Guru Besar IPB Ungkap Masyarakat Belum Peduli dengan Masalah Alergi Pangan

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof Nurheni Sri Palupi

Editor: Yoyok - Minggu, 27 November 2022 | 10:00 WIB

Sariagri - Alergi pangan merupakan problem kesehatan klinis yang terus meningkat yang disebabkan karena alergen yang terdapat dalam berbagai bahan pangan sumber protein. Reaksi alergi dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada kulit, saluran cerna,dan saluran pernafasan, mulai dengan gejala ringan hingga berakibat fatal hingga menyebabkan kematian.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof Nurheni Sri Palupi mengatakan data prevalensi alergi secara nasional belum tersedia meskipun beberapa data alergi mulai dapat dihimpun dari beberapa rumah sakit atau klinik alergi. 

“Ada delapan bahan pangan utama sumber alergen yaitu susu, serealia yang mengandung gluten, kacang tanah, kacang pohon (nut tree), telur, kedelai, ikan dan kekerangan (shellfish),” ujarnya dalam dalam Konferensi Pers Pra Orasi di Bogor, pekan lalu (24/11/2022).

Menurutnya, kepedulian masyarakat Indonesia terhadap permasalahan alergi pangan masih relatif rendah. Umumnya masyarakat mengatasinya dengan cara menghindari konsumsi pangan yang mengandung alergen (pangan alergenik). 

“Jika kondisi tersebut berlangsung secara terus-menerus dikhawatirkan dapat berdampak buruk bagi pemenuhan kebutuhan protein, terutama pada bayi dan anak-anak yang sedang dalam usia pertumbuhan,” jelasnya.

Prof Nurheni mengungkapkan  alergen yang terkandung di dalam produk pangan merupakan tantangan tersendiri bagi industri pangan. “Penarikan produk pangan terkait alergen dari peredaran merupakan peristiwa yang tidak diinginkan karena selain berdampak pada kerugian finansial juga pada reputasi perusahaan,” paparnya.

Dia menambahkan, penerapan teknologi proses pengolahan pangan dapat menurunkan alergenisitas berbagai bahan pangan. Oleh karena itu, merupakan sebuah keniscayaan untuk dapat mewujudkan ketersediaan produk pangan hipoalergenik yang dapat diakses oleh penderita alergi dengan mudah dan terjangkau.

“Pangan antara seperti tepung-tepungan dari serealia dan kacang-kacangan, banyak digunakan sebagai bahan utama pembuatan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) yang diperuntukkan bagi bayi dan anak-anak. Oleh karena itu penting untuk mulai melakukan identifikasi dan memetakan teknologi atau cara pengolahan bahan pangan alergenik, untuk menghasilkan produk pangan hipoalergenik,” imbuhnya.

Ia menjelaskan pengembangan produk pangan hipoalergenik dapat berupa produk pangan olahan atau produk pangan antara. Produk ini menjadi bahan untuk mengolah produk pangan lainnya.

Selain itu, tambahnya, badan regulatori telah mengamanatkan pelabelan alergen utama pada produk pangan dalam kemasan untuk membantu konsumen memilih pangan yang aman (tidak mengandung bahan allergen). Namun demikian peraturan mengenai pangan hipoalergenik masih terbatas pada produk susu formula.

“Sejumlah tahapan pengujian umumnya diperlukan untuk mengkonfirmasi dugaan hipoalergenisitas pangan, yang dapat dilakukan, baik di perguruan tinggi maupun lembaga riset. Industri pangan juga telah menerapkan manajemen risiko sepanjang lini proses yang memungkinkan terjadinya kontak silang allergen,” Prof Nurheni menjelaskan.

Baca Juga: Guru Besar IPB Ungkap Masyarakat Belum Peduli dengan Masalah Alergi Pangan
Hati-hati! Konsumsi Protein Berlebihan Bisa buat Masalah pada Ginjal

Menurutnya, hal yang umum menjadi penyebab kontak silang adalah penggunaan peralatan proses antara bahan pangan alergenik dan bahan pangan nonalergenik secara bergantian, serta proses sanitasi yang kurang efektif.

“Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan alergi pangan, perlu kerangka kerja kolaboratif antara perguruan tinggi, industri pangan dan instansi pemerintah. Strategi pengembangan pangan hipoalergenik juga perlu segera dirancang untuk meningkatkan ketersediaan pangan yang sehat dan aman,” pungkas Prof Nurheni.