Tekan Inflasi, Mobilisasi Pangan dari Daerah Surplus ke Daerah Defisit

Pedagang berjualan beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Senin (7/11/2022). (Antara/Yogi Rachman)

Editor: Yoyok - Minggu, 27 November 2022 | 11:00 WIB

Sariagri - Menekan angka inflasi menjadi pekerjaan utama pemerintah saat ini. Berbagai upaya pun dilakukan guna menjaga harga pangan tidak bergejolak. Inflasi memang menjadi salah satu indikator sebuah negara menjaga perekonomian nasional.

Pemerintah sendiri menargetkan penurunan inflasi di November ini bisa tercapai seperti pada Oktober, yakni angka inflasi berada di posisi 5,71 persen, turun 0,25 persen dibanding September. Salah satu caranya, melakukan mobilisasi pangan antardaerah sehingga dapat mencegah kenaikan harga. 

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi bahkan telah meminta kepala daerah menghubungi langsung lembaganya bila membutuhkan fasilitasi mobilisasi pangan untuk menjaga stok dan stabilitas harga di daerahnya. 

Arief meyakini mobilisasi pangan dari daerah surplus ke daerah defisit efektif menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga komoditas pangan di daerah, terutama daerah terluar dan perbatasan.

Aksi mobilisasi pangan ini akan terus ditingkatkan, untuk itu para pimpinan daerah diminta berkoordinasi dengan Bapanas apabila membutuhkan pasokan komoditas pangan strategis yang dirasa kurang dan menjadi penyebab pertumbuhan inflasi di daerahnya. 

Arief menyampaikan, keterbukaan informasi untuk dapat menghubungi langsung Bapanas juga telah disampaikan di hadapan peserta Rapat Koordinasi Terbatas Tim Pengendali Inflasi Pusat Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) wilayah Sulawesi, Kalimantan, Papua dan Maluku terdiri atas 15 perwakilan gubernur bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di Pontianak, Kalimantan Barat pekan lalu. 

"Di sini ada Deputi 1 Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, apabila daerah bapak dan ibu memiliki kendala mengenai stok, kami bisa fasilitasi mobilisasi stok dari daerah surplus ke daerah defisit," ujarnya.

Kepala Bapanas itu menyebutkan hingga Jumat (24/11/2022), pihaknya telah melakukan fasilitasi mobilisasi pangan dari daerah surplus ke daerah defisit sebanyak 5 ribu ton untuk sejumlah komoditas, seperti beras, bawang merah, cabai keriting, cabai rawit merah, jagung, telur ayam ras, daging ayam ras, gula konsumsi, minyak goreng, livebird atau ayam hidup, dan sapi hidup. Dari sejumlah komoditas tersebut jagung menjadi komoditas dengan volume terbanyak sekitar 3.500 ton.

“Aksi tersebut dijalankan secara business to business (B2B) melalui sinergi antara Bapanas, Pemda, Asosiasi Petani dan Peternak, dan Pelaku Usaha,” jelas Arief.

Baca Juga: Tekan Inflasi, Mobilisasi Pangan dari Daerah Surplus ke Daerah Defisit
Bos Bulog Ribut Soal Stok Beras, di Gudang Ini Malah Hilang 500 Ton

Upaya mobilisasi pangan ini sejalan dengan hasil telaah Kemenko Perekonomian, yang menyebutkan tantangan utama pengendalian inflasi di daerah perbatasan perlu menjadi perhatian lebih terutama berkaitan dengan kelancaran distribusi, ketersediaan infrastruktur, dan ketersediaan pasokan. 

“Untuk meningkatkan volume pendistribusian pangan antar daerah kami terus berkomunikasi dengan Kemenhub dalam rangka optimalisasi Tol Laut. Saat ini telah diinventarisir potensi pangan daerah-daerah perbatasan agar kapal Tol Laut yang membawa pangan ke sana kembali ke dengan muatan pangan lokal,” ujarnya.