Laporan Khusus: Jagung Tak Pernah Mengkhianati Hasil

Jagung Tidak Akan Mengkhinati Hasil (Sariagri/Faisal Fadly)

Editor: Yoyok - Jumat, 30 September 2022 | 14:00 WIB

Sariagri - Lagu Menanam Jagung ciptaan Saridjah Niung (1908-1993) atau yang dikenal Ibu Sud sudah pasti akrab di sebagian besar telinga masyarakat Indonesia. Sekalipun lagu lawas tapi mudah dihafal dan nadanya menggembirakan. 

Ketika itu, lagu anak-anak ini merupakan salah satu lagu wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah.Memperhatikan liriknya, lagu Menanam Jagung sesungguhnya ditujukan untuk menggairahkan generasi muda, terutama anak-anak, agar memanfaatkan pekarangan di rumah. 

Tersebutlah liriknya seperti ini: Ayo kawan kita bersama/ menanam jagung di kebun kita/ ambil cangkulmu, ambil pangkurmu/ kita bekerja tak jemu-jemu/ cangkul, cangkul, cangkul yang dalam/ tanah yang longgar jagung kutanam/ beri pupuk supaya subur/ tanamkan benih dengan teratur/ jagungnya besar lebat buahnya/ tentu berguna bagi semua/ cangkul, cangkul, aku gembira/ menanam jagung di kebun kita.

Hanya saja, popularitas Menanam Jagung kian menurun seiring perkembangan zaman. Boleh jadi, saat ini tak semua anak-anak menyukainya. Kalaupun dinyanyikan, itu pun sekadar saja.

“Lirik lagu Menanam Jagung sudah tidak cocok lagi. Anak sekarang mana mau menanam jagung di kebun? Kebunnya juga sudah tidak ada, sudah ganti jadi perumahan,” ujar pemerhati sosial dari Universitas Negeri Jakarta, Budiarti, kepada Sariagri.id, awal pekan ini.

Budiarti mengungkapkan, kian berkurangnya lirik lagu pendidikan yang dekat dengan lingkungan sekitar, seperti pertanian dan perkebunan, salah satunya terkait dengan kebijakan pembangunan nasional. 

“Kalau kebutuhan pertanian dan perkebunan selalu didatangkan dari luar negeri, mau tak mau kebergantungan kita pada impor jadi kian besar. Jadi menanam jagung di kebun kita sudah tidak bisa,” paparnya.

Hanya saja, Budiarti menyatakan bahwa biji-bijian, seperti halnya jagung tidak akan hilang dari peredaran. “Sejarah mencatat, jagung, beras, dan gandum merupakan kebutuhan pokok manusia. Jadi, walaupun pamor Menanam Jagung luntur tapi jagung tidak akan mengkhianati hasil, pasti selalu ada,” katanya.

Harapan kepada jagung menjadi tanaman kebanggaan bangsa tampaknya mulai memberikan sinyal terang. Terbukti, kebergantungan Indonesia pada impor jagung sudah berkurang. Bahkan, produksi jagung Indonesia surplus, sebuah keadaan yang belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, tepatnya sejak tahun 2017. Kalaupun masih impor untuk kebutuhan pangan dan minuman.

Kementerian Pertanian (Kementan) yang bertanggung jawab soal jagung mencatat produksi jagung nasional aman hingga akhir tahun 2022 dengan perkiraan mencapai 1,1 juta ton untuk jagung kadar air 27 persen dan 872 ribu ton untuk kadar air 14 persen.

"Produksi kita ini dari Januari sampai November relatif aman," kata Direktur Serelia Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Mohamad Ismail Wahab dalam sebuah webinar, pekan lalu.

Sementara kebutuhan jagung untuk pakan ternak dalam negeri mencapai 800 ribu ton per bulan, sementara produksi masih di atas 1 juta ton per bulannya.

Perkembangan Produksi Jagung Tahun 2019-2021 (Sariagri/Faisal Fadly)
Perkembangan Produksi Jagung Tahun 2019-2021 (Sariagri/Faisal Fadly)

Merujuk pada data Kementan, rata-rata produksi jagung sejak 2019 hingga 2021 meningkat 1,01 persen. Stabilitas produksi jagung disebabkan para petani sangat senang menanam jagung karena harga jual yang stabil dan tinggi sehingga menguntungkan.

