Di Tengah Ancaman Kekeringan, Argentina Kembangkan Gandum Rekayasa Genetika

Ilustrasi ladang gandum. (Foto: Unsplash)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 21 September 2022 | 13:30 WIB

Sariagri - Perubahan iklim telah menyebabkan kekeringan parah di Cina, Amerika Utara dan Eropa hingga merusak panenan gandum dan tanaman biji-bijian lainnya. Sementara perang antara Rusia dan Ukraina telah mengacaukan rantai pasokan makanan global.

Di tengah kekacauan situasi ini, Argentina mencoba peluang untuk mengembangkan gandum hasil rekayasa genetika meski masih menuai kontroversi.

Di ladang dekat kota pertanian Argentina Pergamino, tunas gandum hijau runcing membentang dalam barisan rapi ke cakrawala. Seorang petani gandum berharap bisa meningkatkan hasil tanaman biji-bijian itu berkat satu gen yang dipinjam dari bunga matahari, yang diklaim lebih mampu bertahan dari kekeringan.

Ladang tersebut adalah salah satu dari lusinan ladang yang menumbuhkan galur gandum yang dimodifikasi secara genetik (GM) yang disebut HB4. Gandum ini dikembangkan oleh perusahaan lokal Bioceres (BIOX.O) dan ilmuwan negara bagian. Pemerintah Argentina, pengekspor gandum No. 6 dunia, menyetujui penanaman komersial untuk HB4 pada tahun 2020. Ini adalah galur gandum GM pertama di dunia yang menerima persetujuan tersebut, demikian reuters.

Kontroversi

Para pendukung tanaman hasil rekayasa genetika ini mengatakan, gandum HB4 selain tahan kekeringan juga dimodifikasi untuk mentolerir herbisida glufosinate-amonium, sehingga dapat diandalkan untuk dapat membantu menangkal kekurangan pangan akibat perubahan iklim dan kekacauan pasokan global saat ini.

Di sisi lain, banyak kelompok lingkungan dan konsumen telah menolak gandum HB4, karena takut akan efek samping yang tidak terduga dari perubahan genom dalam biji-bijian yang digunakan dalam roti, pasta, dan makanan pokok lainnya itu. Meski, modifikasi genetik telah lama digunakan pada kedelai dan jagung, terutama digunakan untuk pakan ternak.

"Ada beberapa ketidaktahuan tentang apa itu transgenik, itu bukan monster," kata Raquel Chan, ahli biokimia dan peneliti di Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah dan Teknis (CONICET) yang memimpin pengembangan strain HB4.

Baca Juga: Di Tengah Ancaman Kekeringan, Argentina Kembangkan Gandum Rekayasa Genetika
Perubahan Iklim Sebabkan Lonjakan Harga Gandum? Ini Penjelasannya



Dia menjelaskan tanaman itu "hampir tidak bisa dibedakan" dari gandum biasa, tapi bisa lebih baik dalam mentolerir kekurangan air karena gen ekstra yang diedit dari tanaman bunga matahari.

HB4 diklaim dapat meningkatkan hasil panen hingga 20% dibandingkan gandum biasa di bawah kondisi kering dan hangat, menurut makalah akademis 2020 yang diterbitkan di Frontiers in Plant Science, di mana Chan adalah salah satu penulisnya.

Komersialisasi

Menurut penelurusan reuters, Bioceres adalah perusahaan yang akan memimpin komersialisasi gandum HB4 secara global. Perusahaan tersebut telah memperoleh persetujuan di Brasil, Nigeria, Australia, dan Selandia Baru. Bioceres mengatakan sedang mencoba untuk mendapatkan persetujuan komersial dari pemerintah AS dan Australia untuk menanam gandum HB4 di negara-negara tersebut.

Sementara Indonesia yang disebut sebagai salah satu pembeli utama gandum Argentina, manyatakan belum akan membeli gandum rekayasa genetika HB4 tersebut. Hal ini dikatakan Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Ratna Sari Loppies kepada reuters. Alasannya untuk menghindari dampak "negatif" pada ekspor produk olahan gandumnya di kemudian hari.

Video Terkait