Selisih Harga Kedelai Dilanjutkan, Harga Tahu Tempe Tetap Naik

Ilustrasi tempe. (Pixabay)

Editor: Yoyok - Rabu, 28 September 2022 | 16:30 WIB

Sariagri - Perajin tahu tempe tetap akan menaikkan harga sekitar 30 persen meski bantuan selisih harga kedelai Rp1.000 per Kilogram (Kg) kembali dilanjutkan pemerintah. Alasannya, harga kedelai selama dua bulan terakhir mengalami kenaikan Rp2.000 per kg menjadi Rp13.000 per kg. 

Ketua Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin, meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) turut mengkomunikasikan kenaikan harga tahu tempe kepada masyarakat. “Kami meminta Kemendag turut meng-exposure kenaikan ini,” ujar Aip seperti dikutip sejumlah media, Rabu (28/9/2022). 

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga kedelai per 26 September 2022 sebesar Rp14.200 per Kg. Harga kedelai hari ini naik 14,51 persen dibandingkan harga kedelai pada 24 September 2021 senilai Rp12.400. Kenaikan harga kedelai tertinggi terjadi pada 2021 atau sekitar 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Aip menjelaskan kenaikan harga kedelai telah mengurangi sekitar 30 persen produktivitas perajin tahu tempe. Sebab, pasokan kedelai untuk perajin berkurang cukup drastis. 

“Perajinnya tetap, tapi produksi turun. Makanya, sekarang pendapatan turun, gizinya turun banyak kelaparan dan lain lain. Karena tidak ada penghasilan lain selain tempe tahu. Biasanya dapat 100 kg, sekarang cuma 70 kg. Dari 70 kg, jadi 50 kg,” tutur dia. 

Dengan dilanjutkannya penyaluran bantuan selisih harga kedelai, Aip berharap dapat menekan beban produsen tahu tempe. 

Menurutnya, program subsidi selisih harga kedelai dapat menekan harga tempe menjadi Rp12.000 - Rp15.000 per Kg. Pada Apil-Juli 2022, tempe di pasar masih dijual Rp11.000 - Rp14.000 per Kg. 

Sebelumnya, Perum Bulog ditargetkan mensubsidi selisih harga senilai Rp1.000 per kg pada April-Juli 2022 untuk 800.000 ton kedelai. Tetapi, realisasi program tersebut hanya 10 persen dari target atau sebanyak 80.000 ton. 

Aip menjelaskan minimnya realisasi tersebut disebabkan oleh kelalaian koperasi pengrajin tahu-tempe dalam memperbarui NIB-nya masing-masing. “Selain juga sulitnya mengurus NIB di daerah-daerah karena birokrasinya ribet di Dinas Koperasi. Ada masalah inilah, petugasnya pergilah,” imbuhnya. 

Baca Juga: Selisih Harga Kedelai Dilanjutkan, Harga Tahu Tempe Tetap Naik
Potensi Ketegangan Baru di Laut Hitam Picu Harga Gandum Meroket

Saat ini, provinsi dengan koperasi perajin tahu-tempe yang telah memiliki NIB baru mencapai 16 provinsi. Oleh karena itu, Aip meminta agar penyaluran subsidi tersebut tidak mensyaratkan koperasi untuk menunjukkan NIB. "Yang penting dia perajin, ya diberikan. Itu yang kami minta kepada Kemendag kemarin saat pertemuan," ucapnya. 

Aip menilai langkah tersebut akan membuat penyaluran kedelai dengan subsidi selisih harga dapat mencapai 200.000 ton per bulan hingga Desember 2022. Artinya, Gakoptindo menargetkan penyaluran kedelai bersubsidi dari saat ini hingga akhir 2022 setidaknya sebanyak 600.000 ton.

Video Terkait