat SDM pertanian dari hulu ke hilir yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga adaptif terhadap perubahan.

Baca Juga: Nasib Ketahanan Pangan RI di Tengah Ancaman Resesi 2023
Bantu Negara Miskin, Putin Mengaku Siap Atasi Masalah Pangan Global

Pihaknya menekankan, penguatan agroekosistem perlu diperkuat dengan pemanfaatan teknologi modern mulai dari hulu hingga hilir, serta digitalisasi distribusi pemasaran terhadap produk pangan dan kuliner.

Seperti diketahui, dunia sedang mengalami krisis pangan yang berkelanjutan, di mana terdapat 115 juta penduduk dunia mengalami rawan pangan pada 2020, bahkan terjadi kenaikan prevalensi rawan pangan dari sekitar 12% di tahun 2021, dan menjadi 14% pada tahun 2022. Oleh karena itu, Indonesia harus memajukan sektor pertanian guna menjaga ketahanan pangan nasional di tahun 2023.