Pahami! Ini 5 Kesalahpahaman Soal Gula yang Kerap Diangap Bahan Berbahaya

Ilustrasi gula. (Pixabay)

Penulis: Gloria, Editor: Reza P - Selasa, 20 September 2022 | 19:00 WIB

Sariagri - Gula seringkali disalahkan sebagai penyebab dari sejumlah penyakit. Padahal, tubuh juga membutuhkan asupan gula yang pas dan tidak berlebihan.

Melansir dari laman Mental Floss, banyak orang yang seringkali menganggap gula sebagai bahan yang berbahaya. Bahkan, gula sering dinilai negatif.

Berikut ini kesalahpahaman soal gula yang kerap salah kaprah dimengerti.

1. Gula pada buah

Kesalahpahaman soal gula sering terjadi pada rasa manis yang ada di buah-buahan. Banyak orang menilai buah-buahan harus dihindari karena kandungan gulanya. Padahal buah merupakan makanan ringan yang padat nutrisi dan penting untuk tubuh manusia.

Selain serat, buah juga kaya akan vitamin, mineral dan antioksidan. Meski mengadung gula alami seperti fruktosa, kandungan ini akan dipecah lebih lambat dalam tubuh dibandingkan karbohidrat olahan.

Pedoman diet resmi untuk masyarakat Amerika merekomendasikan untuk mengonsumsi minimal 1,5 hingga dua cangkir buah setiap hari. Makan sayur dan buah diketahui memiliki efek positif pada kesehatan termasuk penyakit kardiovaskular seperti kanker, diabetes tipe 2 dan obesitas.

2. Pemanis buatan

Kesalahpahaman soal gula juga meliputi pemanis buatan yang dianggap sama. Gula alami ditemukan dalam makanan utuh seperti buah-buahan dan sayuran. Pemanis buatan, di sisi lain, dikembangkan di laboratorium dengan tujuan memberikan rasa manis gula tanpa kalori. Makanan dengan pemanis buatan biasanya tidak mengandung vitamin, mineral, dan serat yang didapatkan dari buah dan sayuran utuh.

Gula buatan telah menjadi kontroversi, dengan konsumsi beberapa jenis pemanis ini telah dikaitkan dengan diare kronis dan metabolisme yang terganggu. Konsumsi gula tambahan atau pemanis palsu yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Untuk menghindarinya, pilihlah makanan dan minuman tanpa tambahan pemanis apapun.

3. Hilangkan semua asupan gula

Kesalahpahaman soal gula juga meliputi keinginan untuk menghilangkan semua kandungan gula dari asupan makanan. Padahal, tubuh tetap membutuhkan gula. Bahaya bagi kesehatan dan kesejahteraan seseorang ditemukan dalam mengonsumsi terlalu banyak gula.

Karbohidrat dari makanan berubah menjadi glukosa dalam tubuh. Sel-sel kemudian menarik glukosa dari aliran darah dan menggunakannya sebagai sumber bahan bakar dan energi.

ika kita menghilangkan semua gula dari makanan kita, tubuh kita akan masuk ke "mode kelaparan", memaksa tubuh kita bekerja lebih keras untuk menemukan sumber energi alternatif—yang pada akhirnya dapat memengaruhi fungsi otak. Kekurangan glukosa dalam tubuh juga dapat menyebabkan sakit kepala, kelelahan, dan kabut otak.

4. Konsumsi gula merusak kebugaran

Konsumsi gula seringkali dikaitkan dengan rusaknya kebugaran. Banyak orang percaya bahwa konsumsi gula sebelum, selama, atau setelah berolahraga adalah hal yang tidak boleh. Tetapi makan karbohidrat sebenarnya dapat meningkatkan komposisi tubuh dan kinerja olahraga jika dikonsumsi pada interval tertentu sebelum atau sesudah aktivitas fisik.

Meskipun penelitian lebih lanjut tentang efek ini diperlukan, beberapa atlet menyarankan itu juga dapat membantu memperbaiki jaringan yang rusak dan memulihkan cadangan energi.

Sementara makanan manis tidak boleh menjadi bagian terbesar dari diet karena berbagai alasan, termasuk peningkatan risiko terkena diabetes tipe 2 atau potensi masalah jantung, menikmatinya dalam jumlah kecil memberi kita sesuatu untuk dinanti.

Dan makan camilan manis bahkan bisa bermanfaat. Tubuh membutuhkan karbohidrat, yang diubah menjadi glukosa, untuk bahan bakar latihan, memaksimalkan kinerja Anda, dan membantu seseorang pulih dari latihan lebih cepat.

5. Dikaitkan dengan gula darah

Saat membuat pilihan gaya hidup dan kesehatan, kita sering hanya fokus pada makanan. Kita menghindari gula halus dan tambahan dan memeriksa kandungan vitamin, mineral, serat, dan protein dari pilihan makanan untuk menyeimbangkan kadar gula darah dan tetap sehat.

Beberapa orang dengan cepat menyalahkan gula atas lonjakan gula darah mereka, tetapi ada lebih banyak cerita: tingkat aktivitas, stres, dan penyakit juga dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Ada beberapa pelaku lainnya juga.

Ketika berbicara tentang gula, perdebatan tentang pemanis buatan masih berkecamuk, dengan beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka dapat meningkatkan kadar gula darah. Kafein dalam makanan dan melewatkan makan juga dapat memiliki efek negatif pada gula darah. Anehnya, sengatan matahari, dehidrasi, penyakit gusi, merokok, dan kurang tidur juga dapat membuat kadar gula darah tetap stabil.

Video Terkait



Baca Juga: Pahami! Ini 5 Kesalahpahaman Soal Gula yang Kerap Diangap Bahan Berbahaya
Dokter Ungkap Bahaya Gula Pasir Anjurkan Berhenti Mengonsumsinya