“Komoditas jagung menjadi favorit petani lantaran pemerintah juga kerap memberikan bantuan berupa benih hingga sarana prasarana produksi,” jelas Ismail. 

Menurut Ismail, Indonesia sudah tidak impor jagung pakan sejak 2017. Impor jagung pakan terakhir dilakukan pada 2016 sebanyak 884 ribu ton.

Ekspor jagung pakan juga sudah dilakukan sejak 2017 dengan volume yang naik turun, yakni 1.878 ton pada 2017, 272 ribu ton pada 2018, 1.701 ton pada 2019, 64 ribu ton pada 2020, dan 2.538 ton pada 2021.

Namun, Indonesia masih melakukan impor jagung pangan untuk produk makanan dan minuman sebanyak 800 ribu ton dalam setahun.

Ismail mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menargetkan untuk swasembada jagung pada periode 2022 hingga 2024 dan menjadi negara pengekspor.

"Tahun 2023, tahun depan sudah disampaikan di depan DPR oleh Pak Menteri pada rapat kerja kemarin bahwa tahun depan kita targetkan swasembada jagung," katanya.

Berdasarkan data Kementan itu, Presiden Joko Widodo optimistis Indonesia bisa berhenti impor jagung dua atau tiga tahun lagi. Ia ingin negara yang dipimpinnya tak hanya swasembada beras, melainkan pangan lainnya.

"Insyaallah kita sudah tidak impor jagung dalam 2-3 tahun ke depan. Seperti beras yang sudah 3 tahun kita tidak impor. Yang dulu 7 tahun harus impor 3,5 juta ton jagung. Hari ini kita impor kira-kura 800 ribu ton. Ini sebuah lompatan yg besar sekali," ujar Jokowi, beberapa waktu lalu.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menambahkan Indonesia sudah tidak mengimpor jagung kecuali untuk kebutuhan bahan baku industri, seperti bahan pemanis.

"Saya ingin sampaikan bahwa bukan hanya beras yang sebenarnya kita sudah tidak impor, tetapi juga jagung, kecuali yang berkaitan dengan kebutuhan industri, termasuk pemanis dan lain-lain," ujar Mentan.

Saat ini, produksi jagung di Indonesia di atas 18 juta ton. Kendati begitu, sesuai perintah Presiden Jokowi, produksi jagung akan terus ditingkatkan untuk mencukupi kebutuhan domestik, termasuk industri, dan berupaya meningkatkan ekspor jagung.

Peningkatan produksi itu melalui intensifikasi lahan dan ekstensifikasi lahan. Sedangkan, untuk produksi pascapanen, Syahrul menyebut akan melakukan beberapa upaya seperti membangun sarana pendukung pascapanen seperti silo dan dryer.

"Tentu saja toksin (racun) dan lain-lain bisa dikurangi, sehingga kadar air di atas 20 persen, bisa kadar air 14 persen, sehingga sangat layak untuk di market atau di industri," katanya.

Sedangkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mendorong produksi jagung di lahan-lahan baru di Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara.

"Dengan total lahan seluas 141 ribu hektare (ha), dan 86 ribu hektare merupakan lahan baru," tandas Airlangga.

Perkembangan Luas Tanaman Jagung (Sariagri/Faisal Fadly)
Perkembangan Luas Tanaman Jagung (Sariagri/Faisal Fadly)

Swasembada Itu Petani yang Melakukan Bukan Pemerintah

Petani jagung panen. (Sariagri/Yongki)
Petani jagung panen. (Sariagri/Yongki)

Sementara pemerintah optimistis bakal swasembada jagung,  pakar pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB University), Dwi Andreas Santosa mengatakan untuk jenis jagung pakan sebenarnya bisa di tahun 2023. Namun, untuk mencapai target tersebut, harga jagung saat ini harus tetap stabil.

"Kalau harganya bisa diatas Rp4.000 per kilogram terus, kita bisa swasembada. Kebutuhan jagung pakan sekitar 8-10 juta ton itu bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri. Tapi kalau untuk urusan lain, seperti industri, pangan dan kebutuhan lainnya kita masih harus impor. Impor kita untuk jagung sekitar 1,2 juta ton. Jadi swasembada kita dipenuhi seluruhnya kebutuhan jagung nasional ya tidak mungkin," ujar Dwi kepada Sariagri,id.

