Indonesia Optimis Bisa Terlepas dari Ancaman Krisis Pangan

Ilustrasi petani di sawah. (Pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 3 November 2022 | 15:15 WIB

Sariagri - Krisis pangan bukan ancaman semata, beberapa negara bahkan sudah merasakan dampaknya secara nyata. Hal inilah yang tidak boleh diabaikan oleh Indonesia. 

Meski terbilang sebagai negara yang melimpah akan kekayaan alamnya, namun bukan berarti Indonesia menganggap 'enteng' krisis pangan. Pengamat Pertanian dari Universitas Gadjah Madha (UGM) Jaka Widada secara blak-blakan membeberkan bagaimana tanda-tanda krisis pangan sudah terlihat jelas, seperti iklim yang tidak menentu, hujan ekstrem, bencana alam dan lain-lain. Akibatnya petani gagal panen karena kebanjiran atau kekeringan.

“Itu sebenarnya tanda-tanda krisis pangan akan terjadi. Jumlah penduduk terus naik, sementara kenaikan jumlah pangan tidak seimbang dengan kenaikan jumlah penduduk," kata Jaka Widada dalam keterangan tertulisnya, yang dilansir dari laman ugm.ac.id.

Sementara itu, FAO sebagai badan pangan dunia memperkirakan di tahun 2050 penduduk dunia tembus 10 miliar. Jumlah penduduk yang sedemikian besar tersebut tentunya memerlukan pangan yang sangat luar biasa. Dan untuk mencegah terjadinya kelaparan, maka harus ada peningkatan produksi pangan.

Menurutnya, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan pemerintah untuk menghadapi krisis pangan, yaitu bagaimana upaya menghadapi perubahan iklim, pengembangan varietas yang adaptif, persoalan pupuk, persoalan perilaku tidak boros dan persoalan regenerasi petani.

DPR Wanti-wanti Pemerintah

Melihat resesi ekonomi di berbagai negara membuat Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan resah, lantaran hal tersebut bisa memicu krisis pangan di Tanah Air. Pihaknya pun meminta pemerintah untuk lebih waspada akan ancaman tersebut. 

“Saya mendesak pemerintah mewaspadai hal ini karena dari sisi stok pangan nasional di Bulog saja sekarang telah mengalami pelorotan drastis, demikian juga dengan ketersediaan pangan yang kondisinya mengkhawatirkan akibat harga yang tidak stabil saat ini,” ungkap Johan dalam keterangan tertulis, yang dikutip dari laman resmi DPR RI.

"Saya menekankan agar dimunculkan semacam Gerakan Kewaspadaan Nasional terhadap ancaman krisis pangan, hal ini agar negara tidak lalai terhadap hajat hidup rakyat Indonesia. Contoh kondisi yang harus diwaspadai dari sisi stok pangan, kita temukan per Oktober 2022 bahwa stok cadangan beras pemerintah di Bulog hanya sekitar 673 ribu ton padahal mestinya stok cadangan itu harus berkisar 1 juta hingga 1,5 juta ton beras setiap saat," tegasnya. 

Untuk itu, pihaknya mendorong agar anggaran sektor pangan dapat diperkuat untuk menjaga stabilitas pangan nasipnal. Terutama peningkatan produksi pangan oleh petani lokal.

“Kita tekankan agar kesejahteraan petani menjadi tantangan bagi Badan Pangan Nasional, menekan inflasi pangan harus didapat tanpa mengorbankan petani,” pungkasnya. 

Startegi RI Hadapi Krisis Pangan

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan Indonesia siap menghadapi ancaman krisis pangan dunia. Pihaknya mengaku sudah memiliki berbagai program dan cara untuk menghadapinya.

"Saya pastikan 12 bahan pokok strategis untuk beberapa bulan ke depan dalam kondisi aman. Bahkan, neraca pangan kita dalam tiga tahun terakhir menunjukan semua dapat berjalan baik," ungkap Syahrul, seperti dikutip dari laman instagram miliknya.

Adapun 12 bahan pokok itu, antara lain, beras, daging, bawang merah, bawang putih, cabe besar, cabe rawit, daging sapi, daging ayam, telur ayam, kedelai, minyak goreng dan juga gula pasir. Sementara untuk stok beras saat ini mencapai 10,2 juta ton dan masih akan bertambah lagi karena panen yang akan datang. Menurutnya, beras tak boleh ada permasalahan lantaran merupakan bahan pangan pokok masyarakat Indonesia.

"Sejauh ini, sistem ketahanan pangan kita cukup baik dan mendapatkan apresiasi dari Badan Pangan Dunia (FAO). Tidak hanya itu, ekspor pertanian kita juga tumbuh dengan baik," ungkapnya dengan penuh percaya diri.

Baca Juga: Indonesia Optimis Bisa Terlepas dari Ancaman Krisis Pangan
Krisis Pangan Dunia Dimulai Usai Rusia Mundur dari Kesepakatan Biji-Bijian

"Meski demikian, kita tetap harus bekerja keras. Kita harus terus petakan kebutuhan pangan ini, mana daerah produsen, mana daerah kekurangan, bagaimana mengatur ekosistem dan logistiknya," sambungnya.

Lebih lanjut Syahrul mengatakan, kolaborasi semua pihak harus diperkuat, terutama dengan para bupati dan gubernur. Karena untuk mengurus pangan ini, tak bisa hanya dari pusat saja, tetapi semua daerah harus turut menjaganya.

Video Terkait