Dwi menegaskan swasembada itu yang melakukan adalah petani bukan pemerintah. Nah petani ini kan sesuai dengan hitung-hitungan ekonomi mereka. “Jadi sebenarnya pemerintah terkait swasembada berperan kecil perannya," paparnya.

Dwi mengatakan hal terpenting untuk mencapai target swasembada adalah harga jual produk petani. Sebab, ketika harga jual produk petani baik, otomatis produksi komoditas yang bersangkutan juga akan meningkat.

Selain faktor harga jual, faktor iklim juga sangat mempengaruhi dari produksi jagung. Ia mengatakan apabila iklim sudah sesuai seperti sekarang, maka produktivitas semua tanaman, termasuk jagung juga akan meningkat.

"Parameter yang tidak bisa dikelola dan cukup besar bagi petani itu cuaca atau iklimnya. Ketika iklim baik seperti sekarang La Nina, kemarau basah, curah hujan sepanjang tahun kemudian air memadai harusnya produktivitas semua tanaman akan meningkat," jelasnya.

Sementara itu, untuk teknis budidaya seperti ketersediaan benih sebenarnya bukan menjadi tantangan yang berarti bagi petani. Pasalnya, kini sudah banyak tersedia benih yang berkualitas.

"Untuk budidayanya petani sudah pandai, apalagi untuk komoditas jagung. Jagung kita ini relatif tidak terlalu bermasalah terkait benih. Ketersediaan benih jagung kualitas sudah cukup banyak," ungkapnya.

Dwi mengungkapkan, apabila ingin swasembada berkelanjutan maka pemerintah wajib meningkatkan usaha tani. "Jadi swasembada sangat amat dipengaruhi harga di tingkat usaha tani. Kalau mau swasembada berkepanjangan, ya pemerintah bisa meningkatkan usaha tani secara baik. Kalau bisa dijaga itu otomatis bisa menghasilkan swasembada yang berkelanjutan," tandasnya.

Sementara Anggota DPR, Slamet Ariadi, mengatakan swasembada jagung bisa terlaksana apabila pemerintah serius menangani, bibit berkualitas, pupuk yang mudah dicari dan memberikan keuntungan bagi petani. Ia menekankan pentingnya jaminan terserapnya hasil panen bagi petani.

"Asalkan serius bisa (Swasembada jagung). Selama jaminan harga bagi petani tidak ada, maka petani tidak mau menanam jagung," terangnya.

Peta Jalan, Tata Kelola, Hingga Ekspor Jagung

Pemerintah sebenarnya serius meningkatkan produksi jagung guna memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. Bahkan pemerintah telah menyiapkan kebijakan terkait percepatan pengembangan jagung dengan menetapkan strategi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap (Peta Jalan) Jagung 2022-2024.

Di dalam peta jalan itu terdapat intensifikasi berupa peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi berupa perluasan areal tanam baru. Ini dilakukan guna peningkatan produksi jagung, baik untuk memenuhi ketersediaan di dalam negeri maupun memenuhi demand dari negara lain.

Selain pembukaan lahan baru, pemerintah juga mendorong intensifikasi, ekstensifikasi, hingga peningkatan pemasaran. Salah satu upaya yang dilakukan dalam ekstensifikasi adalah dengan mendorong bibit hasil rekayasa genetik (GMO) ataupun hibrida. 

Ada 14 varietas yaitu Pertiwi 3 F1, Bisi, NK Perkasa, Singa, Bima, Dahsyat, P36 dan lainnya.  Ini artinya hibrida itu berbasis hibrida nasional. 

Selain itu, pemerintah telah mendorong bibit unggul hibrida jagung yang dapat memproduksi antara 10,6-13,7 juta ton per hektare. 

Kementan juga telah menentukan 6 (enam) lokasi untuk peningkatan produksi jagung nasional, yaitu di Provinsi Papua, Papua  Barat, NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Provinsi Kalimantan Utara. Lokasi tersebut memiliki  luas lahan 141.000 hektare, di mana yang seluas 86.000 hektare merupakan areal tanam baru.

Lebih dari itu, pemerintah memperkirakan produksi jagung dengan Kadar Air (KA) 27,81 persen(Jagung Pipilan Basah di Petani) hingga akhir tahun bisa mencapai 25,3 juta ton. Sedangkan perkiraan produksi jagung dengan KA 14 persen (Jagung Simpan di Gudang) mencapai 18,7 juta ton. Sedangkan kebutuhan untuk industri, terutama industri pakan ternak sekitar 15 juta ton, sehingga masih ada cadangan jagung nasional sekitar 3 juta ton, yang diprioritaskan untuk cadangan kebutuhan nasional.

Sementara Badan Pangan Nasional menyampaikan perlu memperbaiki tata kelola nasional sebelum mencapai target swasembada jagung tahun depan. 

Direktur Ketersediaan Pangan Budi Waryanto menyebut BUMN pangan perlu dilibatkan dalam melakukan tata kelola. "Hingga saat ini masih dilakukan penyesuaian terhadap Perpres 48 tahun 2016. Untuk penugasan Bulog, mudah-mudahan bisa merepresentasikan tata kelola jagung kedepan," kata Budi.

Ke depannya, setelah dilakukan penyesuaian Perpres tersebut maka Bulog bakal diberikan mandat tambahan. Di mana saat ini hanya mengatur tata kelola beras, maka akan ada tambahan untuk jagung dan kedelai. "Jadi mudah-mudahan ini ada penguatan di BUMN pangan," terangnya.

Lebih lanjut, Budi mengungkapkan fasilitas untuk fungsi logistik juga dioptimalisasi, terutama untuk dryer dan silo yang sudah dimiliki oleh BUMN. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan melakukan percepatan penyelesaian CDC (corn drying center) Bulog untuk memperkuat cadangan jagung.

Kalangan swasta ternyata juga memperhatikan jagung. Sebab, harga jagung memang sedang oke-okenya belakangan ini, khususnya sejak konflik Rusia-Ukraina meluas. Tercatat, rata-rata harga jagung mengalami peningkatan, dengan update rata-rata harga pada bulan Juni 2022 mencapai 335,71 dolar AS per ton. Harga jagung internasional mencapai harga tertinggi pada April 2022 sebesar 348,17 per ton dan cenderung mengalami sedikit penurunan hingga Juni 2022.

Perkembangan Ekspor Impor Jagung (Sariagri/Faisal Fadly)
Perkembangan Ekspor Impor Jagung (Sariagri/Faisal Fadly)

Chief Sustainability Officer PT Seger Agro Nusantara, Widyantoko Sumarlin, mengatakan saat ini serapan jagung di dalam negeri sudah mengalami titik jenuh yaitu gudang-gudang pabrik pakan sudah penuh atau terjadi penurunan kuantitas penjualan pakan yang jatuh secara nasional.

Widyantoko mengatakan pabrik-pabrik pakan sudah tidak ada pembelian jagung kepada petani karena stok yang melimpah. Menurut Widyantoko, jika terjadi kecenderungan penurunan harga terus-menerus di sumber wilayah jagung akan berdampak buruk terhadap petani. Oleh karena itu dia menilai peluang ekspor terbuka lebar saat stok jagung melimpah.

“Kami sebagai penghubung mata rantai produsen antara petani dengan pabrik pakan ternak. Karena itu, bargaining position sama, hanya milik petani, kami sebagai price taker. Karena itu, kami memperhatikan harga di petani karena berharap tidak terjadi pergerakan harga yang menyebabkan petani tidak ada minat untuk menanam jagung,” kata dia.

Baca Juga: Laporan Khusus: Jagung Tak Pernah Mengkhianati Hasil
Hari Tani Nasional, Pertanian Perlu Fokus Pada Keberlanjutan dan Inovasi

Terkait ekspor, Kementan tampaknya tak mau buru-buru. Alasannya, volume produksi jagung pada September-Oktober cenderung melemah secara historis. Oleh karena itu, penjualan jagung ke luar negeri pada masa itu menjadi riskan lantaran volume konsumsi jagung di pihak peternak cenderung tidak berubah sepanjang tahun. 

Apa yang ada, jagung tampaknya akan segera membuahkan hasil. Kita pun berharap Oktober 2022 mendatang terjadi masa panen raya. Ayo kawan kita bersama/ menanam jagung di kebun kita/ ambil cangkulmu, ambil pangkurmu/ kita bekerja tak jemu-jemu. (yoyok bp/rashif usman)

Video Terkait